Selayang Pandang Tentang Fiqih Islam*

Oleh Arif Rahman Hakim**

Pengertian Fiqih

Fiqih secara etimologi (bahasa Arab) memiliki arti pemahaman (al-fahm). Oleh karena itu orang-orang Arab (sebelum islam) menggunakan kata faqîh untuk seorang cendikiawan yang mempunyai ilmu yang luas.
Selain itu, masih secara bahasa fiqih berarti pengetahuan (al-‘ilm). Hal tersebut bisa kita lihat penggunaannya pada istilah fiqh al-lughah yang mempunyai makna hampir sama dengan ‘ilmu al-lughah karena isinya sama-sama membahas tentang kaidah-kaidah dan aturan bahasa Arab.
Adapun secara terminologi makna fiqih mengalami perubahan dari masa ke masa. Dari maknanya yang begitu luas dan mencakup berbagai objek seiring dengan perubahan zaman maknanya terus menyempit dan menjadi suatu disiplin ilmu yang khusus, tidak ada bedanya dengan filsafat yang pada akhirnya berubah menjadi salah satu disiplin ilmu tertentu.
Fiqih pada masa awal tasyri’ (takwîn) mempunyai arti yang umum yaitu pemahaman terhadap ajaran agama islam secara menyeluruh. Hal ini bisa kita lihat pada ayat-ayat al-Qur’an yang menggunakan kata fiqih yang disandingkan dengan kata dien (agama). Juga pada hadits-hadits Nabi Saw. Yang di antaranya ketika beliau mendo’akan Ibnu Abbas, beliau berkata Allahumma faqqihhu fi al-dîn wa ‘allimhu fi al- ta’wîl.
Penggunaan istilah fiqih dengan makna umum tersebut terus berlanjut sampai pada masa tadwîn tasyri’ (kodifikasi) periode awal. Terbukti dengan kitab al-fiqh al-akbar yang dinisbatkan kepada Abu Hanifah. Yang mana isinya membahas tentang pokok-pokok keyakinan (akidah) islam dan bukannya membahas tentang permasalahan hukum.
Barulah pada akhir abad kedua hijriyah, fiqih mengalami penyempitan makna. Fiqih hanya digunakan secara eklusif dalam permasalahan hukum. Di mana saat itu para ulama sudah mulai menulis karya-karya yang berdiri sendiri mengenai masalah khusus ini. Seperti karya-karya Abu Yusuf (182 H) dan al-Syaibani (189 H) merupakan usaha sistematis yang pertama kali dalam bidang ini.
Adapun yang menjadi sebab terjadinya penyempitan makna tersebut adalah karena semakin luasnya wilayah khilafah islamiyyah waktu itu sehingga banyak orang-orang asing yang memeluk agama islam. Maka di sanalah mulai terjadinya dialektika peradaban sebagaimana lazimnya. Hal tersebut sebagaimana yang disinyalir oleh Prof. Dr. Ahmad Hasan, ia mengatakan:
Alasan terjadinya perubahan ini jelas sekali, karena masyarakat kaum muslimin semasa hidup rasulullah tidaklah sedemikian kompleks dan beraneka ragam sebagaiamana tumbuh kemudian. Pembauran kaum muslimin dengan kaum non-muslim di daerah-daerah takluskan, munculnya beberapa madzhab hukum dan theologis dalam islam, serta perkembangan ilmu-ilmu keislaman merupakan faktor-faktor utama yang menyebabkan perubahan arti beberapa istilah dalam islam yang sederhana dan tidakpelik sebagaimana yang dipahami kaum muslimin pada masa rasululah.
Maka mulai dari akhir abad kedua hijriyah sampai sekarang fiqih dipahami sebagai satu disiplin ilmu yang membahas tentang hukum syari’ah praktis sebagai hasil dari ijtihad yang berdasarkan kepada dalil-dalilnya yang rinci. Sebagaimana yang tercantum jelas dalam literatur-literatur ushul fiqih.
Abdu al-Wahab Khalaf mencatat bahwa fiqih menurut istilah ialah ilmu tentang hukum-hukum syar’I yang bersifat praktis yang didapatkan dari dalil-dalilnya yang rinci. Atau fiqih juga bisa didefinisikan sebagai kumpulan hukum-hukum syar’I praktis yang diambil dari dalil-dalilnya yang rinci.
Dari definisi yang telah disepakati oleh para ulama tersebut maka ada dua objek ilmu fiqih sebagaimana yang dipaparkan dengan gamblang oleh Muhamad Abu Zahrah. Yang pertama, adalah hukum syar’I praktis, maka hukum-hukum yang berkaitan dengan pokok-pokok keyakinan (akidah) tidak termasuk ke dalam pengertian fiqih secara terminologi. Kedua, dalil-dalil yang rinci untuk setiap permasalahan hukum.
Namun makna fiqih yang sekarang banyak dipahami oleh umat islam ternyata hanya sebatas fiqih ibadah saja. Ketika terdengar kata fiqih maka yang tergambar oleh masyarakat luas ialah tata cara wudlu, rukun shalat, syarat wajib zakat, pembatal shaum, rukun sahnya haji dan hal-hal lainnya yang hanya terbatas pada makna ibadah saja. Padahal fiqih walaupun hanya membicarakan sekitar hukum syar’I secara aplikatif meliputi cakupan yang luas yaitu seluruh aspek kehidupan manusia. Karena yang menjadi objek fiqih adalah perbuatan (‘amaliyah) manusia ditinjau dari segi hukumnya. Untuk masalah cakupan dan ruang lingkup fiqih lebih jelasnya akan dibahas dalam pembahasan cabang-cabang ilmu fiqih.

Sumber-sumber Fiqih Islam
Sebagaimana yang diterangkan di atas bahwa fiqih merupakan pengetahuan tentang hukum syari’ah praktis yang diambil dari dalil-dalilnya yang rinci. Maka apa yang menjadi dalil-dalil tersebut yang menjadi sumber fiqih dalam melahirkan suatu hukum tentang suatu perbuatan mukallaf.
Dr. Thaha Jabir al-‘Alwani merangkum pendapat Imam al-Ghazali dan ulama-ulama ushul fiqih lainnya, bahwa yang menjadi sumber fiqih itu ada tiga. Pertama, wahyu yang meliputi al-Qur’an dan sunnah. Kedua akal berupa tafsiran-tafsiran bagi al-Qur’an maupun sunnah Nabi Nabi, juga termasuk di dalamnya berijtihad menentukan hukum sesuatu yang tidak terdapat di dalam nash. Ketiga, eksperimen, adat kebiasaan dan mashlahat.
Dan jika kita merujuk kepada literatur-literatur ushul fiqih, kita akan mendapati dua jenis dalil. Yang pertama dalil yang disepakati oleh para ulama sebagai sumber yang layak dijadikan pijakan (adillah muttafaq alaiha) dan yang kedua dalil-dalil yang dipertentangkan kevaliditasannya untuk dijadikan argumen (adilah mukhtalaf fieha).
Dalil-dalil yang sudah disepakati ini ada empat yang di antaranya ialah:
Al-Qur’an
Para ulama mendefinisikan al-Qur’an ini sebagai firman Allah yang diturunkan kepada Rasulullah Saw. Melalui malaikat Jibril selain sebagi bukti kerasulan Nabi Muhammad Saw. Juga sebagai aturan hidup bagi seluruh manusia. Firman Allah tersebut terkodifikasikan dalm sebuah mushaf (lembaran-lembaran kertas yang disatukan menjadi buku) yang dimulai dengan surat al-Fâtihah dan diakhiri dengan surat al-Nâs. Diriwiyatkan dan sampai kepada kita dengan cara mutawatir (dari orang banyak dan diterima oleh orang banyak pula) yang terpelihara dari segala bentuk perubahan.
Di antara karakteristik al-Qur’an ini adalah wahyu Allah yang berbentuk lafad dan makna. Maksudnya bahwa baik lafad maupun maknanya berasal dari Allah langsung dan bukan bahasa Nabi Muhammad Saw. Berbeda dengan hadits.
Sudah menjadi konsensus bahwa al-Qur’an merupakan sumber yang pertama bagi syari’ah Islam. Bukan hanya sumber untuk hukum saja, tetapi al-Qur’an merupakan sumber seluruh ajaran islam sebagai satu-satunya agama yang diridhai Allah Sang Khaliq.
Walaupun dalil yang berasal dari al-Qur’an bersifat qat’iyu tsubut tetapi dari segi dilalahnya ada yang bersifat qath’î dan ada yang zhannî. Nash yang qath’îyu dilalah sudah tidak perlu lagi kepada penafsiran yang detail, karena dengan sendirinya ia telah mejelaskan secara detail tentnag hukum yang terkandung dalam nash tersebut. Contohnya saja seperti ayat-ayat warits, shaum, zakat dan ayat-ayat lainnya yang serupa.
Berbeda dengan ayat-ayat yang zhannîyu dilalah yang tidak secara detail menerangkan tentang suatu hukum, oleh karena itu ayat tersebut memerlukan penafsiran yang detail baik itu dari ayat lain, sunnah Nabi dan sumber-sumber lainnya yang diakui secara konsensus. Contohnya ayat-ayat yang bersifat umum, muthlaq dan lainnya yang serupa yang memerlukan penjelasan lebih lanjut.
Sunnah
Dengan sederhana para fuqaha mendefinisikan sunnah sebagai segala sesuatu yang berasal dari Nabi Muhammad Saw. Selain al-Qur’an baik itu berupa perkataan, perbuatan maupun persetujuannya terhadap suatu perkara yang diperbuat oleh sahabatnya.
Namun ternyata tidak semua yang datang dari Nabi itu sunnah yang harus kita ikuti, karena ada beberapa perbuatan yang dikhususkan bagi Nabi saja, contohnya menikah lebih dari empat, wajibnya shalat qiyamu al-lail dan perbuatan lainnya yang dikhususkan bagi Nabi Saw. Maka yang demikin itu tidak termasuk kategori sunnah. Selain itu juga ti dak semua perkataan dan perbuatan Nabi Saw. Bisa dijadikan argumen hukum. Karena biarpun Nabi, beliau tetap seorang manusia. Maka perkataan dan perbuatan Nabi Saw. Yang bisa dijadikan hujjah adalah yang didukung dengan wahyu dan isi dari perbuatan maupun perkataannya ditujukan untuk menerangkan ajaran agama.
Sunnah merupakan sumber syari’ah islam yang kedua setelah al-Qur’an. Dan hal ini sudah menjadi konsensus di kalangan umat islam kecuali bagi mereka yang belum memahami islam secara utuh. Sebagaimana perkataan al-Syaukani yang dikutip Dr. Ahmad al-Hashari dalam bukunya: “Legitimasi sunnah dengan keindependenannya sebagai argumen dan sumber hukum merupakan hal yang sudah pasti dan tidak bisa diragukan lagi. Dan tidak ada seorangpun yang mengingkari hal itu kecuali bagi orang yang tidak memahami islam secara utuh.”
Ijma’
Pada garis besarnya ijma’ merupakan kesepakatan para mujtahid umat pada satu zaman setelah Nabi Saw. Wafat tentnag satu perkara hukum syar’I praktis.
Ijma’ tidak seperti al-Qur’an dan sunnah yang merupakan sumber hukum yang independen. Ijma’ tidak melahirkan hukum yang baru. Karena ijma’ harus selalu bersandar kepada nash dan tidak bisa tidak.
Tentang kehujjahan ijma’ ini sudah menjadi konsensus umat dan diakui bersama kelayakannya menjadi sumber hukum dengan syarat tidak bertentangan dengan nash.
Qiyas
Qiyas oleh para ulama ushul fiqih didefinisikan sebagai penyerupaan hukum suatu perkara yang tidak terdapat di dalam nash kepada perkara yang hukumnya secara gamblang terdapat dalam nash karena terdapat kesamaan sebab di antara keduanya.
Sama seperti tiga sumber hukum yang pertama, qiyas pun sudah menjadi konsensus untuk dijadikan sebagai argumen hukum. Selain itu juga, prinsip yang digunakan oleh qiyas yaitu mencari keserupaan sebab adalah prinsip yang digunakan al-Qur’an dalam menerangkan suatu perkara. Hal ini lebih memperkuat bahwa qiyas layak dijadikan argumen.
Sedangkan dalil-dalil yang masih diperselisihkan kekuatan hukumnya untuk dijadikan sumber hukum di antaranya:
Istishlâh
Istishlâh adalah sebuah usaha menentukan hukum yang tidak terdapat dalam nash maupun ijma’ dengan memperhatikan mashlahat yang terkandung dalam suatu perkara tersebut.
Sedangkan yang dimaksud dengan mashlahat di sini adalah manfaat yang dimaksudkan oleh Allah untuk hamba-hambaNya seperti menjaga keberadaan agamanya, jiwanya, akalnya, keturunannya, dan hartanya.
Istihsân
Para ulama ushul fiqih berbeda pendapat dalam mendefinisikan istihsan ini. Namun Dr. Musthafa Dib al-Bugha dalam bukunya lebih condong memilih pendapat Abu al-Hasan al-Kurkhi al-Hanafi ketika mendefinisikan istihsan sebagai suatu dalil yang bertentangan dengan qiyas jali atau dengan kata lain mentakhshish qiyas dengan dalil yang lebih kuat darinya. Alasan beliau memilih definisi ini adalah karena definisi tersebut dianggap sebagai definisi yang paling komprenhensif dan banyak digunakan pada literatur-literatur fiqih.
Istishâb
Istishab diartikan sebagai menentukan hukum dengan cara memberlakukan tetapnya keberadan sesuatu sehingga ada argumen lain yang menyatakannya tidak ada ataupun sebaliknya.
Saddu Dzari’ah
Saddu Dzari’ah didefinisikan sebagai pelarangan terhadap perkara yang pada dasarnya dibolehkan namun bisa menyebabkan terjadinya perkara yang diharamkan. Oleh karena itu pada prinsipnya saddu dzari’ah merupakan usaha preventif untuk mencegah terjadinya pelanggaran hukum.

Karakteristik Fiqih Islam
Karena fiqih merupakan salah satu dari khazanah pengetahuan yang mempunyai sumbu ke langit, maka tentu saja karakteristik yang dimiliki syari’ah islam sebagai aturan yang Allah turunkan untuk umat manusia dimiliki juga oleh fiqih. Karena fiqih merupakan salah satu bagian dari sistem syari’ah islam yang komprehensif. Dan kalau kita perhatikan apa yang ditulis oleh Dr. Yusuf Qardhawi ketika menerangkan karakteristik fiqih islam sebenarnya adalah karakteristik syari’ah itu sendiri. Ia mengatakan: “Karakteristik dan keistimewaan yang dimiliki fiqih islam atau bisa juga disebut karakteristik syari’ah islamiyah tidak akan cukup diterangkan dan ditulis dalam sebuah buku tetapi akan memerlukan berjilid-jilid buku…”
Di sana beliau menyamakan antara karakteristik syari’ah dengan fiqih. Hal itu memang tidaklah aneh karena fiqih merupakan bagian dari sejumbah anasir syari’ah.
Selanjutnya dalam bukunya itu Dr. Yusuf Qardhawi menjelaskan dengan ringkas karakteristik-karakteristik tersebut, di antaranya ialah:
Bersumber langsung dari Allah
Fiqih mempunyai sumber yang datang langsung dari Allah yaitu wahyu yang terdapat dalam al-Qur’an dan sunnah yang berisi tentang pokok-pokok aturan dengan sasaran dan tujuan yang telah ditetepkan demi kemashlahatan manusia.
Menumbuhkan nurani dan kesadaran menta’ati hukum
Karena sumbernya yang langsung dari Allah, hal tersebut menumbuhkan dalam diri manusia sebagai pelaksana hukum Allah tersebut nurani kesadaran untuk menta’atinya. Karena rasa takut akan pengawasanNya mendorongnya untuk selalu ta’at di mana dan kapanpun juga.
Manusiawi (humanis)
Lagi-lagi karena sumbernya yang langsung dari Allah Sang Pencipta alam semesta termasuk di dalamnya manusia, maka isi dari aturan tersebut benar-benar sesuai dengan kemashlahatan manusia. Allah yang menciptakan manusia, maka Dia juga yang paling mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-hambaNya. Terbukti dengan hak-hak asasi manusia dam kebebasan yang sangat dijunjung tinggi oleh Syari’at Islam.
Komprehensif
Sebagaimana yang kita ketahui bahwa fiqih tidak hanya membahas hubugan manusia secara vertikal saja namun juga tidak luput dari pembahasan hubungan manusia secara horizontal. Dengan demikian ruang lingkup fiqih mencakup segala aspek kehidupan manusia yang selanjutnya akan dibahas pada pembahasan tentang cabang-cabang ilmu fiqih.
Menjunjung tinggi moralitas
Jika kita perhatikan hukum-hukum yang terdapat pada fiqih ibadah, mu’amalah, ahwal syakhshiyah, hudud dan fiqih lainnya, kita akan menemukan bahwa pada prinsipnya semua hukum itu bertujuan untuk mengarahkan dan memelihara moral manusia menjadi baik. Sebagai contoh kita bisa lihat tujuan dari diperintahkan shalat di antaranya ialah untuk mencegah manusia dari perbuatan tercela.
Universal
Sebagai efek dari sumbernya yang pertama yaitu al-Qur’an bersifat universal karena ia ada dan dituturnkan untuk seluruh umat manusia. Bukan hanya manusia malah, melainkan diperuntukkan pula untuk jin. Keuniversalan sumbernya tersebut tentu saja akan memberi pengaruh yang sama terhadap fiqih sebagai sarana aplikasi syari’ah Islam.
Objektif
Fiqih bersifat objektif karena dia bersumber langsung dari Allah. Apa yang menjadi undang-undang yang harus dita’ati manusia sudah disesuaikan dengan kebutuhan manusia itu sendiri dan tidak berat sebelah atau memenangkan salah satu kelas sosial tertentu. Berbeda jauh dengan hukum positiv buatan manusia yang terkadang dibuat sesuai dengan kepentingan salah satu kelas sosial dan merugiakan yang lainnya.
Moderat
Karena sifatnya yang objektif secara otomatis fiqih pun bersifat moderat dalam artian tidak terlalu keras ataupun terlalu lunak. Baik itu berupa perintah, larangan maupun sangsi yang diberikan bagi pelanggar tidak terlalu berat ataupun trlalu ringan untuk dijalankan.
Adanya keseimbangan dalam memperhatikan hak manusia baik secara individu maupun sosial
Fiqih slam sangat memperhatikan hak manusia secara seimbang baik manusia secara individu maupun sosial. Tidak seperti negara kapitalis yang terlalu memperhatikan hak manusia secara individu sehingga melahirkan adanya kelas-kelas sosial yang tidak merata. Siapa yang memiliki modal dialah yang berkuasa. Juga tidak seperti negara sosialis yang terlalu memperhatikan hak manusia secara sosial sehingga tidak memperduliakn hak individu. Setiap individu tidak memiliki apa-apa, karena semua milik negara dan itu berarti milik bersama sebagaimana anggapannya. Tetapi fiqih slam menghargai hak manusia baik dari segi individunya maupun sosialnya. Sebagai salah satu buktinya ialah diakuinya hak kepemilikan individu yang tentunya berbatasan dengan hak kepemilikan orang lain. Dan juga adanya aturan hak kepemilikan bersama seperti wakaf yang kesemuanya itu diatur secara rinci dalam fiqih mu’amalah.
Prinsip-prinsipnya bersifat global
Prinsip-prinsip fiqih yang lebih dikenal dengan nama ushul fiqih adalah kumpulan dari kaidah-kaidah yang bersifat umum. Sehingga bisa dijadikan rujukan untuk setiap perkara yang beragam dan bermacam-macam. Kita hanya tinggal mengembalikan setiap perkara kepada prinsipnya yang sesuai. Atau pun sebaliknya dari prinsip-prinsipnya yang bersifat global itu kita bisa menerapkannya pada perkara-perkara yang berbeda-beda.
Menerima perubahan (inovatif)
Karena fiqih merupakan hasil pemikiran manusia yang tidak terlepas dari koridor wahyu, maka ia bersifat fleksibel. Islam mempunyai kemampuan untuk membrikan apa yang dibutuhkan oleh seluruh umat manusia tak terkecuali. Sebagai buktinya islam bisa diterima oleh semua kalangan dari berbagai lingkungan dan zaman yang berbeda, dimana fiqih merupakan salah satu bagian dari sistem ajaran islam terbebut. Fiqih bisa ditafsirkan sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada karena fiqih merupakan hasil pemikiran manusia dalam usahanya mengaplikasikan syari’ah yang disesuaikan dengan kondisi masyarakatnya. Maka di sini fiqih mempunyai kemampuan beradaptasi dengan lingkungannya.

Fiqih dan Syari’ah
Syari’ah diartikan sebagai perintah Allah yang harus dijalankan. Pada masa awal syari’ah memliki makna yang umum sama seperti fiqih. Ia meliputi teologi, ibadah, mu’amalah, akhlak dan pokok ajaran lainnya. Dengan kata lain syari’ah adalah agama islam itu sendiri. Tetapi ada juga di antara ulama yang membedakan antara syari’ah dengan din (agama). Dia adalah Abu Hanifah, menurutnya din dianggap sebagai ajaran-ajaran yang berkaitan dengan pokok keimanan (tauhid) sehingga dia tetap dari dulu (nabi pertama) sampai sekarang (nabi terakhir). Sedangkan syari’ah kewajiban yang harus dita’ati oleh seorang hamba dan kewajiban tersebut berbeda beda dari satu nabi denga nabi lainnya.
Dan sekarang istilah syari’ah diartikan meliputi semua aspek islam mencakup fiqih dan kalam bersama-sama sebagaimana yang dipaparkan oleh Prof. Dr. Ahmad Hasan.
Syari’ah dan fiqih mempunyai hubungan umum wa khusus ala muthlaq. Syari’ah lebih umum dari fiqih. Jika syari’ah meliputi segala aspek kehidupan manusia semua perilaku dan perbuatannya, sedangkan fiqih lebih sempit cakupannya. Ia hanya meliputi hal-hal yang hanya berkaitan dengan aturan-aturan dan tindak hukum saja.
Syari’at merupakan perintah Tuhan yang harus dita’ati, maka ia bersifat tetap dan tidak berubah. Sedangkan fiqih merupakan hasil nalar manusia yang bersumber dari nash, maka ia bersifat berubah dan terus berkembang sesuai dengan kondisi zaman dan tempat manusia itu hidup yang terus berubah semakin kompleks.
Oleh karena itu fiqih bisa diartikan sebagai artikulasi dari usaha penyelarasan syari’ah dengan kondisi masyarakat dan zamannya.

Fiqih dan Ushul Fiqih
Ushul fiqih terdiri dari dua kata yang masing-masing mempunyai makna yang berdiri sendiri. Yaitu ushul dan fiqih. Ushul secara bahasa berati pokok. Maka secara etimologi ushul fiqih berarti pokok yang menjadi landasan lahirnya fiqih. Sedangkan ushul fiqih sebagai salah satu cabang ilmu syari’ah didefinisikan oleh para ulama sebagai pengetahuan tentang kaidah-kaidah yang dijadikan landasan dalam melahirkan fiqih dari dalil-dalilnya yang rinci.
Dari definisi di atas bisa kita lihat adanya perbedaan antara ushul fiqih dan fiqih. Namun walaupun berbeda keduanya saling berhubungan dan tidak bisa dipisahkan. Jika fiqih diartikan sebagai hasil nalar manusia yang bersumber kepada nash tentnag hukum suatu perbuatan, maka ushul fiqih berfungsi sebagai metodologinya (manhaj) untuk dapat melahirkan fiqih. Maka ushul fiqih menempati fungsi ilmu mantiq bagi ilmu filsafat.
Sedangkan perbedaan ditinjau dari segi objeknya adalah objek Fiqih meliputi perbuatan manusia (mukallaf) dari segi hukumnya. Atau dengan ungakapan lain objek fiqih adalah hukum-hukum syari’ yang bersifat aplikatif (amaliyah).
Adapun yang menjadi objek ushul fiqih adalah penjelasan tentang metodologi pengambilan hukum.
Lebih jelasnya Muhamad Abu Zahrah dengan gamblang menjelaskan tetang persamaan sekaligus perbedaan antara fiqih dan ushul fiqih, ia mengatakan: “Kedua ilmu itu (fiqih dan ushul fiqih) sama-sama membahas tentang dalil. Tetapi fiqih membahas dalil dari segi mengeluarkan hukum ‘amaliyah darinya sedangkan ushul fiqih membahas dalil dari segi metodologi istinbath hukumnya dan menjelaskan hirarki argumen-argumen hukum (mulai dari al-Qur’an, sunnah, ijma’ dan qiyas)…”

Fiqih dan Qawâid Fiqhiyyah
Qawâid merupakan bentuk jamak dari qâidah yang berarti prinsip global yang meliputi seluruh bagian-bagiannya secara keumuman untuk mengetahui hukum-hukum setiap bagian-bagian tersebut dari prinsip yang global tadi. Maka yang dimaksud dengan qawâ’id fiqhiyyah ialah permasalahan-permasalahan yang bersifat global yang termasuk ke dalamnya bagian-bagainnya yang diketahui hukum dari setiap bagian –bagian tersebut dari permasalahan-permasalahan global tadi. Dan pada keumumannya prinsip atau permasalahan yang global tadi sesuai dengan bagian-bagiannya.
Tetapi perlu digaris bawahi, bahwa sifat kaidah-kaidah ini tidak seperti kaidah-nahwu atau ushul fiqih yang bersifat mutlak pasti. Maksudnya setiap kaidah nahwu atau ushul fiqih pasti berlaku pada permasalahan-permasalahan yang sama dengan kaidahnya. Sebagai contoh di dalam kaidah nahwu bahwa setiap fa’il itu marfu’, maka sudah pasti ketentuan itu berlaku kepada setiap kata yang berkedudukan menjadi fa’il tidak terkecuali. Begitu juga yang berlaku dengan kaidah ushul fiqih.
Berbeda dengan keduanya, kaidah yang terdapat pada qawâ’id fiqhiyyah tidak bersifat mutlak akan tetapi bersifat aglabiyah atau keumumannya saja. Karena ada beberapa permasalahan yang secara zhahir termasuk ke dalam kaidah global tetapi pada kenyataannya ternyata tidak sesuai dan tidak bisa dipaksakan. Oleh karena itu para fuqaha menambahkan variabel aglabiyah di akhir definisi qawâ’id fiqhiyyah.
Kemudian hubungannya dengan fiqih, secara kronologis lahirnya qawâ’id fiqhiyyah lebih terakhir dibandingkan dengan fiqih. Jadi hukum-hukum fiqih yang serupa dikumpulkan dan diakitkan yang satu dengan yang lain sehigga melahirkan kaidah umum yang disebut qawâid fiqhiyyah.
Secara garis besarnya hubungan antara fiqih, ushul fiqih dan qawâid fiqhiyyah bisa kita petakan sebagai berikut. Ketika kita menemukan sebuah nash yang ingin kita istinbath hukum yang terkandung dalam nash tersebut maka kita gunakan ushul fiqih sebagai metodologi fiqih. Dari sana maka lahirlah fiqih/hukum ‘amaliyah dari nash tersebut. Kemudian hukum-hukum fiqih yang serupa tersebut dikumpulkan dan dikaitkan yang satu dengan yang lain sehingga melahirkan kaidah umum fiqih yang disebut qawâid fiqhiyyah yang digunakan sebagai rujukan untuk diterapkan pada permasalahan yang serupa.

Cabang-cabang ilmu fiqih islam
Di atas telah disinggung mengenai karakteristik fiqih islam yang salah satu di antaranya ialah bersifat komprehensif. Hal tersebut terbukti dengan cakupan ilmu fiqih yang meliputi seluruh aspek kehidupan manusia dari segi hukumnya. Semua kegiatan manusia mulai dari bangun tidur di pagi hari sampai tidur kembali di malam hari semuanya sudah terangkum dalam fiqih. Semua kegiatan manusia yang bersifat pemenuhan kebutuhannya sebagai individu dan sosial pun merupakan objek fiqih. Tidak hanya itu hatta konsep bernegara pun tidak luput dari perhatian fiqih.
Sebagaimana yang dipaparkan Dr. Yusuf Qardhawi ketika menjelaskan tentang fiqih islam yang komprehensif meliputi segala aspek kehidupan manusia, ia mengatakan:
Ilmu fiqih adalah suatu ilmu yang mengatur kehidupan seorang muslim, komunitas muslim, umat islam secara keseluruhan maupun dalam bentuk sebuah negara dengan hukum-hukum syari’at. Baik itu yang mengatur hubungan manusia secara vertikal denga Tuhannya yang dikenal dengan sebutan fiqih ibadah. Atau yang mengatur hubungan manusia dengan pribadinya sendiri yang dikenal dengan adab tingkah laku atau etika. Atau yang mengatur individu dengan anggota keluarganya yang dikenal dengan sebutan fiqih usrah/ahwal syakhshiyah. Atau yang mengatur kehidupan manusia dengan sesamanya yang dikenal dengan sebutan fiqih mu’amalah. Atau yang berhubungan dengan kriminalitas dan sangsi hukumannya yang dikenal dengan sebutan fiqih jina’i. Atau yang mengatur hubungan antara negara dengan rakyatnya yang dikenal dengan sebutan siyasah syar’iyyah. Atau yang mengatur tentang peperangan (pembelaan terhadap serangan musuh/jihad) yang termasuk ke dalam istilah ‘alaqat dauliyah dan macam-macam fiqih lainnya.
Dari paparan Yusuf Qardlawi tersebut disebutkan beberapa cabang ilmu fiqih yang kita kenal, seperti:
Fiqih Ibadah: mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya (hablun mina al-Lâh).
Fiqih Mu’amalah: mengatur hubugan manusia dengan sesamanya (hablun mina al-nâs).
Fiqih Usrah/Ahwal Syakhshiyyah: mengatur hubungan manusia dengan keluarganya, seperti pernikahan (al-zawâj), perceraian (al-thalâq), dan lain sebagainya.
Fiqih Jina’i/Hudud: mengatur masalah kriminalitas dan sangsi hukumannya.
Siyâsah Syar’iyyah: mengatur tentang kepemimpinan dalam bernegara. Al-Ahkâm al Sulthâniyyah adalah salah satu karya klasik yang khusus membahas tentang hal tersebut.
‘Alâqât Dauliyyah: mengatur hubungan satu negara dengan negara lain termasuk di dalamnya pembelaan diri dari serangan musuh.
Dan lain sebagainya.

Fiqih dan Ijtihad
Ijihad secara etimologi mempunyai arti bersungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu. Sedangkan secara terminologi yang sering digunakan ulama ushul fiqih ialah usaha seorang faqîh (ahli fiqih) dengan mencurahkan segala kemampuannya dalam mengeluarkan hukum dari dalil yang rinci.
Di sini kita dapati bahwa fiqih merupakan hasil dari ijtihad, maka bisa disimpulkan bahwa no ijtihad no fiqih. Dengan demikian ijtihad mempunyai peranan yang sangat penting di dalam fiqih. Fiqih tidak akan terwujud jika tidak ada ijtihad. Karena fiqih merupakan usaha mujtahid dalam mengejewantahkan syari’ah sesuai dengan kondisi masyarakatnya melalui penelitiannya dalam memahami maksud sumber-sumber syari’ah (nash).
Ijtihad sebagai sebuah proses berpikir tentu saja tidak akan terlepas dari pengaruh situsai dan kondisi yang ada. Situasi dan kondisi yang berbeda akan mengakibatkan hasil ijtihad yang berbeda pula padahal masih tentang permasalahan yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa fiqih menerima perubahan. Sebagaimana yang kita bahas di atas bahwa fiqih merupakan hasil ijtihad, maka ketika terjadi perubahan situasi dan kondisi yang menyebabkan perubahan ijtihad hal itu akan ikut mempengaruhi perubahan fiqih sebagai hasil dari ijtihad. Dan hal ini sebagai bukti bahwa syari’ah islam shâlihun likulli zaman wa makân. Karena fiqih merupakan aplikasi dari syari’ah tersebut.
Tetapi tentu saja ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam berijtihad. Karena jika berpikir tanpa aturan tentu tidak akan menghasilkan sesuatu yang tertib dan teratur. Yang ada hanyalah kerusakan. Jika ijtihad tidak memiliki prinsip dan aturan yang jelas maka tidak mungkin menghasilkan fiqih yang saat ini terbukti sangat tertib dan rapi. Hal ini menunjukkan bahwa fiqih yang kita miliki saat ini sebagi hasil ijtihad para ulama pendahulu kita dihasilkan dari ijtihad yang memperhatikan prinsip dan aturan yang harus diperhatikan. Di sisi lain tanpa adanya prinsip dan kaidah dalam berijtihad akan membuka terjadinya “huru hara” dalam pemikiran islam. Semua orang akan menginterpretasikan nash dan mengaplikasikannya sesuai dengan keinginan dan kepentingan masing-masing dengan alasan sebagai hasil ijtihadnya. Tentu saja pintu tersebut harus ditutup rapat-rapat agar tidak terjadinya “huru hara” tersebut.
Oleh karena itu para ulama telah membuat serangkaian prinsip dan kaidah yang harus diperhatikan dalam berijtihad agar tidak menghasilkan ijtihad yang menyimpang. Prinsip dan kaidah tersebut terbagi dua, ada yang berhubungan dengan pelaku ijtihad dan yang kedua berhubungan dengan proses ijtihadnya itu sendiri.
Para ulama mensyaratkan bagi mereka yang akan melakukan ijtihad agar memnuhi syarat-syarat tersebut. Imam al-Syathibi (790 H) menyaratkan bagi para pelaku ijtihad, pertama harus menguasai kaidah linguistik bahasa Arab dan kedua memahami tujuan syari’ah secara menyeluruh (maqâshid syarî’ah).
Namun para ulama lain lebih memperinci lagi syarat-syarat yang harus dimiliki seorang mujtahid yang di antaranya ialah:
Muslim dan adil
Disyaratkan beragama islam karena ijtihad merupakan bagian dari ibadah, sedangkan syarat sahnya suatu ibadah adalah islam. Maka suatu kewajaran jika yang pertama kali disyaratkan bagi seorang mujtahid adalah islam.
Dan yang dimaksud dengan adil di sini ialah mempunyai akhlak yang terpuji dan selalu menjauhkan diri dari perbuatan dosa. Karena tidak mungkin seseorang yang akan memberikan fatwa tentang hukum suatu perkara –yang pada hakekatnya adalah untuk mendekatkan diri kepada Sang Khaliq– adalah seorang pendosa. Hal tersebut tentu sama sekali bertentangan dengan pekerjaannya yang mulia.
Menguasai al-Qur’an
Cukuplah bagi seorang mujtahid untuk mengetahui dan menguasai ayat-ayat ahkam yang menurut hitungan para ulama ada sekitar 500 ayat. Dan tidak disyaratkan hafal seluruh al-qur’an di luar kepala.
Menguasai Sunnah Nabi Saw.
Tidak berbeda dengan syarat yang kedua, yang dimaksud dengan menguasai Sunnah Nabi adalah menguasai dan memahami hadits-hadits ahkam baik secara linguistik maupun maksudnya. Dan mengetahui literatur-literatur hadits yang biasa dijadikan referensi sehingga dengan mudah baginya untuk merujuk dengan cepat kepada literatur tersebut ketika menghadapi suatu permasalahan.
Mengetahui nâsikh dan mansûkh baik di dalam al-Qur’an maupun Sunnah
Hal tersebut untuk menghindari dari pengamalan suatu hukum yang sudah tidak diberlakukan lagi baik dalam al-Qur’an maupun Sunnah (mansûkh).
Mengetahui permasalahan-permasalahn yang sudah ijma’
Karena dengan mengetahui hal tersebut agar terhindar dari berijtihad pada suatu perkara yang sebenarnya sudah menjadi ijma’. Sehingga hal itu hanya membuang waktu dan tenaga saja.
Mengetahui qiyâs dan permasalahannya
Yaitu dengan mengetahui sebab (‘illah) suatu hukum yang dijadikan sandaran lahirnya hukum tersebut untuk dijadikan rujukan dalam menentukan permasalahan yang sama (menganalogikannya).
Menguasai kaidah linguistik bahasa Arab
Sebagai perangkat untuk memahami nash-nash yang dijadikan sumber hukum. Karena nash-nash tersebut sebagaimana telah kita ketahui bersama diturunkan dengan bahasa Arab. Maka sudah menjadi keharusan ketika ingin memahami maksud suatu nash, pertama kali yang dilakukan adalah memahaminya dulu dari segi bahasanya.
Menguasai ushul fiqih
Karena ushul fiqih merupakan metodologi fiqih yang dijadikan sandaran dalam mengeluarkan suatu hukum dari nash-nash yang menjadi sumber hukum tersebut.
Mengetahui maqashid syari’ah
Yaitu mengetahui apa saja yang menjadi dharuri (primer), hajiyat (sekunder), dan tahsiniyat (suplementer) bagi manusia. Karena tujun diturunkannya syari’at ini adalah untuk kemashlahatan manusia dan bukan sebaliknya.
Memiliki metodologi berpikir yang benar
Dalam artian menguasai kaidah berpikir yang benar atau yang lebih dikenal dengan ilmu manthiq. Agar bisa membuat kongklusi dengan benar dari premis-premis yang ada.
Selanjutnya prinsip-prinsip yang harus diperhatikan yang berkaitan dengan kegiatan ijtihadnya itu sendiri. Di antaranya ialah:
Memperhatikan lapangan ijtihad
Karena tidak semua bisa dijadikan lapangan ijtihad. Ada beberapa hal dalam syari’ah islam yang tidak boleh adanya intervensi akal menusia. Oleh karena itu para ulama menentukan bahwa lapangan ijtihad hanya berkisar pada permasalahan yang tidak diterangkan di dalam nash maupun ijma’ dan permasalahan yang diterangkan di dalam nash namun masih bersifat samar maksudnya (zhannîyu dilâlah).
Memperhatikan nash muhkamât dan mutasyâbihât
Agar tidak terjebak oleh orang-orang yang ingin mempermainkan syari’ah islam dengan mengotak-atik nash muhkamat dirubah menjadi mutasyabihat yang menerima multi interpretasi. Sehingga hal-hal yang sudah jelas duduk perkaranya dan tidak bisa ditawar-tawar lagi menjadi samar dan bisa ditafsirkan dengan pemahaman lain sesuai dengan kehendak dan kepentingan masing-masing.
Jika ayat-ayat muhkamat ini sudah dipermainkan maka tidak ada lagi standar kebenaran yang absolud pada nash karena semuanya menjadi relatif.
Memperhatikan yang qath’î dan zhannî
Seorang mujtahid harus memperhatikan nash itu apa adanya, jika nash yang datang dengan sifat qath’î maka harus tetap dianggap qath’î sehingga tidak boleh dirubah atau ditafsirkan lain. Namun jika nash tersebut bersifat zhannî maka harus tetap dianggap zhannî sehingga bisa ditafsirkan sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada agar tercapainya kemashlahatan yang menjadi tujuan diturunkannya syari’ah tersebut.
Dan jangan sebaliknya hal yang qath’î (sudah pasti hukumnya) diberlakukan seperti yang zhannî sehingga diotak-atik seenaknya sehingga hal yang sudah pastipun disamarkan dan yang absolud pun menjadi relatif. Demikian juga yang zhannî diberlakukan seperi yang qath’î sehingga nash tersebut dipahami begitu kaku yang pada akhirnya melahirkan kesulitan dan keberatan bagi yang akan mangamalkannya.
4. Tidak terpengaruh oleh tekanan realitas
Realitas umat islam sekarang janganlah sampai mempengaruhi hasil ijtihad. Ijtihad jangan dijadikan alat pelegitimasi realitas yang ada saat ini. Di mana umat Islam saat ini berada dalam keadaan yang menyedihkan. Hilangnya persatuan, kepemimpinan, terjajah, tertinggal dan keterpurukan lainnya. Tetapi justru ijtihad harus bersih dari tekanan realitas tersebut dan bukan sebaliknya malah mengikuti tekanan realitas tersebut. Sehingga ijtihad yang dihasilkan malah melegitimasi realitas umat islam yang sedang terpuruk saat ini. Walaupun ijtihad itu harus memperhatikan situasi dan kondisi umat, namun bukan berarti harus tunduk pada realitas yang ada. Ijtihad harus tetap bersifat idealis dan tidak menyerah pada realitas.
5. Memperhatikan inovasi yang berkembang
Tidak semua yang baru dan asing itu harus dijauhi, sekiranya ada manfaat dan mashlahat yang bisa diambil kenapa tidak. Itulah yang harus diperhatikan oleh seorang mujtahid. Dengan demikian seorang mujtahid harus bisa membedakan mana yang pokok (ushûl) dan mana yang cabang (furû’). Pada yang ushûl dia harus bersikap tegas untuk mempertahankannya karena itulah standar kebenaran syari’ah ini. Sedangkan pada yang furû’ seorang mujtahid bisa bersikap inovatif dengan melihat perkembangan zaman dan memperhatikan kebutuhan umat.
6. Memperhatikan syarat menjadi seorang mujtahid
Harus dibedakan mana ijtihad yang salah dan mana ijtihad yang benar. Dan hal itu tentu saja dengan memperhatikan apa saja yang harus dikuasai seseorang sehingga ia layak untuk berijtihad. Karena hadits Nabi yang menerangkan tentang ijtihad yang benar mendapatkan dua pahala sedangkan yang salah hanya satu pahala, hal itu tidak berlaku untuk semua orang. Karena jika demikian akan terjadi kekacauan pemikiran. Semua orang bisa menentukan sendiri semua hukum sesuai dengan kehendak dan kepentingannya masing-masing. Tetapi yang dimaksud hadits tersebut adalah yang memang layak untuk berijtihad karena mempunyai kemampuan yang menunjang untuk itu. Maka ketika ijtihadnya itu salah maka tetap ia mendapatkan satu pahala karena usahanya itu.
Dengan memperhatikan syarat-syarat tersebut –Insya Allah—akan dihasilkan sebuah ijtihad yang benar atau minimalnya mendekati kebenaran. Dan terhindar dari ijtihad yang serampangan yang hanya bertujuan untuk memenuhi kepentingan pribadi atau golongan tertentu saja.

2 comments on “Selayang Pandang Tentang Fiqih Islam*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s