Isbal Dalam Prespektif Ulama

Oleh : Agustiar Nur Akbar

Pendahuluan

Sebagai seorang muslim tentu mencintai dan menjadikan Rasulullah saw sebagai panutan. Panutan yang secara langsung oleh Allah swt disematkan kepada Rasulullas saw.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. (Al Ahzab : 21).

Berusaha untuk mengikuti Rasulullah saw secara keseluruhan merupakan dambaan bagi seorang muslim. Selain hal tersebut sebagai wujud cinta kepada Rasulullah saw. Juga karena Rasulullah saw (baca sunah) salah satu mashadir syariat Islam.

Hal ini menyangkut segala aspek dalam kehidupan, diantaranya termasuk tata cara berpakaian Rasulullah saw. Sebut saja masalah isbal, atau menjulurkan kain hingga menutupi mata kaki. Karena hal yang demikian termasuk ranah fiqih, maka tidak akan lepas dari niza (perdebatan) dikalangan umat.

Kedapannya penulis akan mencoba mengupas lebih lanjut dengan ringkas akan permasalah isbal ini. Apakah ia jatuh hukumnya haram bagi musbil, misalnya. Atau makruh maupun mubah.

Disini penulis hanya akan mengkajinya secara ringkas. Mencoba mengupas apa yang melandasi perbedaan para ulama dalam melihat masalah ini. Kemudian me-rajih-kannya setelah melakukan nadzhar pada dalil-dalil yang ada.

Definisi Isbal

Secara bahasa اسبال  dari bab س ب ل  dapat diartikan memanjangkan atau melabuhkan kain.

اسبال  Juga diartikan ارسال : ” أَسْبَلَ فُلَانٌ ثِيَابَهُ إِذا طَوَّلَهَا وأَرسلها إِلى الأَرض”  (Lisanu Arab, Mukhtar Shohah)

Secara istilah yang dimaksud isbal di sini adalah memanjangkan kain pakaian secara berlebihan hingga menutupi mata kaki. Baik itu pakaian perempuan maupun pakaian laki-laki.

Perselisihan Seputar Isbal

Tidak ada perselisihan diantara jumhur ulama tentang kain yang berada diatas mata kaki (bagi laki-laki). Baik itu sarung ataupun celana seperti yang kita pakai sekarang ini.

Perselisihan dalam masalah ini pada lafadz خيلاء (khuyala) yang berati sombong. Apakah lafadz tersebut menjadi pengkhusus atau qoyid dalam hadis-hadis yang melarang akan isbal.

Pertama; Pendapat yang mengatakan bahwasanya khulaya itu adalah taqyid. Dimana khuyala juga mengkhususkan bagi pelarangan isbal. Diantara yang berpendapat seperti ini adalah, Imam Nawawi, Ibnu Taimiyah, Ibnu ‘Abdi l-Bar, dan yang lainnya.

Kedua; Pendapat yang mengatakan bahwasanya khuyala disana bukanlah qoyid atau takhsis. Atau qoyid dan takhis tidaklah mu’tabar dalam hadis ini. Diantara yang berpendapat seperti ini adalah Imam Abu Ja’far Muhammad, Ibnu ‘Arabiy, Ibnu Bathal, Imam Shon’aniy, Qodhi ‘Iyad  dan yang lainnya.

 

Hukum Isbal

Pertama; Boleh atau mubah. Mereka yang berpendapat bahwasanya isbal itu boleh ada umat dimasa sekarang ini, pada jaman ini. Sedangkan dari ulama terdahulu tidak ada yang berpendapat bahwasanya isbal itu boleh atau mubah. Alasan mereka karena khulaya disana adalah takhsis atau taqyid. Sehingga jika menurunkan kain dibawah kaki tanpa khuyala tidak menjadikannya termasuk yang tercela seperti yang dikatakan di dalam hadis.

Kemudian jaman dahulu dengan jaman sekarang adalah berbeda. Dengan berbedaan jaman ini maka itu menggugurkan alamat khulaya yang berlaku di jaman nabi Muhammad saw. Diantara yang berpendat seperti ini adalah syaikh Ali Jum’ah.

Kedua; Makruh. Mereka yang meng-i’tibarkan qoyid dan takhsis dalam hadis pelarangan isbal.

Ketiga, Haram.. Mereka yang tidak meng-i’tibarkan qoyid dan takhis dalam hadis pelarangan isbal.

Dampak Dari Perselisihan

Dampak dari perselisihan antara mereka yang mengi’tibarkan takhsis dan qoyid dengan yang tidak mengi’tibarkan adalah produk hukum tentang masalah ini. Dan setiap produk hukum mempunyai konskuensinya masing-masing. Bagi mereka yang berpendapat dan meyakini isbal adalah haram. Maka jika melakukannya mereka terkena ancaman dosa. Berbeda bagi mereka yang berpendapat memakruhkannya. Mereka tidak akan terkena ancaman dosa seperti yang terjadi kepada mereka yang mengharamkannya.

Bagi sebagian orang atau kelompok perbedaan dalam masalah ini menjadi pemicu pertengkaran. Yang mana akan merusak ukhuwah islamiyah diantara kaum muslimin. Saling mencela atau menghujat pun tak jarang sering terjadi dikarenakan perselisihan dalam masalah ini.

Kesimpulan

Penulis lebih cenderung kepada pendapat yang mengi’tibarkan takhsis atau taqyid bagi lafadz khulaya. Penulis pun sepakat dengan pendapat Imam Nawawi dan juga yang lainnya. Yang berpendapat, setengah betis adalah sunah, diantara betis dan mata kaki adalah mubah, dan menutupi mata kaki tanpa hajah adalah makruh. Baik dalam sholat maupun diluar sholat.

Yang menarik disini, Imam Nawawi dan Imam Muslim meletakan pembahasan ini kedalam Kitabu l-Iman. Hemat penulis baik bagi kita untuk merenungkan mengapa mereka memasukannya kedalam pembahasan iman.

Tidak ada perselisihan diantara para jumhur ulama akan kain yang berada di atas mata kaki (bagi laki-laki). Kemudian pembahasan ini telah menjadi kajian ulama sejak sekian ratus tahun lamanya. Mereka pun tentu mengamalkan apa yang mereka yakini.

Dari sini kita bisa berekesimpulan. Isbal adalah bukan perkara baru yang aneh diakalang umat muslim. Isbal juga bukan punya satu kelompok tertentu atau menjadi icon kelompok tertentu. Terakhir tidak sepantasnya mengolok-ngolok mereka yang mengambil keputusan untuk mengikuti sunah Rasulullah saw menurut pemahaman ulama terdahulu dalam masalah ini.

Isbal juga berlaku bagi wanita, seperti kisah Umu Salamah yang menanyakan batasan isbal bagi perempuan. Batasannya yaitu, maksimal satu dzara’ atau satu hasta.

Khatimah

Sejatinya sebagai seorang muslim kita harus senantiasa menghidupkan sunnah Rasulullah saw. Dan jika terdapat perbedaan yang tak terelakan dituntut kedewasaan dan pertanggungjawabannya secara ilmiah sebagai seorang tholabul ilmi. Jika kita berada di posisi awam, maka cukup bagi kita untuk mengikuti pendapat yang kita yakini benar. Dengan menghindari taqlid buta.

Sengaja penulis sertakan hadis-hadis secara terpisah, dengan maksud agar mempermudah dalam pemahaman. Hadis-hadis yang penulis sertakan hanya sebagian saja, dan ini bisa dikatakan hadis-hadis yang ma’ruf dalam masalah isbal.

Wallahu a’lam bis showab.

Hadis-hadis Tentang Isbal:

 عن أبي ذر عن النبي صلى الله عليه وسلم  قال: ثلاثة لا يكلمهم الله يوم القيامة ولا ينظر إليهم ولا يزكيهم ولهم عذاب أليم قال فقرأها رسول الله صلى الله عليه وسلم  ثلاث مرارا. قال أبو ذر: خابوا وخسروا من هم يا رسول الله؟ قال: المسبل والمنان والمنفق سلعته بالحلف الكاذب  (رواه مسلم)

Dari Abu Dzar, dari Nabi -shollallahu alaihi wasallam- bersabda: “Ada tiga golongan, -yang pada hari kiamat nanti Allah tidak bicara dengan mereka, tidak melihat mereka, tidak membersihkan (dosa) mereka dan bagi mereka siksa yang pedih”. Rasulullah -shollallahu alaihi wasallam- mengulangi sabdanya itu tiga kali. Abu dzar mengatakan: “Sungguh celaka dan merugilah mereka! Wahai Rasulullah, siapakah mereka?”. Beliau menjawab: “Orang yang isbal, orang yang mengungkit-ngungkit pemberiannya dan orang yang menjual barang dagangannya dengan sumpah palsu”. (HR. Muslim).

عن محمد بن عقيل سمعت ابن عمر يقول: كساني رسول الله صلى الله عليه وسلم قبطية،  وكسا أسامة حلة سيراء. قال: فنظر فرآني قد أسبلت فجاء فأخذ بمنكبي, وقال: يا ابن عمر! كل شيء مس الأرض من الثياب ففي النار. قال: فرأيت ابن عمر يتزر إلى نصف الساق (رواه أحمد وقال الأرناؤوط: صحيح لغيره وهذا إسناد حسن)

Dari Muhammad bin ‘Aqil aku mendengar ibnu umar bercerita: Rasulullah -shollallohu alaihi wasallam- pernah memberiku baju qibtiyah dan memberikan kepada usamah baju hullah siyaro. Ibnu Umar mengatakan: ketika Nabi -shollallohu alaihi wasallam- melihatku isbal beliau datang dan memegang pundakku seraya berkata: “Wahai Ibnu Umar! semua pakaian yang menyentuh tanah, (nantinya) di neraka”. Ibnu Aqil berkata: “Dan (setelah itu) aku melihat Ibnu Umar selalu memakai sarungnya hingga pertengahan betis”. (HR. Ahmad. al-Arnauth mengatakan: Derajat haditsnya shohih lighoirihi, sedang sanad ini hasan).

 قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:  إزرة المسلم إلى نصف الساق ولا حرج أو لا جناح فيما بينه وبين الكعبين, ما كان أسفل من الكعبين فهو في النار, من جر إزاره بطرا لم ينظر الله إليه. (رواه أبو داود وقال الألباني صحيح(

Rasulullah –shollallohu alaihi wasallam- pernah bersabda: “Sarung seorang muslim adalah sebatas pertengahan betis, dan tidak mengapa sarung yang berada antaranya (betis) dan mata kaki. Adapun yang dibawah mata kaki, ia di neraka. Dan barangsiapa yang menyeret sarungnya karena takabur (sombong), maka Allah tidak akan mau melihat kepadanya (pada hari kiamat nanti)”. (HR. Abu Dawud, dan Albany mengatakan: shohih).

    عن عبد الله بن عمر عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: الإسبال في الإزار والقميص والعمامة, من جر منها شيئا خيلاء لم ينظر الله إليه يوم القيامة. (رواه أبو داود وغيره وقال الألباني صحيح)

Dari Abdullah bin Umar dari Nabi -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Isbal bisa terdapat pada sarung, baju ataupun sorban. Barangsiapa menyeret salah satu darinya karena sombong, maka pada hari kiamat nanti, Allah tidak akan mau melihat kepadanya” (HR. Abu Dawud dan yang lainnya. Albany mengatakan, hadits ini shohih).

    عن المغيرة بن شعبة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: يا سفيان بن سهل! لا تسبل, فإن الله لا يحب المسبلين! (رواه ابن ماجه وصححه الألباني)

Dari Mughiroh bin Syu’bah berkata: Rasulullah -shollallahu alaihi wasallam- bersabda: “Wahai Sufyan bin Sahl, janganlah kamu ber-isbal ! Karena sesungguhnya Allah tidak suka terhadap mereka yang ber-isbal” (HR. Ibnu Majah dan dishohihkan oleh Albany)

    عن أبي جري جابر بن سليم الهجيمي قال له رسول الله صلى الله عليه وسلم: ارفع إزارك إلى نصف الساق, فإن أبيت فإلى الكعبين. وإياك وإسبال الإزار, فإنها من المخيلة, وإن الله لا يحب المخيلة. (رواه أبو داود وغيره  وصححه الألباني)

Dari Abu Jari, Jabir bin Sulaim al-Hujaimy: Bahwa Rasulullah -shollallohu alaihi wasallam- menasehatinya: “Angkatlah sarungmu sampai tengah betis! Tapi jika kau tidak berkenan, maka hingga batas mata kaki. Dan jangan sekali-kali meng-isbal-kan sarungmu! Karena isbal adalah termasuk perbuatan sombong, dan Allah tidak menyukai perbuatan sombong. (HR. Abu Dawud dan yang lainnya, dishohihkan oleh Albany).

    عن جبير بن مطعم : أنه كان جالسا مع ابن عمر, إذا مر فتى شاب عليه حلة صنعانية يجرها مسبل قال : يا فتى هلم! قال له الفتى : ما حاجتك يا أبا عبد الرحمن؟ قال : ويحك أتحب أن ينظر الله إليك يوم القيامة؟ قال: سبحان الله وما يمنعني أن لا أحب ذلك؟ قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : لا ينظر الله إلى عبد يوم القيامة يجر إزاره خيلاء. قال : فلم ير ذلك الشاب إلا مشمّرا حتى مات بعد ذلك اليوم. (قال الألباني: رواه البيهقي بسند صحيح)

Jubair bin Muth’im mengisahkan: Dia pernah duduk bersama Ibnu Umar. Ketika ada seorang pemuda yang musbil berjalan dengan baju hullah shon’aniyah yang diseret, Ibnu Umar berkata: “Wahai pemuda, kemarilah!” Pemuda tersebut menimpali: “Apa yang engkau inginkan, wahai Abu Abdirrohman (panggilan kesayangan Ibnu Umar)?” (Ibnu Umar) menjawab: “Celakalah kamu! Tidak senangkah kau seandainya Allah melihat padamu di hari kiamat nanti?” Pemuda itu menimpali: “Subhanallah, adakah yang menghalangiku hingga aku tidak menyenanginya?!” Ibnu Umar berkata: Aku telah mendengar Rasulullah -shollallahu alaihi wasallam- bersabda: “Pada hari kiamat nanti, Allah tidak akan melihat kepada hamba yang menyeret sarungnya karena sombong”. Jubair bin Muth’im mengatakan: “Setelah hari itu, pemuda tersebut tidak pernah terlihat, kecuali ia mengangkat pakaiannya hingga pertengahan betis, sampai meninggalnya”. (Albany mengatakan: Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dengan sanad yang shahih)

    عن عمرو بن فلان الأنصاري قال : بينا هو يمشي وقد أسبل إزاره إذ لحقه رسول الله صلى الله عليه وسلم وقد أخذ بناصية نفسه وهو يقول : ” اللهم عبدك وابن عبدك ابن أمتك ” قال عمرو : فقلت : يا رسول الله إني رجل حمش (دقيق) الساقين فقال : ” يا عمرو إن الله عز و جل قد أحسن كل شيء خلقه يا عمرو ” وضرب رسول الله صلى الله عليه و سلم بأربع أصابع من كفه اليمنى تحت ركبة عمرو فقال : ” يا عمرو هذا موضع الإزار ” . ثم رفعها ثم ضرب بأربع أصابع تحت الموضع الأول ثم قال : ” يا عمرو هذا موضع الإزار ” . ثم رفعها ثم وضعها تحت الثانية فقال : ” يا عمرو هذا موضع الإزار ” (رواه أحمد وصححه الألباني والأرناؤوط)

Amr bin Fulan al-Anshory mengisahkan dirinya: Ketika ia berjalan dengan meng-isbal-kan sarungnya, tiba-tiba Rasulullah -shollallohu alaihi wasallam- menghampirinya, dan beliau telah meletakkan tanganya pada permulaan kepala beliau seraya berkata: “Ya Allah (lihatlah) hambamu, putra hamba laki-laki-Mu dan putra hamba perempuan-Mu!”. ‘Amr beralasan: “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku seorang yang betisnya kurus kering”. Rasulullah -shollallohu alaihi wasallam- menimpali: “Wahai ‘Amr, sesungguhnya Allah ta’ala telah menjadikan baik seluruh ciptaan-Nya!

Maka Rasulullah -shollallohu alaihi wasallam- meletakkan empat jari dari telapak kanannya tepat di bawah lututnya ‘Amr, seraya berkata: “Wahai ‘Amr inilah tempatnya sarung”

Kemudian beliau mengangkat empat jarinya, dan meletakkannya kembali di bawah tempat yang pertama, seraya berkata: “Wahai ‘Amr inilah tempatnya sarung”

Kemudian beliau mengangkat empat jarinya lagi, dan meletakkannya kembali di bawah tempat yang kedua, seraya berkata: “Wahai ‘Amr inilah tempatnya sarung” (HR. Ahmad. Dishohihkan oleh Albany dan al-Arnauth)

عن حذيفة قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : موضع الإزار إلى أنصاف الساقين و العضلة ، فإذا أبيت فمن وراء الساقين ، و لا حق للكعبين في الإزار. (رواه أحمد والنسائي)

Hudzaifah berkata, Rasulullah -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Tempat sarung adalah sampai pertengahan dua betis dan pada tonjolan dagingnya, tetapi jika kamu tidak menghendakinya maka (boleh) di bawah dua betis, dan tidak ada hak bagi mata kaki (tertutupi) sarung. (HR. Ahmad dan Nasa’i­)

    عن زيد بن أسلم: كان ابن عمر يحدث أن النبي صلى الله عليه وسلم رآه وعليه إزار يتقعقع يعني جديدا, فقال: من هذا؟ فقلت: أنا عبد الله. فقال: إن كنت عبد الله فارفع إزارك! قال: فرفعته. قال: زد! قال: فرفعته حتى بلغ نصف الساق. قال: ثم التفت إلى أبي بكر فقال: من جر ثوبه من الخيلاء لم ينظر الله إليه يوم القيامة. فقال أبو بكر: إنه يسترخي [أحد شقي] إزاري أحيانا [إلا أن أتعاهد ذلك منه]. فقال النبي صلى الله عليه وسلم: لست منهم (رواه أحمد والبخاري)

Zaid bin Aslam mengatakan, Ibnu Umar pernah bercerita: Suatu ketika Nabi -shollallahu alaihi wasallam- melihatnya sedang memakai sarung baru. Beliau bertanya: “Siapakah ini?” Aku menjawab: “Aku Abdullah (Ibnu Umar)”. Kemudian Nabi -shollallohu alaihi wasallam- berkata: ”Jika benar kamu Abdullah, maka angkatlah sarungmu!”. (Ibnu Umar) mengatakan: “Aku pun langsung mengangkatnya”. (Nabi) berkata lagi: “Tambah (angkat lagi)!” (Ibnu Umar) mengatakan:  “Maka aku pun mengangkatnya hingga sampai pertengahan betis”. Kemudian Nabi -shollallohu alaihi wasallam- menoleh ke Abu Bakar, seraya mengatakan: “Barangsiapa menyeret pakaiannya karena sombong, maka pada hari kiamat nanti Allah tidak akan melihat kepadanya ”. Mendengar hal itu, Abu Bakar bertanya: “Sungguh salah satu dari sisi sarungku terkadang terjulur, akan tetapi aku selalu menjaganya agar ia tak terjulur”. Maka Nabi -shollallohu alaihi wasallam- menimpali: “Kamu bukanlah termasuk dari mereka” (HR. Ahmad dan Bukhari).

” من جر ثوبه خيلاء لم ينظر الله إليه ” متفق عليه

Siapa yang memanjangkan pakaiannya dengan sombong, maka Allah tidak akan melihatnya. (Mutafaqun ‘alaih)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – نَهَى عَنْ السَّدْلِ فِي الصَّلَاةِ، وَأَنْ يُغَطِّيَ الرَّجُلُ فَاهُ.» رَوَاهُ أَبُو دَاوُد

Dari Abi Hurairah, Sesungguhnya nabi sholallahi ‘alaih wassalam melarang as sadl (isbal) di dalam sholat dan menutupi mulutnya. (H.R Abud Dawud, Tirmidzi)

Maraji’

  1. Subul as Salam Syarah Bulughul Maram Ta’liq Syaikh Albani (Imam Shon’ani) – Maktabah Ma’arif Rhiyad
  2. Fathu l-Bari – Dar al Ma’arif Beirut
  3. Sarh Sohih Muslim Nawawi – Dar Ihyau Turats Beirut
  4. Istifau l-Af’al Fii Tahrim Isbal ‘Ala Rijal – Imam Shon’ani
  5. Lisanu l-‘Arab (Muhammad bin Makram bin ‘Ali Afriqiy, Ibnu Mandzhur Anshori Afriqiy) – Dar Shodr beirut
  6. Mukhtar Shoha (Muhamad bin Abi Bakar bin Abdul Qodir Rozi) – Maktabah ‘Ashriah
  7. Sohih Muslim (Muhaqiq Muhamma Zuhair Nashir an Nashir) Cet pertama – Percetakan Amiriah Cairo
  8. Sohih Bukhari (Muhaqi Fuad Abdul baqi ) – Ihyau Turats ‘Arabiy Beirut
  9. Raudha Tholibin Wa ‘Umdah Muqtiin (Imam Nawawi) – Maktabah Islamiy, Beirut, Yaman, Damasqus
  10. Tufahtu Muhtaj Fii Syarah Minhaj (Ahmad bin Muhamd bin ‘Ali bin Hajar Haitami) – Maktabah Tijariah Kubri Mashri
  11. Mughni Muhtaj Fii Syarh Ma’aniy (Syamsudin, Muhamad bin Ahmad Khatib Syarbiniy) – Dar al Kitab ‘Ilmiah
  12. Fiqhu Manhaji ‘Ala madzhab Imam Syafi’I ( – Dar al Qolam Damsqus
  13. Mawahib Jalil Fii Syarh Mukhtashr Khalil (Syamsudin Abu ‘Abdillah Muhammad bin Muhammad bin ‘Abdurrahman Thurablisi Maghribiy Khatib Ru’iniy Malikiy) – Dar al Fikr
  14. Syarh Mukhtashr Khalil Lilkharsiy (Muhammad bin ‘Abdullah Kharsiy Malikiy) – Dar al fikr Beirut
  15. Majmu’ Syarah Madzhab (Imam Nawawi) – Dar al Fikr
  16. Rohisonline.com
  17. http://ascooor.maktoobblog.com/

9 comments on “Isbal Dalam Prespektif Ulama

  1. kalau mengikuti rosul niscaya tidak akan ada rasa sombong (berbangga dengan apa yang dipakainya) seperti yang terjadi pafa zaman sekarang ini dalam berpakaian.

  2. “Aku (Ibnu Umar) pernah melewati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sementara kain sarungku terjurai (sampai ke tanah). Beliau pun bersabda, “Hai Abdullah, naikkan sarungmu!”. Aku pun langsung menaikkan kain sarungku. Setelah itu Rasulullah bersabda, “Naikkan lagi!” Aku naikkan lagi. Sejak itu aku selalu menjaga agar kainku setinggi itu.” Ada beberapa orang yang bertanya, “Sampai di mana batasnya?” Ibnu Umar menjawab, “Sampai pertengahan kedua betis.” (HR. Muslim no. 2086)

    apakah abdulah ibn umar orang yang sombong?? tentu tidak.. tapi Rasululloh SAW menyuruh beliau menaikkan sarungnya..

    bila hukumnya makruh tentu tidak ada konsekuensi jika mengabaikannya,, nyatanya dari hadits2 diatas jelas konsekuensinya..

    wallahu a’lam..
    wassalam

  3. Assalaamu’alaikum. Saya melihat ada beberapa poin penting yang harus diperjelas terlebih dahulu dalam hal hadits tentang isbal, sehingga lebih memperjelas kita dalam memahami hadits. Satu poin yang menurut saya sangat penting untuk diperjelas adalah adalah pengertian dari kata “Sombong” dalah hadits-hadits di atas.
    Apakah sombong terhadap makhluq ataukan justru kepada Allah SWT.
    Pendapat saya tentang pengertian sombong pada hadits-hadits diatas adalah:

    Karena hadits-hadits di atas memuat perintah Allah melalui Rasul-Nya, maka saya usulkan suatu definisi yang senada, yaitu berdasarkan QS. Al-Baqoroh ayat 34:

    Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat:”Sujudlah kamu kepada Adam”, maka sujudlah mereka kecuali iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.

    Dua kata yang kita cermati dalam ayat tersebut:

    1. FirmanNnya: [ia enggan] artinya : menolak untuk sujud
    2. FirmanNya: [dan takabur] artinya : berbesar hati/berbangga hati kepada dirinya sendiri

    Sementara ada pernyataan Rasul SAW yang menyatakan bahwa isbal sendiri adalah bentuk kesombongan. Orang yang berisbal artinya orang yang menolak untuk tidak melabuhkan kain melampaui batas yang telah ditentukan oleh Allah dan Rasul-Nya. Artinya adalah orang yang tetap memanjangkan kainnya melampaui batas yang telah ditentukan oleh Allah dan Rasul-Nya dengan kata lain tidak mau terima/ tidak ridho dengan perintah tersebut itulah yang dimaksud dengan orang yang menyombongkan diri kepada Allah SWT. Maka sangat pantas Allah tidak mau melihat orang seperti itu kelak.
    Abu Bakar r.a. dikatakan tidak sombong dalam hal ini karena beliau memang pada dasarnya sudah mentaati perintah untuk tidak berisbal hanya saja kondisi yang membuat kainnya melorot.
    Sekarang coba subtitusi kata “sombong” dengan kata “menolak untuk taat (terhadap perintah tersebut)” maka akan lebih jelas maksud dari hadits tersebut.
    Dan masih ada poin-poin lain yang sebenarnya perlu diklarifikasi.
    Demikian, mohon maaf. wallahu a’lam.
    Wassalaamu’alaikum

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s