Virus Itu Bernama Wanita

Virus Itu Bernama Wanita

Oleh: Ganna Pryadharizal Anaedi Putra *

Pro-kontra seputar penerbitan majalah Playboy edisi Indonesia masih terus berlanjut. Menurut dugaan penulis, wajar saja mereka berani untuk menerbitkan majalah tersebut, karena mungkin -selain euphoria jurnalisme dan dunia penerbitan- mereka berasumsi bahwa sekaranglah kondisi yang tepat, untuk menerbitkannya. Kondisi dimana umat Islam Indonesia sangat jauh dengan nilai-nilai keislaman, kondisi dimana mayoritas penduduknya (moslem state) sudah tidak lagi ‘mengenal’ al-Quran dan as-Sunnah, kondisi dimana kebanyakan penduduknya lebih tertarik untuk mengekor Barat (westernisasi).

Miris memang, disebuah negara yang tergolong sebagai negara dengan jumlah penganut Islam terbanyak dimuka bumi, terbit sebuah majalah yang citra dan atributnya tidak bisa dilepaskan dari pornografi dan permisifisme.

Jika kita renungkan, menyeruaknya dekadensi moral di Indonesia, ternyata tidak bisa dilepaskan dari kebobrokan dan ‘kekurangajaran’ para penduduknya. Jadi bukan hanya akibat konspirasi eksternal namun juga dari internal. Salah satu faktor internalnya adalah wanitanya itu sendiri, ketika para wanita sudah tidak lagi mengindahkan syariat dan lepas dari nilai-nilai kepribadian Muslimah. Sederhananya, wanita juga punya andil dosa dalam persoalan tersebut. Kenapa kok acapkali mau saja dieksploitasi dan ‘diperjual-belikan’. Kenapa para wanitanya tidak bisa memposisikan dirinya sebaik mungkin.

Di negara-negara Barat, salah satu hukuman pidana yang paling berat adalah hukuman untuk tindak kejahatan pemerkosaan, namun ironisnya para wanita dan remaja putrinya justru ‘melegitimasi’ tindak kejahatan tersebut. Dengan cara berpakaian tidak senonoh –di negara-negara Barat, yang dikategorikan porno adalah telanjang dari pusar kebawah, sedangkan pusar keatas tidak termasuk porno- kemudian ucapan-ucapan yang merayu, dan segala tindak-tanduk yang melecut syahwat para laki-laki, secara tidak langsung para wanita telah membenarkan tindak kejahatan tersebut.

Wahai wanita, tahukah kalian bahwa gejolak nafsu seksual para pemuda yang tidak tertahan itu dipicu oleh kecantikan kalian yang tak disembunyikan. Sadarkah kalian bahwa dekadensi moral yang terjadi saat ini dikarenakan jentikkan menggoda mata kalian. Mengertikah kalian bahwa tindak perkosaan dan pelecehan seksual itu terjadi dikarenakan lekukan dan lenggak-lenggok tubuh molek kalian. Wahai wanita relakah kecantikan dan kemolekan tubuh kalian dinikmati oleh setiap orang? Tahukah bahwa mayoritas penghuni neraka adalah wanita?

Maka, salah satu perintah solutif Islam adalah, perintah kepada setiap wanita untuk mengenakan hijab atau jilbab (QS. al-Ahzâb: 59 & an-Nûr: 30-31), dan melarang untuk tabarruj. Dalam surat an-Nisâ ayat 34, Allah menerangkan ciri-ciri wanita shalihah, diantaranya yaitu, fashshâlihâtu qânitâtun. Wanita yang sholehah adalah wanita yang taat (qânitât) kepada Allah dan suaminya. Dengan demikian, salah satu identitas muslimah yang paling fundamental adalah hijab, karena hijab merupakan perintah Allah. Konsekwensi logisnya, jika ingin tergolong wanita shalihah maka harus mentaati perintah Allah.

Rasulullah bersabda; “Dua kelompok termasuk penghuni neraka, aku (sendiri) belum pernah melihat mereka, yaitu orang-orang yang membawa cemeti seperti ekor sapi, dengannya mereka mencambuki manusia , dan para wanita yang berpakaian (tetapi) telanjang, bergoyang-goyang dan berlenggak-lenggok, kepala mereka (ada sesuatu) seperti punuk unta yang bergoyang-goyang. Mereka tentu tidak akan masuk surga, bahkan tidak mendapatkan baunya. Dan sesungguhnya bau surga itu tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian ” (HR. Muslim).

Dalam buku “Mâ al-Mâni’u Min al-Hijâb”, Syaikh Abdul Hamid Bilaly, menegaskan bahwa, dalam hadits tersebut terdapat sifat-sifat secara rinci tentang golongan wanita ini, yaitu:

Mengenakan sebagian pakaian, tetapi dia menyerupai orang telanjang (kâsiyâtun ‘âriyâtun), karena sebagian besar tubuhnya terbuka dan itu mudah membangkitkan birahi laki- laki, seperti paha, lengan, rambut, dada dan lain-lainnya. Juga pakaian yang tembus pandang atau yang amat ketat, sehingga membentuk lekuk-lekuk tubuhnya, maka ia seperti telanjang, meski berpakaian. Jalannya lenggak-lenggok dan bergoyang, sehingga membangkitkan nafsu birahi.

Hadits tersebut juga menjelaskan hakikat golongan wanita yang tidak masuk surga, bahkan sekedar mencium bau wanginya pun tidak, padahal rahmat Allah meliputi segenap langit dan bumi. Belum lagi Rasulullah SAW menyuruh kaum muslimin agar melaknat mereka. “Laknatlah mereka, sesungguhnya mereka adalah wanita terlaknat”. Naû’dzubillah.

Masih dibuku yang sama, lebih gamblangnya, Syaikh Abdul Hamid Bilaly menjelaskan, diantara ketentuan-ketentuan berhijab adalah: Hijab itu longgar, sehingga tidak membentuk lekuk-lekuk tubuh. Tebal, hingga tidak kelihatan sedikit pun bagian tubuhnya. Tidak memakai wangi-wangian. Tidak meniru mode pakaian wanita-wanita kafir, sehingga wanita-wanita muslimah memiliki identitas pakaian yang dikenal. Tidak memilih warna kain yang kontras (menyala), sehingga menjadi pusat perhatian orang. Hendaknya menutupi seluruh tubuh, selain wajah dan kedua telapak tangan, menurut suatu pendapat, atau menutupi seluruh tubuh dan yang tampak hanya mata, menurut pendapat yang lain. Hendaknya tidak menyerupai pakaian laki-laki, sebab hal tersebut dilarang oleh syariat. Tidak memakai pakaian yang sedang menjadi mode dengan tujuan pamer misalnya, sehingga ia terjerumus kepada sifat membanggakan diri yang dilarang agama.

Perintah tentang hijab bukanlah wacana orisinal Islam, karena jauh sebelum Islam hadir, peradaban-peradaban baheula pun telah mengatur masalah ini (Hijab). Seperti dalam undang-undang Hamurabi, Babilonia, ketika itu para wanita yang merdeka diperintahkan untuk memakai hijab. Begitu juga di peradaban Mesir kuno, Persia dan Yunani kuno.

Orang-orang yang meyakini hijab hanya sebagai refleksi budaya, fenomena sosial serta bukan sebuah kewajiban, meminjam istilah Noam Chomsky (1986), adalah orang-orang yang mencoba melakukan sebuah upaya demonologi -dari kata demon (hantu)-. Demonologi berarti perekayasaan sistematis untuk menempatkan sesuatu agar ia dipandang sebagai ancaman yang sangat menakutkan (perceived threat). Sejatinya, hijab merupakan satu sarana solutif untuk mengeliminasi dekadensi moral dan patologi sosial.

Bagi wanita, setiap tutur kata, perbuatan, kepribadian, pakaian dan lain sebagainya ada aturan mainnya. Jika kalian mentaati aturan Islam, maka menjadi mulia, terhormat dan harum bak bunga mawar. Namun jika sebaliknya, maka kalian menjadi virus serta racun yang membunuh. Segala sesuatu yang telah ditentukan oleh Allah kepada kalian merupakan yang terbaik, karena tidak setiap hikmah yang terdapat dibalik syariat bisa diketahui secara kasat mata.

Pandangan laki-laki kepada wanita, ibarat anak panah yang melesat tanpa busurnya secara tiba-tiba dan mencederakannya. Olehkarenanya, wahai kaum Hawa baftulah kaum Adam menjaga pandangannya, bantulah kaum pria agar bisa menghargai kalian, bantulah mereka supaya tidak melenceng dari rel ketaatan. Maka, kikis segala tindak-tanduk y!ng menjadikan kalian virus bagi mereka. Raihlah wangi dunia. Sekali lagi kita bertanya, relakah kalian dicap sebagai racun dunia? Relakah kalian menjadi barang dagangan yang murah, bagi semua orang, baik yang jahat maupun yang terhormat? Bagaimana kalian bisa menyelamatkan diri kalian dari mata para serigala yang berwujud manusia? Maukah kalian, jika diri kalian dihargai serendah itu?

Ada baiknya kita menyimak salah satu syair Arab yang mengatakan: “Perumpamaan laki-laki yang memandang wanita, ibarat singa liar yang mengelilingi daging santapan”.[]

* Alumni Pesantren Persis 76, Rancabogo, Garut

2 comments on “Virus Itu Bernama Wanita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s