Wawancara Dengan Prof. Dr. A. Mahmud Karimah

Dewasa ini di Indonesia sedang terjadi polemik tentang UU Anti Pornografi dan Pornoaksi (APP). Pro kontra UU APP ini muncul kembali ketika Majalah Playboy ala Indonesia akan diterbitkan bulan Maret ini. Adakah konspirasi dibalik semua itu? Sejauh mana perspektif Islam terhadap pornografi? Berikut ini kami sajikan wawancara kru Al-Furqan, Asep Barri Mukhlis dan Risyan Nurhakim bersama Prof. Dr. Ahmad Mahmûd Karîmah, salah seorang Guru Besar di Fakultas Syari’ah Islamiyah Universitas Al-Azhar Kairo-Mesir, juga sebagai Mufti Mesjid Jam’iyyah Syar’iyyah Pusat Ramses, seputar pornografi yang ditinjau dari syari’at Islam dan kaitannya dengan konspirasi Yahudi dibalik itu semua. Berikut petikannya:

Bagaimana pandangan Islam mengenai Pornografi??

Sebelum kita membahas lebih jauh tentang hal ini, mari kita simak firman Allah SWT: “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. (QS. 24:30) Dan katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka..” (QS. 24:31)

Dari ayat tersebut, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa Islam adalah ajaran yang suci dan sangat memperhatikan kesucian. Ada dua macam kesucian, pertama, kesucian batin. Yaitu, kesucian hati dari berbagai bentuk syirik, hipokritas, kufur dan atheisme (ilhadiyah), sebagaimana dalam al-Quran disinyalir, “Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang rasul diantara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah.. ”(QS.62:2)

Kedua, kesucian lahir. Yaitu, kesucian badan dari najis dan kotoran. Sedangkan Islam sangat memperhatikan seluruh dimensi kesucian, ” Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. (QS. 2:222)

Islam adalah ajaran yang sesuai dengan fitrah manusia. Oleh karena itu, ajarannya selalu berorientasi kepada pemeliharaan (shiyanah wa mura’ah) hak asasi manusia. Maka diantara Maqashid as-Syari’ah itu adalah Hifzhu-d-Din (agama), Hifzhu ‘l Aql, Hifzhu ‘l Mâl (harta), Hifzhu ‘l ‘irdh (kehormatan), dan Hifzhu-n-Nafs (jiwa)..

Adapun korelasinya dengan kehormatan, Allah sengaja memberikan wasilah kepada manusai agar nafsu syahwatnya bisa tersalurkan sesuai dengan fitrahnya. Dan salah satu diantara wasilah itu adalah menikah (QS.Arrum:21), juga sebuah hadith Rasulullah Saw: “Wahai para pemuda, siapa yang sudah mampu menikah, menikahlah! Karena hal itu dapat menundukkan pandangan dan syahwat”(HR.Bukhari Muslim)

Dengan demikian, ajaran Islam lebih dapat dibedakan dari agama-agama lain. Islam tidak membiarkan nafsu manusia (al-Syahwat al-Insaniyah) diumbar seenaknya tanpa ada batas dan aturan yang benar, Islam juga mengharamkan berbagai hal yang mendorong timbulnya perzinahan, dari mulai hal terkecil sekalipun hanya memandang lawan jenis dengan sengaja. Ini adalah yang disebut dengan keistimewaan hukum Islam daripada dengan hukum positif. Karena, Islam selalu mengajarkan tindakan preventif (tadabir wiqa’iyyah) dalam mencegah terjadinya kejahatan dan ketidakberesan—mashlahat li al-Insaniyah—Agar tidak terjerumus ke dalam tindakan kriminalitas dan amoral.

Dari dulu, ajaran Islam tengah melarang praktek tabarruj dan khalwat antara lawan jenis non-muhrim, juga memberikan batasan bagi wanita yang bepergian tanpa seorang muhrim dan lain sebagainya. Artinya, bahwa pornografi dalam Islam sangat dikecam sekali. Sedangkan di Barat, praktek komoditi seksual itu sudah lumrah—hal yang biasa—Sehingga layak kita katakan bahwa dari aspek tersebut, mereka tengah terasuki dengan virus binatangisme dalam kehidupan sehari-hari—dekadensi moral—

Para Fuqaha (ahli fikih) tengah sepakat bahwa, aurat wanita itu adalah seluruh tubuhnya, kecuali wajah dan kedua telapak tangan. Maka selain kedua hal ini tidak boleh dilihatkan. Artinya, persoalan ini ada kaitannya dengan gambar-gambar dan tayangan-tayangan, baik fotografi, visual, audio, televisi, internet dan lain sebagainya. Karena hal tersebut, mempunyai efek—negatif—yang akan mendorong siapa pun untuk melakukan zina (al-‘Amal al-Fahisyah). Pelarangan ini tiada lain sebagai bentuk penghargaan yang tinggi terhadap kehormatan manusia (al-A’radh).

Ketika ada seseorang yang akan masuk Islam, tetapi dia tidak ingin dilarang dari berbuat zina. Maka jawab Rasulullah: ”Relakah kamu jika ibumu, atau adik perempuanmu, atau saudarimu dizinahi orang lain?” Maka ia menimpali, ”Tidak, ya Rasul”. Beliaupun menegaskan, ”Begitupun halnya dengan orang lain”.

Karena, dalam Islam hukuman orang yang berzina sangat berat, bagi yang sudah menikah, ia mesti dirajam sampai mati. Sedangkan bagi yang belum menikah (Muhshan) dirajam seratus kali. Semua itu adalah refleksi dari hifzdu ‘l A’radh wa-n-Nasl (kehormatan dan keturunan). Hal ini tengah disebutkan dalam hadith Rasulullah, “Anak hasil dari perzinahan itu diakui, sedangkan bagi pelaku zinanya, mesti dikenakan rajam” (Al-Waladu li ‘l Firâsy Wa Li ‘l ‘Âhir al-Hijru).

Lalu, istilah ini dimunculkan dengan alasan hak asasi manusia (huququ al-Insaniyah), atau kebebasan berekspresi. Bagaimana menurut anda?

Sebenarnya dalil kebebasan (al-Hurriyyah) tidaklah tepat, karena menurut hukum manapun baik urfi ataupun syar’i, kebebasan itu tidak mutlak. Atrinya, kebebasan seseorang dibatasi dengan kebebasan orang lain. Demikian pula, kebebasan sesuatu itu dibatasi pula dengan kebebasan sesuatu yang lain. Oleh karena itu, segala bentuk pornografi sebenarnya bertentangan dengan hifzh al-A’rdh—dalam agama—

Perlu diketahui bahwa freeseks, pornografi, dan sejenisnya itu adalah dari sebagian bentuk dekadensi moral masyarakat. Ketika masyarakat tengah mengagung-agungkan dan menjadikan keduanya sebagai tujuan dari segala-galanya, lambat laun tatanan masyarakat akan hancur ditelan zaman. Jika itu terjadi, maka misi Yahudi dalam menguasai dunia dengan perantara komoditi seks dan harta bisa disebut berhasil. Kita tahu bahwa, mereka selalu berusaha dengan menggunakan berbagai cara untuk menguasai dunia, termasuk umat Islam.

Dalam kamus Islam—dunia—hanya sebagai perantara, bukan tujuan. Berbeda dengan faham hedonisme yang menjadikan kesenangan dunia diatas segala-galanya. Maka ajaran Islam tengah membuat rambu-rambu kehidupan yang mesti dipatuhi oleh seluruhnya, agar manusia memperhatikan antara yang halal dan haram, juga dijauhkan dari kehidupan hedonisme.

Dengan demikian, bisakah seni atau estetika dijadikan alasan diakuinya pornografi?

Seni itu adalah pelembut rasa, penggugah jiwa, dan penglipur lara. Ini bisa didapatkan dari lantunan syair yang indah, suara yang merdu, alunan musik yang rapi, pemandangan alam dan sebagainya. Hal semacam itulah arti dari seni yang sesungguhnya.

Adapun pornografi, bukanlah seni. Tetapi, itu adalah kehancuran dan keruntuhan dari moralitas manusia. Bisakah tindakan yang bertentangan dengan moral dikatakan seni? Layakkah sesuatu yang bertentangan dengan misi nabi Muhammad ‘Menyempurnakan kemuliaan akhlak manusia’ dianggap sebagai bentuk estetika? Islam tidak mengecam seni selama itu mempunyai makna yang sesungguhnya dan tidak melanggar etika yang diajarkan agama.

Bagaimana menurut anda dengan peluncuran media yang berbau porno?

Yahudi itu selalu ingin menguasai dunia, dengan perantara yang digunakan untuk melancarkan misinya yaitu menguasai harta (al-Mal) dan melancarkan kebebasan seks (al-Jinsiyyah). Dari aspek harta, mereka menggencarkan sistem riba. Dan dari aspek seks, mereka terus meluncurkan film-film, video, gambar, baik audio ataupun visual untuk menghancurkan etika bangsa-bangsa lain, mereka tiada henti-hentinya melakukan propaganda dan konspirasi terhadap dunia. Maka dalam persepsi syari’at bahwa pornografi itu sangat dikecam oleh agama Islam.

Mayoritas objek dari pornografi itu adalah wanita. Bagaimana Islam memandang wanita?

Jika anda membaca keterangan-keterangan yang ada di dalam al-Quran ataupun al-Sunnah, maka akan diketahui bahwa harkat dan derajat wanita sangat dijunjung tinggi. Peran perempuan di arena kehidupan ini begitu besar, jika sebagai ibu, ia dituntut untuk mendidik dan menyalurkan kasih sayangnya kepada anak-anak, jika menjadi seorang isteri, ia akan menjadi sumber ketenangan batin bagi sang suami. Begitu pula jika ia seorang anak perempuan, ia akan mendapat pengayoman kasihsayang dari orangtuanya.

Oleh karena itu, wanita di dalam ajaran Islam tidak dianggap sebagai barang komoditi yang bisa diperjual-belikan seenaknya, dan haknya diinjak-injak sekehendak hati. Bahkan mereka (wanita) disebut sebagai ‘partner hidup’ bagi laki-laki. Rasulullah bersabda: ”Al-mar’ah syaqa’iq ar-Rijal”.

Faham-faham yang selalu menjadikan perempuan ibarat barang komoditi adalah faham Markis-Sekuleris. Karena di balik semua itu adalah, konspirasi Yahudi-Amerika yang ingin menghancurkan bangsa-bangsa lain melalui kehancuran moral para pemudanya.

Terakhir, apa pesan Anda bagi Mahasiswa Indonesia yang sedang menuntut ilmu di negeri Mesir ini?

Baiklah, kalian sebagai penuntut ilmu, hendaklah menguatkan komitmen kalian dalam menimba ilmu Islam, jangan pernah berpecah belah, jangan mengikuti wacana-wacana yang tidak jelas, baik hanya sebatas wacana atau sudah menjadi praktik lapangan dalam bentuk thariqah-thariqah. Karena, pijakan dalam semua tindakan kita adalah al-Quran, al-Sunnah, dan para Ulama yang bertanggung jawab(rasikh). Saya tengah menjelalajah berbagai tempat dalam berdakwah, bukan hanya di Al-Azhar saja tetapi di luar al-Azhar pun saya datangi. Saya dapati beberapa problem kita dewasa ini yaitu, sasaran dari wacana-wacana pemikiran atau gerakan itu kebanyakan para pemuda. Jadi, perkuat wawasan keilmuan, keimanan, kesabaran, dan terus mempertebal kesabaran, supaya kalian menjadi orang yang beruntung.

2 comments on “Wawancara Dengan Prof. Dr. A. Mahmud Karimah

  1. Innalhamdulillah, semoga Alloh senantiasa melindungi, membimbing dan mengaruniai kita kekuatan iman dari rongrongan isme-isme yang dikembangkan oleh Yahudi dan antek-anteknya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s