Polemik Seni

Polemik Seni

Oleh: Arif Munandar Riswanto*

BEBERAPA minggu ke belakang, umat Islam dibuat PR baru dengan dua kejadian besar—global dan lokal—yang berlatang belakang seni. Pertama; Pemuatan karikatur Nabi oleh Jyllands Posten dan sejumlah media massa-media massa Barat lainnya. Kedua; Rencana penerbitan majalah Playboy edisi Indonesia. Dua kejadian tersebut membangunkan kembali ingatan kita tentang relasi seni dan agama. Apakah seni bebas nilai (free value) atau tidak?

Berbicara seni ala Barat adalah berbicara batasan di dalam Islam. Dengan demikian, menurut Islam, seni tidak bebas nilai. Di dalam Islam, seni diikat oleh aturan yang telah final. Ikatan tersebut tidak linear dengan falsafah liberalisme yang menjadi landasan epistemologi Barat dalam memandang seni. Liberalisme mengajarkan bahwa manusia adalah pusat, segala-galanya, dan tidak diikat oleh wahyu (antroposentris). Tidak heran, jika ideologi-idelogi modern produk Barat semisal HAM, demokratisasi, gender equality, kebebasan berekspresi, dll. adalah ideologi-ideologi yang berpusat kepada manusia an sich.

Jadi, sebenarnya permasalahannnya telah sangat jelas. Meskipun dengan dalih seni, tetapi aurat yang diekspolitasi untuk mengeruk limpahan materi dan membangunkan syahwat pria tetaplah aurat dan hukumnya haram. Aurat dan penghinaan Nabi tetaplah aurat dan penghinaan. Ia tidak bisa dijustifikasi dengan dalih seni, keindahan, dan kebebasan. Kaidah fiqih mengajarkan bahwa menghukumi sesuatu adalah dengan substansi dan isi, bukan dengan kulit dan nama (al-‘ibrah bil maqashid wa al-musammayyat la mil mazhahir wa al-asma’/al-‘umur bi maqashidiha). Jika Islam melarang sesuatu, wasilah-wasilah yang mendukung pengharaman tersebut pun dilarang (an-nahyu `an syain nahyun bi wasa’ilihi/ ma yufdhi ila al-haram fa huwa al-haram). Hal-hal yang halal telah jelas, dan hal-hal yang haram telah jelas. Allah hanya menghalalkan hal-hal baik saja (thayyibat). Sedangkan hal-hal yang bisa mengakibatkan kehancuran, eksploitasi wanita, zina, dekadensi moral, kerusakan generasi, dll. adala` hal-hal yang diharamkan oleh-Nya (QS 7: 157).

Pandangan seperti ini tidak lantas menjadikan seni sebagai hal yang akan “dikerangkeng” oleh Islam. Karena terbukti, dalam masa kosmopolitan peradaban Islam, seni Islam berkembang dengan sangat menakjubkan. Namun, seni tersebut tetap dibatasi oleh akhlak Islam yang taken for granted. Untuk itu, patung, karikatur Nabi, lukisan telanjang dll., tidak pernah berkembang dalam tradisi seni Islam sepanjang empat belas abad. Tradisi ini baru berkembang—dan dijustifikasi dengan dalih seni—pada masa sekarang saja. Setelah ekspansi Barat yang jor-joran kepada seluruh ranah kehidupan modern umat Islam.

Seni Islam adalah seni yang diwarnai oleh ruh “Sesungguhnya Allah Mahaindah, Dia menyukai keindahan” (HR. Muslim). Bahkan, di balik semua itu, Al-Quran mengajak manusia untuk merenungi seni mahaindah dalam bentuk kumparan semesta alam—tumbuhan, binatang, antariksa—yang hanya diciptakan oleh Allah. Inilah seni yang sebenarnya, indah, memberi hiburan jiwa, dan bisa menjadikan sebuah peradaban maju.

Dalam “Ats-Tsaqafah Al-Islamiyyah baina Al-Ashalah wa Al-Mu`ashirah,” Yusuf Qaradhawi menyarankan sebuah kacamata pandang yang harus kita tolak, yaitu justifikasi (tabrir). Pandangan seperti ini biasanya ingin menjustifikasi realitas yang menyimpang dari ajaran Islam dengan menggunakan berbagai dalih. Terlebih lagi, kita tidak bisa menerima jika justifikasi tersebut justru menggunakan teks-teks Al-Quran dan hadits yang menyalahi kaidah-kaidah bahasa Arab dan konsensus universal umat Islam (ijma`) selama ratusan abad. Sehingga, dengan pisau pandangan seperti ini, yang haram bisa menjadi halal dan yang benar bisa menjadi salah.

Hal-hal yang terjadi pada dasawarsa sekarang ini tiada lain menunjukkan bahwa pemikiran, politik, ekonomi, negeri, agama, peradaban, seni dll. kita masih diduduki oleh bangsa lain. Sebagaimana disinyalir oleh Ibnu Khaldun, bangsa yang diduduki adalah bangsa yang kalah. Ia selalu mengikuti segala model bangsa yang menduduki dan menang. Sebagai sebuah kekuatan hegemoni yang besar, ranah-ranah tersebut ingin dinetralkan, diliberalkan, direlatifkan, dan disekularkan dari sebuah nilai, ideologi, dan agama. Mahabenar Allah ketika Dia berfirman bahwa manusia akan menjadi sangat arogan jika mereka merasa cukup dengan dirinya sendiri dan tidak merasa butuh terhadap bimbingan wahyu (antroposentris/QS 96: 6-7). Wallahu a`lam bish-shawab.

* Pemred Jurnal Al-Furqan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s