Radiasi Pornografi

Radiasi Pornografi

(Bias Bayang Gelap Indonesia; Terbitnya Playboy Versi Indonesia)

Saat ini, berbagai opini mulai beredar, menyusul isu penerbitan majalah “Playboy Indonesia”. Merupakan isu hebat dan cukup fantastis memang, karena selain mendapat ranking pertama sebagai negara terkorup di Asia, Indonesia telah ‘berhasil’ menjadi negeri kedua di Asia setelah Jepang yang mendapat kepercayaan dari manajemen Playboy pusat untuk menerbitkannya dalam bahasa lokal. Sementara, di sisi lain Indonesia harus tetap puas di peringkat akhir mengenai investasi dan pengembangan sumber daya manusia (human developement).

Majalah dengan logo kelinci bertuksedo ini merupakan alternatif objek pelampiasan para pria berlibido tinggi dan haus akan seks. Bagaimana tidak, gambar-gambar yang disuguhkan didalamnya cukup membuat mata terbelalak. Perlu diketahui, logo kelinci tersebut didesain oleh Art Paul. Yang memiliki pesan konotasi humor seksual yang dinggi, berkesan periang dan suka bermain-main, sesuai dengan tabiat kebinatangan kelinci. Jika direnungkan, maka dapat diambil kesimpulan bahwa imej dan atributnya tidak bisa dilepaskan dari erotisme, seksualitas, eksploitasi perempuan, dan lain-lain. Adakah pesan moral yang akan disampaikan Playboy untuk para penggemarnya, selain hal-hal yang negatif?

Berkaitan dengan hal itu, nampaknya kita perlu melakukan berbagai proses perenungan dan kontemplasi. Saat ini, tidak sedikit orang yang menyambut gembira akan isu ini. Dimana dengan munculnya isu ini –menurut mereka- berarti Indonesia telah benar-benar memahami arti kebebas!n. Anggapan yang sama sekali jauh dari tolak ukur kebenaran agama. Lalu biasanya, mereka memulai apologinya dengan ungkapan “alah, jangan sok suci lah!!” Atau ungkapan “Kita khan harus menjunjung tinggi kebebasan pers !”. Dan berbagai reaksi spontanitas lainnya tentang tata nilai sosial, yang seharusnya membuat kita mengurut dada. Inilah potret realita yang terjadi saat ini di negeri yang bernama Indonesia.

Isu peluncuran Majalah Playboy merupakan buah reformasi yang kebablasan dan tanpa kontrol yang prima. Hal ini senada dengan penuturan Iwan Qodar Himawan di majalah Gatra Nomor 12 Beredar Senin, 23 Januari 2005, bahwa di era 1969 dan awal 1970-an, pasca kejatuhan Presiden Soekarno, majalah mingguan dan majalah hiburan menjamur. Ketika itu majalah-majalah tersebut tidak malu-malu menampilkan gambar wanita separuh bugil dan cerita-cerita yang mendeskripsikan seks secara eksplisit dan vulgar. Majalah Playboy Amerika pun terbit selepas Perang Dunia II dimana politik saat itu masih dalam masa merangkak.

Sebenarnya, “Playboy Indonesia” pun tidak bisa dilepaskan begitu saha dari norma dan atribut yang selama ini melekat di pusatnya, jauh dari adat beradab. Dan sejauh apapun apologi yang disampaikan, nampaknya menjAdi mustahil ketika Playboy melepaskan atribut aslinya di Indonesia saja. Sama halnya dengan ungkapan Habib Rizzieq Shihab Ketua Umum FPI, yang memaparkan bahwa dirinya tidak percaya sepenuhnya dengan Playboy versi Indonesia yang tidak menampilkan sajian “telanjang”. Bertentangan dengan apa yang dipaparkan oleh Ponti Carolus sang Director, bahwa Playboy Indonesia tidak mengikuti Playboy versi Amerika. Pernyataan ini juga didukung oleh Bagian Promosi PT Velvet Silver Media (penerbit majalah Playboy Indonesia), Awianto Nugroho, bahga mainstream Playboy versi Indonesia akan lebih diperkaya oleh artikel-artikel saja. Beberapa majalah lainnya yAng berhaluan searah selain Playboy, memang sudah beredar di Indonesia , diantaranya ad!lah FHM Indonesia, Sexy, Marta and Popular. Namun, mereka kalah pamor dengan terbitnya Playboy Indonesia, sehingga aksi protes dengan terbitnya majalah ini lebih gencar daripada sebelumnya. Dan hal ini juga bukan berarti mengamini beberapa majalah yang senada sebelumnya. Hanya saja ketika Playboy memiliki hak untuk terbit di Indonesia, hal ini akan melahirkan “bayi-bayi” yang lebih ganas dari sekedar pose-pose “baju irit” saja, atau mungkin bahkan akan ada kontes yang lebih parah dari itu, seperti kontes “ratu Telanjang” di Indonesia, misalnya.

Sekarang, marilah kita kumandangkan sejak dini opini publik (second opinion) mengenai dampak buruk dari menjamurnya pornografi dan pornoaksi. Ini sudah menjadi tanggung jawab kita bersama selaku anak bangsa yang bermoral dan beradab. Penulis yakin, bahwa setiap agama pasti melarang setiap pemeluknya melakukan tindakan-tindakan yang tidak sesuai dengan fitrah kemanusiaan. Seluruh agama akan mengajarkan keluhuran budi pekerti, dan akhlak yang terpuji. Karena, disadari maupun tidak, sebagian fenomena dekadensi moral dan patologi sosial itu terjadi akibat dari pornografi dan pornoaksi.

Nampaknya radiasi pornografi, semisal lunturnya budaya-budaya ketimuran dan norma agama, sudah mulai menyebar kemana-mana, dan pastinya hal ini akan menimbulkan “kompensasi” yang sangat gawat. Bahkan akan menimbulkan dampak susulan yang lebih parah lagi dari radiasi ini. Maka, sebaiknya kita memulai untuk menata negeri ini dengan fragmen akhlak yang selaras dengan tensi-tensi religi. Kemudian, yanc harus dipikirkan juga adalah, aksi protes pun harus dilancarkan dengan gerakan persuasif yang tertata rapih lagi santun. Tidak hanya asal kena, dan akhirnya malah membuat rugi dira sendiri, terlebih membuat rugi orang lain. Wallâhu a’lam bishshawâb.

By Pwk. PP. Persis Mesir Posted in Opini Tagged

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s