Malik Bin Anas

MÂLIK BIN ANAS

“Tidak tersisa lagi di muka bumi ini, yang lebih alim darimu terhadap As-Sunah masa lalu” (Baqiyyah).1

Mukadimah

Ketika aku berada di majlis Imam Malik, seekor Kalajengking menyengat kaki beliau sebanyak 16 sengatan. Aku melihat terjadi perubahan pada air mukanya, beliau tetap bertahan dan tidak memotong hadits Rasulullah SAW yang sedang beliau lontarkan dihadapan murid-muridnya Tatkala majlis bubar dan orang-orang telah pulang aku bertanya kepadanya : “Aku melihat suatu keajaiban darimu”, beliau menjawab : “Aku mampu bersabar dari sengatan itu karena penghormatanku terhadap hadits Rasulullah SAW”.2 (Ibnu Mubarak)

Benar kata Ulama-ulama kita terdahulu : “Ukuran keagungan seseorang dilihat dari antusiasnya terhadap As-Sunah dan semangatnya menjauhi bid’ah, kecintaannya terhadap Al-Qur`an dan As-Sunah menyatu dalam darah dan dagingnya dan dibuktikan dengan amal.

Lalu siapakah manusia agung ini, yang sampai-sampai Rasulullah SAW memprediksikan : “Hampir-hampir manusia tidak mendapatkan orang yang lebih alim dari para `alim Madinah”3

Beliau tidak lain adalah Malik Bin Anas Imam Dar ’l Hijrah.

Nasabnya

Beliau adalah Mâlik bin Anas bin Mâlik bin Abi Âmir bin Amru bin Al Harits bin ghailân bin Hasyat bin Amru bin Harits4. Kakek bapak beliau (Abi Amir) seperti yang disebutkan oleh Qôdi`iyâd adalah salah seorang sahabat Rasulullah SAW yang mengikuti seluruh peperangan dimasa Rasulullah SAW kecuali perang Badar5. Sedang kakek beliau (Malik) adalah seorang pembesar dan ulama para Tabi’in yang meriwayatkan dari Umar, Utsman, Thalhah, Aisyah, Abu Hurairah, Hasan dan lain-lainnya Radiallâhu `anhum, dan beliau juga adalah salah seorang dari empat orang yang memikul jenazah Utsman dimalam hari menuju kuburnya, juga yang memandikannya6

Beliau dilahirkan di Madinah tahun 93 H pada masa pemerintahan Al-Walîd Bin Abdul Muluk Al-Umawi semasa dengan Imam Al-Faqih Abu Hanifah, namun berbeda dengan Imam Hanifah, Imam Malik masih mendapatkan puncak kejayaan Daulah Abasiyah ketika itu7

Kehidupannya

Kemuliaan bertitik tolak dari hal-hal yang tidak disenangi, kebahagiaan tidak dapat diraih melainkan dengan meniti jembatan kesusahan, perjalanan sukses tak dapat ditempuh kecuali dengan perahu kesungguhan”(Shalahul Ummah)

Imam Malik tumbuh ditengah-tengah kegemerlapan ilmu pengetahuan, hidup dikeluarga yang mencintai ilmu, dikota ilmu Dar`l Hijrah, mata air As-Sunah dan kota rujukan para alim ulama. Di usia yang relatif sangat belia, beliau telah menghapal Al-Qur`an, menghapal As-Sunah Rasulullah, menghadiri majlis para ulama dan bermulazamah kepada salah seorang ulama besar pada masanya (Abdurrahman Bin Hurmuz).

Setelah ia merampungkan pelajaran hadits, asar dan ilmu Fiqih, pada usia 17 tahun8 beliau membentuk sebuah majlis ilm’ di mesjid Nabawi, untuk memberikan pelajaran dan fatwa9 tentunya setelah mendapatkan 70 persetujuan Imam Madinah, bahwa beliau berhak dalam hal itu10

Majlis ilmu beliau penuh dengan ketenangan dan jauh dari perkataan yang sia-sia. Al-Wâqidi menggambarkan majlis beliau : “Majlis beliau adalah majlis yang penuh dengan ilmu dan ketenangan, beliau adalah seorang yang arif dan berwibawa, tidak terdengar satupun debat kusir serta suara hiruk pikuk. Apabila beliau ditanya tentang sesuatu, maka beliau menjawab pertanyaan sang penanya tanpa bertanya : Dari mana datangnya perkataan itu ?. Dan orang-orang yang berziarah kemasjid Madinah berdesak-desakan dipintu mesjid untuk meminta fatwa dari beliau11seperti berdesak-desaknya orang didepan pintu para raja” 12

Beliau adalah Imam didalam Hadits dan Fiqih.13 Abdurrahman Bin Mahdi berkata: “Sufyan dan Ats-Tsauri adalah imam didalam hadits tetapi keduanya bukan imam dalam As-Sunah, Auza`i adalah imam didalam As-Sunah tetapi bukan imam didalam hadits, sedang Malik adalah Imam kedua-duanya (Hadits dan As-Sunah).

Ibnu Shalah ditanya tentang makna dari perkataan Abdurrahman ini, beliau menjawab: “As-Sunnah disini adalah kebalikan dari bid`ah, sebab terkadang ada manusia yang mengenal hadits tetapi tidak mengenal As-Sunah.14

Guru-gurunya

“Orang-orang bodoh menyangka bahwa kitab-kitab itu memberi petunjuk…. jika ilmu dipelajari tanpa seorang guru maka ia pasti tersesat dari jalan yang lurus.” (Abu Hayan).15

Berbeda halnya dengan imam-imam yang lainnya, seperti Ahmad bin Hanbal yang harus bersusah payah menempuh perjalanan beribu-ribu mil jauhnya demi mendapatkan ilmu. Ke Maroko, Syam, Aljazair, Makkah, Madinah, Hijaz, Yaman, Iraq, Khurasan, Baghdad, dan negeri-negeri lainnya. Atau Yahya Al-Laitsi yang berasal dari Andulusia menuju Madinah dan Makkah dan kemudian kembali ke Andulusia ataukah Baqiyyu bin Mahlad yang berjalan kaki dari Spanyol ke Baghdad hanya untuk bertemu dengan Imam Ahmad.16 Imam Malik menghabiskan seluruh masa pencarian ilmunya di Madinah, adalah hal yang wajar, karena dikota itulah Nabi SAW, sahabat-sahabatnya, dan Tabi`in meninggalkan atsar yang tak terbilang banyaknya.

Beliau mereguk ilmu sekaligus sumber penerimaan haditsnya dari 900 orang banyaknya17 diantaranya; Ibnu Syihab, Az-Zuhri, Abu AswadYatîm Al-Urwah, Ayyub As-Sakhtayani, Rabi`ah bin Abdurrahman (Rabi`ah Ar-Ra`yi), Yahya bin Sa`id Al-Anshari, Musa bin Uqbah, Hisyam bin Urwah, Nafi` Al-Qari, Muhammad bin `Ajlan, dan Abu An-Nadzr Salim (semuanya adalah Tabi`in)18

Murid-muridnya

“Diantara zakat ilmu adalah menyebarkannya… (Bakr bin Abdullah Abu Zaid)19.

Jika pada masa Dinasti Umayah, Imam Malik lebih banyak ”menanam” dengan mengasah kecerdasan otaknya, pemikiran dan pendapat-pendapatnya, maka pada masa dinasti Abbasiyah adalah masa-masa “penuaian” beliau. Pada masa inilah beliau banyak bertukar pikiran dengan sahabat-sahabatnya serta menggembleng murid-muridnya.20

Diantara murid-muridnya yang terkenal; Imam Syafi`i, Abdurrahman bin Qasim, Abdullah bin Wahab bin Muslim, Asyhab bin Abdul Aziz Al-Qaisi, Abdullah bin Abdul Hakam, Asbah bin Al-farj, Muhammad bin Abdullah, Abdul Malik bin Abi Salamah Al-Majisun dll.21

Cobaan terhadap Imam Malik

“Cinta palsu banyak tersingkap dari cobaan, bersabar dari cobaan adalah bukti dari cinta yang hakiki” (Shalâhu ‘l Ummah).

Para sejarawan menyebutkan, bahwa pada tahun 146 H Imam Malik pernah mendapat hadiah cambukan serta siksaan hingga menyebabkan salah satu tangannya terlepas dari pundaknya.22 Tetapi para sejarawan berbeda pendapat dalam sebab kejadian tersebut, namun pendapat yang terkuat bahwa kejadian itu disebabkan karena beliau meriwayatkan sebuah hadits “Tidak ada talak bagi orang yang dipaksa”.23

Al-Manshur (Abu Ja`far Sulaiman) wali Madinah ketika itu, melarang Malik menceritakan hadits tersebut, tetapi beliau enggan. Kasus ini membuat orang-orang diluar ramai membicarakannya. Karena keengganan Malik, Ja`far bin Sulaiman memukulnya. Hal ini membuat ahli Madinah murka terhadap Bani Abbas dan pemerintahannya. Namun akhirnya Abu Ja`far Al-Mansur minta maaf kepada Malik atas kejadian tersebut, karena ia tidak memilik ilmu tentang itu.24

Keberanian Malik dihadapan sang penguasa

“seutama-utama jihad adalah kalimat hak dihadapan sultan yang zalim” (Hadits).

Suatu hari Imam Malik ditanya :”Engkau telah masuk ke dalam penguasa, sedang mereka adalah orang yang zalim dan aniaya?” Beliau menjawab : “Semoga Allah merahmatimu, lalu dimanakah kebenaran itu diucapkan. (Abu Muta`al bin shalih).

Imam Malik berkata : “Harun Ar-Rasyid (sang khalifah) pernah mengutus salah seorang utusannya kepadaku dan memintaku datang keistananya untuk membacakan hadits dihadapannya, lalu aku katakan padanya: “Wahai Amirul Mukminin ilmu itu didatangi tidak mendatangi”. Kemudian Harun mendatangi rumahku.25

Manhaj fil hadits

Imam Malik adalah imam dalam ilmu hadits begitu juga Imam dalam ilmu fiqh. Para ahli hadits mengakui hal itu, karena mereka melihat bahwa sanad-sanad yang terdapat disebagian hadits-haditsnya adalah sesahih-sahih sanad. Para muhadits menyebutnya dengan silsilah az-zahabiah.26

Bukhari berkata : “seshahih-shahih sanad adalah Malik dari Nafi` dari ibnu Umar”.

Sufyan bin Uyainah berkata : “Tidak ada yang lebih keras kritikannya terhadap rijal-rijal hadits dari pada beliau.”

Yahya in Ma`in berkata: “semua yang diriwayatkan oleh Malik adalah tsiqah, kecuali Abu Umayah”.

Berkata (bukan satu orang saja): “Sahabat-sahabat Malik yang paling tepercaya adalah Nafi` dan Az-Zuhri”.

Syafi`i berkata: “Apabila hadits datang maka Malik adalah bintang”.27

Ahmad bin Hanbal lebih mendahulukan Malik ketimbang Auza`i, Ats-Tsauri, Al-Laitsi, Hamad dan Al-Hakam, dan berkata ia adalah imam hadits dan fiqh.28

Dalam penerimaan hadits, beliau hanya menerima dari orang yang dipandang ahli hadits dan terpercaya (tsiqah), sedang dalam periwayatan hadits beliau hanya meriwayatkan hadits ma’ruf dan mensyaratkannya juga matan hadits tersebut sejalan dengan amalan ahli Madinah.

Namun bersamaan dengan kritisnya beliau dalam menerima riwayat, beliau juga menerima hadits-hadits mursal.29 diterima tidaknya hadits mursal dalam berhujah menimbulkan perdebatan panjang.30 namun dalam madzhab beliau dan madzhab Hanafi menerima hadits mursal sebagai hujah dengan dua alasan:

Pertama, rawi-rawi yang tsiqat tidak akan mungkin meriwayatkan hadits dari Rasulullah saw secara langsung jika ia tidak mendengar dari orang-orang yang tsiqat. Yang zahir dari keadaan para tabi`in itu, bahwa mereka mengambil hadits-hadits dari sahabat dan mereka adalah orang-orang yang adil.

Kedua, bahwa kurun ketika itu (tabi`in) kondisi umum mereka dalam keadaan jujur dan adil, karena persaksian nabi terhadap mereka. Dengan demikian hadits-hadits mereka diterima.31

Dengan demikian hadits-hadits beliau didalam kitab Muwatta-nya terdapat banyak hadits mursal, bahkan tidak itu saja terdapat pula hadits yang munqathi` al-isnad32 dan balaghât yaitu, beliau berkata : balaghani (telah sampai kepadaku) bahwa Rasulullah bersabda demikian. Ini menunjukan bahwa manhaj beliau dalam mengambil hadits tidak seluruhnya berada dalam sanad-sanad yang mutasil (bersambung) tetapi beliau cukup merasa tenang akan kesahihan hadits.33

Orang-orang berbeda pendapat, apakah beliau lebih mendahulukan qiyas daripada Khabar ‘l Ahad yang masyhur dari beliau, bahwa beliau lebih mendahulukan khabar ahda daripada qiyas.34

Karya beliau : AlMuwatha`

Imam Malik meninggalkan kepada generasi-generasi setelahnya sebnuah pusaka yang ta ternilai harganya. Muwatta` karangan beliau yang merupakan permintaan abu ja`far al-manshur.35 wali Madinah ketika itu telah memberikan sumbangsih yang teramat besar daidalam dunia islam.

Beliau adalah yang pertama kali dikenal sebagai penulis buku dan pengarang di dala islam, karena kitabnya almuwatta adalah kitab yang pertama kali muncul dikala itu.36

Banyak pujian yang dilontarkan pada kitab tersebut dan barangkali pujian yang paling masyhur di kalangan kita adalah pujian imam muhammad bin idris asy-syafi`i : “saya tidak mengetahui kitab ilmu yang lebih banyak benarnya dibanding kitab Imam Malik” atau perkataan beliau : “tidak ada lagi diatas bumi ini kitab setelah kitabullah yang lebih sahih dari kitab Imam Malik”.37

Pujian ini tidak berlebihan, karena pada wakt itu sudah banyak kitab-kitab sunan yang dikarang semisal sunan ibnu juraij, sunan ibnu ishaq, sunan abi qurrah musa bin tarik az-zabidi dan mushannaf abdur arzaq.

Namun yang perlu menjadi catatan bahwa apa yang disebutkan oleh imam syafi`i tersebut adalah sebelum munculnya shahih bukhari dan muslim. Adapun yang dikatakan oleh as-suyuti syarh almuwatta (hal 8) : “yang benar, bahwa muwatta adalah sahih secara mutlk, tidak ada satupun yang dikecualikan”. Perkataan ini tidak benar, yang benar bahwa didalam muwatta yang mausul lagi marfu`38 hingga ke Rasulullah saw, seluruhnya adalah sahih seperti hadits-hadits yang terdapat di dalam sahihain, dan juga didalamnya terdapat hais mursal dan balaghât. Kitab beliau tidak termasuk dalam barisan kitab-kitab sahih (seperti bukhari dan muslim) itutidak lain karena banyaknya hadits-hadits mursal dan balaghât didalamnya, dan juga banyaknya pendapat-pendapat fiqh Imam Malik.39

Adapun sebab kitab tersebut dinamakan al-muwatta beliau berkata : aku mengajukan kitabku ini kepada tujuh puluh fuqaha dari fuqaha Madinah, “semuanya wattâni (menyetujuiku) atas karyaku itu, maka aku menamakannya dengan Al-Muwatta (yang disepakati).40

Sekilas pokok-pokok dasar Imam Malik41

Adapun dasar-dasar pokok mazhab Malik dalam mengistinbat hukum furu` sebagaiman yang terdapat dalam muwatta :

1. Al-Qur`an Al-Karim

Imam Malik memandang bahwa Al-Qur`an mencakup seluruh aspek syari`at, dan ia adalah sandaran agama serta ayat-ayat risalah. Pola pikir beliau terhadap Al-Qur`an berbeda dengan pola pikir ahli jidal dan mutakallimin. Diriwayatkan darinya: “Bahwa barang siapa yang mengatakan Al-Qur`an adalah makhluk maka dia adalah zindiq, wajib dibunuh”.

2. As-Sunah (lihat penjelasannya pada Manhaj Malik dalam as-As-Sunah)

3. Amalan Ahli Madinah.

Dalam pandangan Imam Malik, Madinah adalah Dar ‘l Hijrah, tempat turunnya Al-Qur`an, tempat tinggalnya Rasulullah dan sahabat-sahabatnya. Dan ahli Madinah adalah masyarakat yang lebih mengetahui turunnya wahyu Al-Qur`an, yang mana keistimewaan-keistimewaan ini tidak dimliki oleh selain mereka. Dengan demikian amalan-amalan mereka adalah hujah dan lebih didahulukan ketimbang qiyas dan Khabar ‘l Ahad

4. Perkataan Sahabat.

Bagi Imam Malik jika tidak terdapat hadits sahih dalam sebuah permasalahan dari nabi saw maka perkataan sahabat selama tidak diketahui mukhalif maka menjadi hujah. Akan tetapi beliau lebih mendahulukan amalan ahli Madinah dibanding perkataan sahabat.42 begitu juga apabila sahabat rsul berbeda dalam suatu permasalahan, amak beliau lebih memilih pendapat yang lebih sesuai dengan amalan ahli Madinah.43

5. Al-Mâsalih ‘l-Mursalah

Beramal dengan Mashâlih Mursalah adalah asas dari asas-asas yang menjadi sandaran beliau dalam mazhabnya. Yaitu :mendatangkan manfaat atau menolak bahaya, yang mana syari`at tidak merealisir kemaslahatan tersebut dan tidak juga membatalkannya. Karena pembebanan syarat itu semuanya kembali pada pemeliharaan maqâsid-maqâsid dalam penciptaan.

6. Qiyâs

Jika tidak terdapat nash dari Kitab, As-Sunah, perkataan sahabat, atau ijma` dari kalangan ahli Madinah, maka Imam Malik berijtihad, dan mempergunakan qiyas dalam ijtihadnya.44

7. Sad ‘z Zara`i

Imam Malik paling sering mengamalkan sad ‘z zara`i45 sampai-sampai sebagian ulama ada yang mengatakan, bahwa mengamalkan sad ‘z zara`i adalah merupakan ciri khas dari mazhab Imam Malik46

Mauqif-mauqif Imam Malik

  • Seorang datang kepada Imam Malik dan bertanya : “Ya, Abu Abdullah apa pendapatmu tentang orang yang berkata: “Bahwa Qur`an itu adalah makhluk !” Beliau menjawab: zindiq, bunuh orang ini. Orang itu berkata : “Ya Abu Abdullah aku hanya menceritakan perkataan dari apa yang aku dengar”. Beliau berkata :”Tapi saya mendengarnya dari kamu, dan kamu mengagungkan perkataan tersebut (Yahya bin Khalaf At-Tarsusi)47
  • Seorang bertanya kepada beliau tentang firman Allah; Ar-Rahmân `ala arsy istawâ,(Allah yang maha penyayang bersemayam (istiwa’) diatas Arsy) bagaimanakah Allah beristiwa? Imam Malik terdiam, lalu berkata: “Istiwa adalah suatu yang maklum, bagaimana caranya adalah hal yang tidak ma’qul (tidak dapat dicerna oleh akal) dan bertanya hal itu adalah bid`ah sedang mengimaninya adalah wajib, dan aku kira kamu ini adalah orang yang sesat, keluarkan orang ini. Lalu seseorang menyeru: “Ya Abu Abdullah, demi tuhan aku pernah bertanya hal ini kepada ahli Basrah, Kufah dan Iraq. Lalu aku tidak mendapatkan satupun sikap seperti sikapmu terhadap orang tadi (Abu Thalib al-Maki).48
  • Beliau pernah ditanya 48 pertanyaan, 32 dari pertanyaan tersebut beliau jawab; saya tidak tahu.49 Imam Ahmad berkomentar :”Sepatutnyalah orang-orang alim mewarisi perkataan beliau : lâ adrî (saya tidak tahu).
  • Imam Malik ditanya : “Mengapa kamu tidak mengambil hadits dari Amr bin Dinar? Beliau menjawab aku pernah mendatanginya lalu aku mendapatkan orang-orang mengambil hadits darinya dalam keadaan berdiri, hadits rasulullah saw bagiku terlalu agung jika aku mengambilnya dalam keadaan berdiri.50 dan beliau sama sekali tidak pernah membacakan sebuah hadits, kecuali beliau dalam keadaan suci (Abu Mus`ab)51
  • Adalah Malik jika didatangi oleh ahli ahwa` beliau berkata : “Adapun aku berada dalam bayyinah agamaku, sedang anda adalah orang yang berada dalam keraguan, pergilah kamu kepada oarang-orang yang syak sepertimu lalulah berjidalah dengannya52

Mereka berbicar tentang Imam Malik

1. Malik adalah alim dari ahli Hijaz dan ia adalah hujah pada zamannya (Ibnu Uyainah)

  1. Tidak ada seorangpun yang alim di Madinah setelah para tabi`in yang menyerupai Malik dalam ilmu, fiqh, keagungan dan hafalan (Az-Zahabi).
  2. Jika ulama disebutkan maka Malik adalah bintang (Syafi`i)
  3. Seandainya bukan Malik dan ibnu uyainah niscaya hilanglah ilmu hijaz (Syafi`i).

Wafat

“Setiap orang diambil dan ditinggalkan perkataanya kecuali pemilik kubur ini (maksudnya Nabi SAW)”53

Demikianlah untaian kata yang pernah diucapkan oleh Imam Malik dikala hidupnya, sebuah peringatan yang teramat bernilai bagi mereka yang lebih cinta terhadap agama ini, bahwa ta`asub hanyalah kepada Rasulullah bukan terhadap kami, yang terkadang salah dan terkadang benar.

Beliau menghadap Allah SWT pada malam 14 safar 179 H pada usia yang ke 85 tahun54 dan dimakamkan di Baqî` Madinah.

Wallahu `alam.

*** Dipresentasikan pada acara kamisan FOSPI tanggal 7 Maret 2002

oleh Ibnu Ja’far


1 Sholâhu ’l Ummah Fi U’luwwi’ l Himmah 2/181 oleh Dr Sayyid Al `Iffâni

2 Ibid,182

3 Diriwayatkan oleh Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Hiban, Hakim dan Baihaqi. Semuanya bersumber dari hadits Ibnu Uyainah dari Ibnu Juraij dari Abu Zubair dari Jabir, dan rijal-rijalnya adalah Tsiqot kecuali bahwa Ibnu Juraij dan Abu Jubair keduanya Mudallis.tetapi bersamaan dengan itu Tirmidzi menghasankannya,disahihkan oleh Hakim, disepakati oleh Az-Zahabi dan disahkan juga oleh Ibnu Hiban.

4 Bidâyah wan N ihâyah, Ibnu Katsir 7/164

5 Lihat Târikh Tasyrî` Islamî Manna ‘l Qattan 345.

6 Syarh Az-Zurqani, syarh muwatta Imam Malik oleh Muhammad Abdul Baqi Bin Yusuf Azzurqoni, Mukadimah Hal,5.

7 Manâ ‘l Qattân343 dan Fiqh ‘l Islamî wa Adilatuhu Hal 45

8 Demikian yang disebutkan dalam kitab-kitab sejarah, namun syeikh Manâ ‘l Qattânmenolak hal tersebut, beliau lebih cenderung berpendapat bahwa usia Malik ketika sudah berada dalam usia yang matang, lihat Târikh Tasyri` Manna ’l Qattan,Hal 346.

10 Syarh Az-Zurqani, Muqadimah 1/5.

11 Manna ’l Qattan, Hal 347.

12 Syarhu Az-Zurqani 1/5

13 Ibid, Hal 6

14 Ibid, Hal 6

15 Hilyatu Tâlib’ l Ilmi. Bakr bin Abdullah Abu Zaid, hal 24.

16 Rawai` wa Tarâif, Ibrahim An-Ni`mah, hal. 77

17 Syarh Az-Zurqani hal 5.

18 Ibid hal 8

19 Hilyatu Tâlib’ lIlmi hal 51

20 Târîkh Tasyri`, Manna ’l Qattan, 343.

21 lihat lebih rinci Fiqh ‘l Islâmî wa Adillatuh 1/48.

22 Semenjak kejadian tersebut beliau tidak sanggup meletakan tangan kanannya diatas tangan kirinya seperti yang terdapat dalam Al-Intifa` hal 44, Yang kemudian dijadikan hujjah oleh para pengikutnya”bahwa shalat tidak meletakkan tangan diatas dada setelah bertakbir” Namun hal ini terbantah, karena dua tahun setelah kejadian itu beliau mengarang Al-Muwatta` yang diantaranya berisi : “dan Ia (Rasulullah SAW) meletakan tangannya (tangan kanannya) diatas tangan yang lainnya (tangan kirinya) di dalam salat (hadiah Sulthan Ila Muslim Bilad ’lYaban) oleh Muhammad Sulthan Al-Ma`shumi hal, 57.

23 Hadits ini tidak marfu` melainkan mauquf dari Ibnu Abas diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam Al-Mushanaf , 5/48: “Tidak ada talak bagi orang yang dipaksa dan disiksa”. Rijal-rijalnya adalah tsiqat dan dita`likan oleh Bukhari 9/343. dan lafadznya: Ibnu Abas berkata : “Talak orang yang mabuk dan dipaksa tidak boleh”. Al-Hafidz berkata hadits ini telah disambungkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan Sa`id bin Manshur.

24 Shalâh ’l Ummah, 3/34.

25 Ibid, 3/34.

26 Târikh Tasyri``, Mana `l Qattan 352.

27 Bidâyah wa nihâyah, 7/164.

28 Siyar `Alamin Nubâla ditukil dalam Salah ’l ummah fi uluw ‘l himmah.

29 Arti hadits mursal yang masyhur : hadits yang dirafa` oleh tabi`in, seperti tabi`in berkata “Rasulullah saw bersabda “ (tanpa menyebut nama sahabat). Hukum hadits mursal menurut jumhur muhaddis dan fuqaha dan ushuliyun bahwa hadits mursal adalah dha`if tidak boleh berhujah dengannya (lihat manhaj an-naqd fi ulum ‘l hadits) oleh DR. Nuruddin Attar. Hal 370, Dar el Fikr.

30 silahkan membaca kitab Al-Hafidz ’l-Alaih, jami` ‘t- tahsil.

31 Nurudin Attar, 372.

32 Ibid, orang yang pertama mendefinisikan Munqathi` adalah Al-Hafiz Ibnu Abdul Birr yaitu : munqati` adalah segala sesuatu yang tidak bersambung baik dinisbatkan langsung atau lainnya

33 Manâ ‘l Qattân, 353.

34 Ibid

35 Sebelum pembukuan Al-Muwatta` rampung Abu Ja`far Al-Manshur keburu meninggal dunia lihat Manâ ‘l Qattân, 350.

36 Ibid

37 Lihat Al-Bâ`is Al-Hasîs, oleh Ibnu Katsir, hal 24.

38 Hadits Marfu` yang disandarkan kepada Rasulullah saw baik berupa perkataan, perbuatan, takrir, atau sifat, lihat Manhaj an-Naqd Nurudin Attar.

39Llihat secara rinci Al-Bâ`is Al-Hasîs, oleh Ibnu Katsir, hal 24.

40 Syarh Az-Zurqani hal 12.

41 Manâ ‘l Qattân, 352

42 diriwayatkan didalam muwatta bahwa umar bin khatab pernah membaca aya sajdah sedang beliau ketika itu berada diats mimbar pada hari jum`at, lalu beliau turun dan sujud, lalu oran-orangpun sujud bersamanya. Kemudian pada hari jum`at berikutnya beliau membacanya lagi, lalu ia melarang orang-orang bersujud dan berkata : tetaplah kalian pada posisi kalian, sesungguhnya Allah swt tidak mewajibkan kepda kita bersujud kecuali jika kita mau, maka beliau tidak bersujud dan melarangmereka bersujud. Dalam asar tersebut umar membolehkan imam turun dari mimbar untuk bersujud jika mau apabila membaca ayt sajdah. Lalu imam Malik mengomentari : bukanlah amalan (ahli Madinah) bah imam boleh turun dari mimbar untuk bersujud apabila ia membaca ayat-ayat sajdah.

43 diriwayatkan oleh zaid bn tsabit, salat wusta adalah salat zuhur, sedang Ali bin Abi Thalib dan Ibnu Abas berpendapat shalat wustha adalah slat subuh. Kemuadian imam Malik berkata : perkataan Ali dan Ibnu Abas yang aku lebih senang mendengarnya…. Sebagimana juga dalam riwayat-riwayat lain bahwa alat wustha adalah salat ashar.

44 di dalam muwatta disebutkan bahwa imam malim ditanya tentang wanita haid yang suci dan tidak mendapatkan air, apakah ia boleh bertayamam beliau menjawab: ya, hendaknya ia bertayamum, karena keadaannya seperti orang junub yang tidak mendapatkan air.

45 zari`ah artinya wasilah atau jalan yang menyampaikan pada tujuan, yang dimaksud dengan zari`ah disini ialah jalan untuk sampai kepada yang haram atau lepada yang halal. Wasilah yang menyampaikan kepada yang haram maka hukumnya haram dan wasilah yang menyampaikan kepada yng halal maka halal pula hukumnya.

46 dalam sahih muslim disebutkan: “barang siapa yang berpuasa ramadhan kemudian diikuti dengan enam hari dari syawal maka puasanya seperti setahun”. Akan tetapi imam Malik membenci puasa yang bersambung dengan ramdhan yang berturut-turut karena taut diyakin oleh orang-orang sebagai suatu kewajiban.

47 Al-Hilyah, 6/324, Siyar `alâmin Nubala, 8/99 dinukil kembali dalam `Uluw ’l Himmah 2/182.

48 Ibid. dinukil dari Siyar 8/106-107, tartîb ’l madârik 1/170-176.

49 Syarh Az-Zurqani hal 1/5.

50 `Uluw ‘l Himmah 5/661.

51 Ibid.

52 Ibid. hal 2/183.

53 Kalimat ini pernah diucapkan oleh sang penterjemah Al-Qur`an Abdullah bin Abas, sebagimana yang dipaparkan oleh Taqiyuddin As-Subki didalam Al-Fatawa (1/148) dan beliau mengagumi keelokan dan keindahan perkataan tersebut. Kemudian mujahid mengambil perkataan tersebut dari Abdullah bin Abas, seperti yang terdapat dalam Jami` Bayan ’l-ilmi wafadlihi 1/91 dan Al-Ihkam fi Ushûl ‘l ahkâm 1/145. kemudian Imam Malik mengambilnya dari mujahid yang akhirnya perkataan ini disandarkan kepada imam Malik serta tersebar luas bahwa perkataan tersebut adalah perkataan Imam Malik (lihat hal muslim mulzamu bittiba` mazhab muayyan min ‘l mazahib al-`arb`ah hal.59

54 Ibnu Waqidi menyebutkan bahwa usia beliau mencapai 90 tahun (lihat Bidâyah wanihâyah) Ibnu Katsir.

5 comments on “Malik Bin Anas

  1. Ping-balik: Imam Mâlik « Bejanasunnah's Blog

  2. Ping-balik: Imam Mâlik « Bejanasunnah's Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s