Imam Muslim An-Naisaburi

IMAM MUSLIM AN-NAISABURI

MUQADDIMAH

الحمد لله فأشهد أن لا إله إلا الله و أ شهد أن محمدا عبده و رسوله. و بعد :

فقال الله تعا لى : و أ نزلنا إليك الذكر لتبين للناس ما نزل إليهم و لعلهم يتفكرون ( النحل : 44)

Para ulama menafsirkan adz-dzikra disini dengan al-Hadits. Dengan demikian kedudukan hadis di dalam agama Islam menempati kedudukan kedua setelah al-Qur’an.

Rasulullah saw. Ketika menyampaikan wahyu – al-Qur’an – yang ia terima kepada para sahabatnya beliau memerintahkan kepada mereka untuk menjaganya baik dengan hafalan ataupun dengan tulisan bagi yang bisa baca tulis. Adapun al-Hadits tidak demikian adanya. Beliau melarang para sahabat untuk menulis hadits yang mereka dengar, sebagaimana hadis Abi Sa’id al-Khudri di Shahih Muslim :

لا تكتبوا عنى و من كتب عنى غير القر أن فليمحه و حدث عنى و لا حرج …

Para ulama menerangkan bahwasanya pelarangan ini disebabkan kekhawatiran beliau atas tercampurnya tulisan al-Qur’an yang mereka tulis dengan hadits, karena mereka menulis dalam lembaran yang sama. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abi Hurairah :

خرج علينا رسو ل الله عليه و سلم و نحن نكتبو الأحاديث , فقال : ما هذ ا الذى تكتبون ؟ قلنا : أحاديث سمعناها منك. قال : أ كتابا غير كتاب الله تريدون ؟ ما أضل المم من قبلكم إلا ما اكتتبوا من الكتاب مع كتاب الله …[1]

Sebagian ulama ada yang berpendapat bahwasanya larangan beliau tidak mutlak terhadap semua sahabat, ada sebagian sahabat yang dibolehkan untuk menulis hadits, seperti Abdullah ibn Amr ibn al-‘Ash, sebagaimana hadits Abi Hurairah :

ما من أصحاب النبى صلى الله عليه و سلم أحد أكثر حديثا عنه منى إلا ما كان من عبدالله بن عمرو بن العاص, فإنه كان يكتب و لا أ كتب

Zaman terus berlalu, Islam semakin menyebar dan bangsa Arab sudah banyak berbaur dengan bangsa asing yang tak lepas dari adanya perkawinan di antara mereka, kemudian tumbuh generasi baru yang kekuatan mereka dalam menghafal tidak sebagus bangsa Arab dulu.

Kemudian banyak tersebarnya hadis-hadis palsu di masyarakat, maka Umar ibn Abdul Aziz pada tahun 101 H., memerintahkan Abu Bakar Muhammad ibn Hazm –seorang faqih di zaman tabi’in yang diangkat oleh Umar menjadi gubernur di Madinah al-Munawwarah- untuk membukukan hadits.[2]

Perintah khalifah Umar ibn Abdul Aziz ini disiarkan ke semua wilayah negara Islam. Adapun ulama yang pertama menyelesaikan pembukuan hadis ini adalah Ibn Syihab az-Zuhri. Akan tetapi pembukuan yang dilakukan oleh Imam az-Zuhri tidak seperti pembukuan yang kita lihat pada Shahih Bukhari atau Shahih Muslim. Akan tetapi metode yang ia pakai adalah : mengumpulkan hadits-hadits yang sama yang semakna dalam satu judul yang juga bersamaan dengan hadis-hadis tersebut ada perkataan para sahabat dan fatwa para tabi’in.

Kemudian setelah generasi az-Zuhri berlalu, datanglah generasi baru generasi tabi’u at-Tabi’in, mereka antara lain : Ibn Juraij di Mekkah, Imam Sa’id ibn Abi Arubah dan Imam malik ibn Anas di Madinah, Hammad ibn Salamah di Basrah, Sufyan ats-Tsauri di Kufah, al-Auza’I di Syam, Husyaim ibn Wasith, Ibn al-Mubarak di Khurasan, Ma’mar ibn Rasyid di Yaman.

Metode penulisan mereka sam seperti az-Zuhri : masih menyatukan al-Hadits dengan perkataan sahabat dan fatwa tabi’in. Pada abad ke-3 H., setelah berlalunya zaman tabi’u at-Tabi’in, bermunculanlah para ulama yang membukukan hadits dengan cara al-Masanid, [3]dan memisahkan perkataan sahabat juga fatwa tabi’in dari hadits Rasulullah yang mereka kumpulkan. Sebagaimana yang dilakukan oleh para imam Muhadditsin pada masa itu antara lain : Abu Dawud ath-Thayalisi, Asad ibn Musa al-Umawi, Masdad al-Basri, Ishaq ibn Rahawaih, Ahmad ibn Hambal asy-Syaibani, Abu al-Abbas al-Asnawi, …

Sistem penulisan dengan metode al-Masanid, tampak ada beberapa kesulitan dan kekurangan, antara lain :

1. Dalam mencari hadist-hadits yang bersangkjutan dengan hukum tertentu sangat sulit karena …

2. Mereka masih mencampurkan hadis-hadits shahih dengan dha’if .

Dikarenakan demikian adanya, maka para muhaddits lain membuat manhaj lain yang lebiuh sempurna dan mudah, lagi bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya. Di antara para muhadditsin tersebut adalah : Imam Bukhari dan Imam Muslim. [4]

“Al-Qur’an kalamullah bukan makhluk, dan tetapi perbuatan hamba makhluk, dan menanya untuk menguji bidh’ah”. Sebagian orang menangkap bahwa beliau mengata-kan lafazh al-Qur’an makhluk.

Sejarah Ringkas Tentang Biografi Imam Muslim :

Nama beliau Muslim ibn al-Hajjaj ibn Muslim ibn Ward ibn Qusyaj al-Qusyairi an-Naisaburi. Beliau lahir di kampung Naisabur, di kota Khurasan pada tahun 204 H.[5] bertepatan pada tahun meninggalnya Imam asy-Syafi’i. Yang disayangkan, tidak ada kisah yang menceritakan masa kecilnya atau keluarganya. Imam Muslim juga saudagar yang kaya raya, kekayaan harta dan tanahnya banyak, dan beliau sangat terkenal dermawan di kalangan masyarakat Naisabur. [6] Rihlah ilmiahnya dalam menuntut ilmu hadits beliau menimba ilmu hadits ketika berumur 18 tahun dari Yahya ibn Yahya at-Tamimi. Pada tahun 220 H. beliau pergi menunaikan ibadah haji, walaupun ketika itu beliau masih sangat muda, dan selama di Mekkah beliau menuntut ilmu hadits dari seorang ahli Mekkah yang bernama al-Qa’nabi – guru besar Imam Muslim -. Dalam perjalanan pulang beliau melewati Kufah, selama di Kufah beliau memanfaatkan untuk mengambil hadits dari Ahmad ibn Yunus juga para muhaddtsin setempat, kemudian beliau melanjutkan perjalanan pulangnya. Sepulang-nya dari ibadah haji dan beberapa tahun kemudian, beliau baru memulai rihlah ilmiahnya, ketika itu beliau belum sampai 30 tahun dari umurnya, rihlah ilmiah beliau antara lain ke Iraq, Hijaz, dan Mesir.

Guru-guru beliau : guru-guru beliau yang ada pada Shahih Muslim berjumlah 220 orang, dan banyak lagi guru beliau yang tidak termaktub di Shahih-nya, seperti Ali ibn al-Ja’d, Ali ibn al-Madani, Muhammad ibn Yahya az-Zuhli dan Imam Muslim banyak meriwayatkan hadis Ali ibn al-Ja’d. [7]

Kekeratan beliau dengan Imam Bukhari : Ketika Imam Bukhari mampir dan menetap di Naisabur (250 H), [8] maka bergurulah Muslim kepada beliau dengan suruhan dari Muhammad ibn Yahya tanpa meninggalkan majlis gurunya yang bernama Muhammad ibn Yahya az-Zuhli. Sampai pada suatu ketika terjadi perselisihan pendapat dan kesalahpahaman antara Muhammad Yahya dengan al-Bukhari tentang fitnah al-Qur’an adalah makhluk, bukan kalamullah. Muhammad ibn Yahya berpe-gang teguh pada mazhab salaf yang mengatakan bahwa al-Qur’an kalamullah, ketika Bukhari ditanya apa pendapat beliau pada masalah ini, beliau menjawab dari sini terjadi salah paham dan terjadi perselisihan antara mereka berdua. Kemudian imam Bukhari diusir masyarakat nisabur,maka beliau keluar dari masyarakat Naisabur semua orang menjauhi beliau kecuali Muslim, ia masih terus berkunjung ketempat Bukhari dan menuntut hadits darinya. Pada suatu hari imam Moh bin Yahya berkata dimajlisnya kepada muridnya : Barang siapa berpendapat seperti pendapat bukhori dalam masalah al-Qur’an yang kita lantunkan adalah makhluk hendaknya keluar dari majlis saya ini. Ketika itu juga imam muslim meninggalkan majlis Imam Moh bin yahya menuju pulang ,sesampainya dirumah beliau mengumpulkan lembaran-lembaran hadits yang ditulis dari Moh bin yahya kemudian mengirimya ke Moh bin Yahya, semenjak itu Muslim tidak lagi mengambil riwayat dari Moh bin Yahya [9] dan Muslim tidak lagi menulis dibukunya riwayat-riwayat dari Moh bin Yahya juga Bukhari.

Murid-murid beliau yang termasyhur dalam meriwayatkan hadits dari beliau kurang lebih 33. [10]

Kepergian beliau kerahamatullah /wafatnya imam muslim .

Muhammad bin Abdullah an-Naisaburi mengisahkan sebab wafatnya Muslim ; saya mendengar kisah ini dari Muh bin Ya’qub dari Ahmad bin salamah teman Muslim dalam mengambil riwayat dari bukhari sekaligus murid dari muslim ia mengisahkan : suatu ketika pada saat majlis muzakarah, dilafadhkan sebuah hadits yang belum mengetahuinya ,makaketika ia pulang kerumah beliau langsung menyalakan patromak dan berkata pada keluarganya “jangan ada yang masuk kesini”ketika dikabarkan kepaada beliau bahwasanya ada yang menhadiahkan kurma kepadanya “kemarikan “kemudian ia melanjutkan pencarian hadits yang asing itu, samapaialah menjelang pagi : kurma telah habis dan haditspun telah ketemu.Muh bin adb berkata : “saya tambah yakin dengan cerita ini bahwasannya wafat disebabkan kekenyangan korma tersebut. [11]

Ibn Katsir berkata : ‘Dikarenakan kekenyangan memakan korma beliau sakit pada hari itu sampai tibalah ajalnya di malam hari itu selepas isya malam senin’. Beliau dikuburkan keesokan harinya senin 25 rajab 261 H. di Naisabur, dan umurnya saat itu 57 tahun, dan kuburannya sampai saat ini masih sering dikunjungi.

Perkataan ulama tentang beliau dan kedudukannya :

  1. Imam al-Hakim, Shahib al-Mustadrak berkomentar : ‘Saya pernah mendengar Abu Abdurrahman as-Sulami bercerita, “Saya pernah melihat seorang alim yang berwibawa, selalu berpakaian rapi lagi bagus dan ada selendangnya, memakai imamah, ternyata ia adalah Imam Muslim”. Para pejabat memujinya dan menyampaikan bahwasanya Amirul Mukminin memerintahkan agar masyarakat menjadikan beliau Imam Masjid Agung. [12]
  2. Hakim berkata, bahwasanya Ishaq ibn Manshur berkata kepada Muslim : “Kami tidak akan kehilangan berkah Allah selagi Allah menaruh kamu diantara umat Islam”.
  3. Abu Quraisyi al-Hafiz berkata : “Dunia Islam memiliki 4 orang Hafiz : Abu Zar’ah di ar-Ra’y, Muslim di Naisabur, Abdullah ad-Darimi di Samarkand dan Muh. Ismail di Bukhara.
  4. Ahmad ibn Salamah berkata : “Saya melihat Abu Zar’ah dan Abu Hatim lebih mengedepankan Muslim dalam pengetahuan hadis Shahih dihadapan ulama atau guru-guru hadis zaman mereka”.

Shahih Muslim dan Pujian Ulama Terhadap Kitab Shahih Muslim

Para ulama sepakat bahwa Shahih Muslim dan Bukhari kedudukannya ashshahhulkutub setelah al-Qur’an.

  1. Imam Muslim telah mengarang bukunya al-Jami’ ash-Shahih dari 300.000 hadits yang ia dengar dan beliau berkata : Seandainya penduduk bumi ini terus menulis hadits selama 200 tahun tidaklah ruang lingkup sanad mereka kecuali berkisar di sanad-sanad ini. Mengomentari buku Shahihnya beliau berkata : “Tidak saya letakkan sebuah hadits pun disini kecuali dengan hujjah, …”
  2. Ahmad ibn Salamah berkata : Saya menemani Muslim dalam penulisan bukunya selama 15 tahun, dan ia telah menulis 12.000 hadis –dengan yang diulang-. Jumlah hadis yang ada di Shahih Muslim sebanyak 4000 tidak termasuk yang diulang dan jika dengan yang diulang jadi 7275.
  3. Al-Hafiz Abu Ali an-Naisaburi memuji : “Tidak ada buku yang lebih baik/Shahih di kolong langit ini dalam ilmu hadits daripada buku Muslim”.

Kelebihan/Keistimewaan Shahih Muslim :

  1. Hadis yang beliau keluarkan tidak dipotong, dan beliau tidak meriwayatkan hadits bil makna.
  2. Beliau membedakan perkataan haddatsana (saya mendengar) dan akhbarana (saya membaca). [13]
  3. An’anah.
  4. Imkanul Liqa

Kitab-kitab yang mensyarah Shahih Muslim di antaranya :

  1. Al-Minhaj milik an-Nawawi
  2. Ikmal al-Mu’alim milik Qadliiyyadh
  3. Ad-Dibbaj milik as-Suyuthi (ada 8)


[1] ا تظر كتاب : تقييد العلم للأمام الخطيب البغدادي ص : 22

[2] فتح الباري : كتاب العلم باب كيف يقبض العلم

[3] Pengumpulan riwayat seorang sahabat …

[4] Riset Ilmu Hadis karangan M. Zaki Abdul al_Hamid

[5] سير أعلام النبلاء : 12\558 : تذكرة الحفاظ : 2\588

[6] العبر : 1\375

[7] سير أ علام النبلاء : 12\558 و تهذ يب الكمال : 27\499

[8] مقدمة فتح الباري ص : 725

[9] البداية و النهاية : 11\34 : تار يخ بغداد : 13\103 : وفيات الاعيان : 5\194

[10] تهذيب الكمال

[11] البداية و النهاية : 11\34

[12] سير أ علام النبلاء : 12\566

[13] ا نظر : الانارة في أحاديث المختارة من صحيح أمام مسلم

One comment on “Imam Muslim An-Naisaburi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s