IKHLAS; Tanpanya amal hanya sia-sia…

Oleh : Sujang El-Sundawy*

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus” (QS. Al-Bayyinah: 5)

“Hanyasanya segala amal itu tergantung niatnya. Dan seseorang itu akan mendapatkan apa yang dia niatkan…” (HR. Imam Bukhari: 54)

Sahabat Muslim yang Semangat

Tentunya sahabat sudah sangat dekat bahkan sering mendengar kata ikhlas, kita sering mendengar orang menyebut-nyebut kata ikhlas tersebut. Tapi apakah sahabat sudah memahami dengan baik apa itu ikhlas?? So, dalam tulisan sederhana ini saya akan mencoba untuk berbagi pengetahuan mengenai ikhlas.

Sahabat Musalim yang Semangat

Suatu saat Rosulullah menatap satu persatu para sahabat yang sedang berkumpul dalam majlis. Suasana sangat hening. Tiba-tiba ada seorang hadirin yang berkata, “Ya Rosulullah, bila pertanyaanku ini tidak menimbulkan kemarahan bagi Allah, sudilah kiranya engkau menjawabnya.”

“Apa yang hendak engakau tanyakan itu?” Tanya Rosulullah dengan nada suara yang lembut.

Dengan sikap yang agak tegang, sahabat tersebut itu pun bertanya, “Siapa diantara kami yang akan menjadi ahli surga?”

Pertanyaan yang sungguh keterlaluan, setengah sahabat menilainya setengah ujub (bangga atas diri sendir) atau riya dan tidak sedikit yang murka. Adalah Umar bin Khathab yang terlebih dahulu bereaksi, bangkit dan menghardik si penanya. Untunglah Rosulullah menoleh kearahnya dan memberi isyarat agar ia menahan diri.

Rosulullah menatap ramah, Beliau menjawab dengan tenangnya, “Engkau lihatlah ke arah pintu, sebentar lagi orang itu akan muncul.”

Setiap mata menoleh ke ambang pintu, setiap hati bertanya-tanya, siapa gerangan orang hebat yang disebutkan oleh Rosulullah. Namun, manakala orang itu mengucapkan salam kemudian berbaur kedalam majlis, keheranan semakin bertambah, sosok tubuh itu tidak lebih dari seoarang pemuda sederhana. Ia adalah wajah yang tidak pernah mengangkat kepala bila tidak ditanya dan tidak pernah membuka suara bila tidak diminta. Ia bukan pula termasuk dalam deretan daftar sahabat dekat Rosulullah.

Apa kehebatan pemuda ini?? Setiap sahabat penasaran menunggu penjelasan dari Rosulullah.

Menghadapi kebisuan ini Rosulullah bersabda: “Setiap gerak-gerik dan langkah perbuatannya hanya ia ikhlaskan semata-mata mengharap ridha dari Allah. Itulah yang membuat Allah menyukainya.”

Bagai duri menusuk dada, bagai halilintar menyambar jiwa, semua sahabat tersentak. Ikhlas alangkah indah makna yang terkandung didalamnya. Ikhlas bersih dari segala maksud pribadi, dari segala pamrih dan riya, mengharap pujian dari orang lain, bebas dari perhitungan untung rugi material. Ikhlas, bersih dari segala hal yang tidak disukai Allah. Ikhlas dalam menjadikan Allah sebagai pencipta, pemilik, pemelihara, dan penguasa alam raya. Ikkhlas dalam menerima Allah sebagai satu-satunya zat yang berhak untuk diruku’i dan disujudi, diharapkan, dicintai, ditakuti, diikuti. Ikhlas menerima nabi Muhammad sebagai teladan, penjelas, penyampai risalah Islam yang sempurna, dan ikhlas menerima al-Quran sebagai pedoman hidup.

Suasana kembali membisu, sebagian sahabat berkaca-kaca, air mata mengembang di ujung mata mereka, menelusuri niat dalam hati. Sudahkah ikhlas tertanam kokoh dalam hati??

Itulah sahabat muslim, sebuah ilustrasi tentang ikhlas. Betapa ikhlas memiliki makna yang sangat berarti dalam setiap aspek kehidupan kita. Mempunyai arti untuk setiap amal yang kita lakukan. Lalu apa arti ikhlas itu sendiri?

Ikhlas adalah salah satu tiang akhlak islami, tanpa ikhlas, amal apapun akan lenyap, tidak memiliki manfaat. Ikhlas adalah kualitas tertinggi kemurnian hati, hanya karena Allah dan untuk Allah.

Ikhlas adalah memurnikan tujuan bertaqorrub kepada Allah dari hal-hal yang mengotorinya. Ikhlas adalah menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan dalam melaksanakan segala bentuk ketaatan baik yang nyata atau pun tersembunyi. Ikhlas adalah ketika seseorang melakukan sesuatu kebaikan maka ia mengabaikan pandangan makhluk dan selalu terfokus kepada kholiq.

Inilah ikhlas, yang mesti kita tanamkan dalam hati untuk setiap aktivitas dan amal kebaikan yang kita lakukan. Ikhlas sebelum melakukan sesuatu, ketika sedang, dan setelah melakukannya.

Rosulullah bersabda:

Sesungguhnya Allah tidak akan menerima suatu amal, kecuali jika dikerjakan murni karena-Nya dan mengharap wajah-Nya”. (HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i)

Apabila suatu amalan telah tercampuri harapan-harapan duniawi –yang disenangi oleh diri dan hati manusia- sedikit atau banyak, maka sungguh kejernihan amal itu telah tercemari. Dan hilanglah keikhlasan. Kebanyakan manusia terlena dalam harapan-harapannya dan juga syahwatnya. Hampir tidak ada satu amalan atau ibadah yang dilakukan oleh seseorang, bisa benar-benar bersih dari harapan-harapan yang sebenarnya tidak berharga ini. Oleh itulah ada pepatah, ‘Barang siapa yang sesaat dari umurnya telah ikhlas, hanya mengharap wajah Allah, pastilah ia akan selamat.’

Maka ikhlas adalah salah satu barometer diterima atau tidaknya suatu ibadah atau amal kebaikan bagi seorang hamba. Sehebat apapun amalan atau ibadah seorang hamba, kalau tidak disertai dengan keikhlasan, maka amalan atau ibadah tersebut tidak akan bernilai apa-apa dihadapan Allah, bahkan ia akan dilemparkan kedalam neraka. Maka, diantara syarat diterimanya amal kebaikan atau ibadah itu adalah; ikhlas dan sesuai dengan contoh Rosul.

Dan kita sadari sahabat muslim yang semangat, bahwa untuk memurnikan niat atau tujuan dari setiap perbuatan yang kita lakukan memang sangat sulit, perlu belajar dan belajar, juga memohon kepada Allah untuk dijadikan sebagai hamba-Nya yang ikhlas. Karena ujian keikhlasan sangat berat, dan syaitan tidak akan pernah berhenti untuk terus menjerumuskan kita dalam dosa, sehingga kita jadi temannya nanti di neraka. Namaun perlu kita yakini bahwa Allah menjelaskan dengan tegas bahwa syaitan tidak akan pernah bisa menjerumuskan hamba-Nya yang ikhlas. Sebagaimana firman-Nya:

“Kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka”.

Oleh itu kita harus senantiasa berusaha untuk selalu mengikhlaskan niat kita ketika melakukan suatu perbuatan. Jangan sampai amal ibadah yang telah kita lakukan tidak bernilai apa-apa dihadapan Allah. Diantara resep untuk ikhlas adalah memupus kesenangan-kesenagan hawa nafsu, ketamakan terhadap dunia, dan berusaha memfokuskan hati kepada negri yang kekal yaitu negri akhirat. Hal ini bisa memudahkan kita untuk menggapai keikhlasan. Banyak diantara kita yang berpanyah-panyah dalam beramal dan menyangka bahwa ia melakukannya dengan ikhlas karena Allah, padahal dalam kenyataannya ia tertipu. Dan itu disebabkan karena tidak memperhatikan perkara-perkara yang bisa merusak keikhlasan.

Allah berfirman:

Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. ” (QS. Al-KAhfi: 103-104)

Sahabat Muslim yang Semangat,.

Yu, kita mulai untuk ikhlas dalam setiap amal kita, jangan sampai kita terpeleset dalam amal yang kita lakukan bukan karena Allah. Coba kita perhatikan hadits berikut, sebuah hadits yang sangat menyentuh dan menjadi pelajaran bagi kita, betapa merugi mereka yang melakukan amal kebaikan tanpa disertai keikhlasan. Rosulullah bersabda:

Sesungguhnya orang yang pertama diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid. Dia didatangkan ke pengadilan, diperlihatkan kepadanya ni’mat-ni’matnya. Maka dia pun mengakuinya. Allah bertanya: ‘Apa yang kau perbuat dengan ni’mat-ni’mat itu?’ Dia menjawab: ‘Aku berperang karena Engkau hingga aku mati syahid.’ Allah berfirman: ‘Engkau dusta, tetapi engkau berperang supaya dikatakan sebagai seorang pahlawan.’ Dan memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu). Kemudian diperintah agar dia diseret dengan muka tertelungkup lalu dilemparkan ke dalam neraka.

Berikutnya adalah seorang yang mempelajari ilmu dan mengajarkannya serta membaca al-Quran. Dia didatangkan ke pengadilan Allah. Lalu diperlihatkan kepadanya ni’mat-ni’matnya. Maka dia pun mengakuinya. Allah bertanya: ‘Apa yang engkau perbuat dengan ni’mat-ni’mat itu?’ Dia menjawab: ‘Aku mempelajari ilmu dan mengajarkannya serta aku membaca al-Quran karena-Mu’. Allah berfirman: ‘Engkau dusta. Tetapi engkau mempelajari ilmu agar disebut sebagai orang ‘Alim’ dan engkau membaca al-Quran agar disebut sebagai seorang Qori. Dan memang begitulah yang dikatakan tentang dirimu. Kemudian diperintahkan agar ia diseret dengan muka tertelungkup hingga dilemparkan kedalam neraka.

Berikutnya adalah orang yang diberi kelapangan oleh Allah dan juga diberi berbagai macam harta. Lalu dia didatangkan ke pengadilan dan diperlihatkan kepadanya ni’mat-ni’matnya. Maka dia pun mengakuinya. Allah bertanya: ‘Apa yang kau perbuat dengan ni;mat-ni’mat itu?’ Dia menjawab: ‘Aku tidak meninggalkan suatu jalan pun yang Engakau suka agar dinafkahkan harta, melainkan aku pun menafkahkannya karena-Mu’. Allah berfirman: ‘Engakau dusta. Engkau melakukannya agar kau disebut sebagai seorang yang dermawan,’ Dan memang begitulah yang dikatakan tentang dirimu. Kemudian diperintahkan agar ia diseret dengan muka tertelungkup hingga dilemparkan kedalam neraka. (HR. Imam Muslim)

Betapa pun besarnya amal yang kita lakukan dan kellihatannya hebat namun jika kita ikhlas dalam melakukannya maka amalan itu akan sia-sia saja, tidak bermanfaat. Tapi sebaliknya amalan baik sekecil apa pun tapi kita lakukan dengan ikhlas maka pahalanya besar ihadapan Allah.

Itulah ikhlas mampu memberi kekuatan yang sangat luar biasa. So,… semakin jelaslah sahbat muslim yang semangat, bahwa ikhlas sangatlah penting dalam seluruh aktivitas kita. Jadi, setelah kita mengetahui betapa pentingnya ikhlas untuk kita. Nah… sekarang kita harus memulai segala aktivitas kita dengan niat yang ikhlas, memurnikan tujuan hanya mengharap wajah dan pahala dari Allah. Dalam segala aktivitas yang kita lakukan. Jangan sampai amalan yang kita lakukan menjadi sia-sia.

Mereka berkata tentang ikhlas;

    • Ya’kub berkata; “Orang yang ikhlas adalah orang yang menyembunyikan kebaikan-kebaikannya sebagaimana ia menyembunyikan keburukan-keburukannya”.
    • As-Suusiy berkata: “Ikhlas adalah tidak merasa telah berbuat ikhlas. Barang siapa yang masih menyaksikan keikhlasan dalam ikhlasnya, maka keikhlasannya masih membutuhkan keikhlasan lagi”.
    • Suhail pernah ditanya tentang sesuatu yang paling berat bagi diri. Ia menjawab: “Yaitu ikhlas, sebab dengan ikhlas, diri tidak mendapatkan bagian dari apa yang dikerjakan sama sekali”.
  • Fudhail berkata: “meninggalkan amal karena orang lain adalah riya. Sedangkan beramal karena orang lain adalah syirik. Adapun ikhlas adalah ketika Allah menyelamatkanmu dari keduanya”.

*Anggota Pwk. PP Persis Mesir

**Tulisan ini bisa dibuka juga di http://edukasi.kompasiana.com/2011/11/10/ikhlas/

One comment on “IKHLAS; Tanpanya amal hanya sia-sia…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s