IKHLAS; Tanpanya amal hanya sia-sia…

Oleh : Sujang El-Sundawy*

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus” (QS. Al-Bayyinah: 5)

“Hanyasanya segala amal itu tergantung niatnya. Dan seseorang itu akan mendapatkan apa yang dia niatkan…” (HR. Imam Bukhari: 54)

Sahabat Muslim yang Semangat

Tentunya sahabat sudah sangat dekat bahkan sering mendengar kata ikhlas, kita sering mendengar orang menyebut-nyebut kata ikhlas tersebut. Tapi apakah sahabat sudah memahami dengan baik apa itu ikhlas?? So, dalam tulisan sederhana ini saya akan mencoba untuk berbagi pengetahuan mengenai ikhlas.

Sahabat Musalim yang Semangat Baca lebih lanjut

Isbal Dalam Prespektif Ulama

Oleh : Agustiar Nur Akbar

Pendahuluan

Sebagai seorang muslim tentu mencintai dan menjadikan Rasulullah saw sebagai panutan. Panutan yang secara langsung oleh Allah swt disematkan kepada Rasulullas saw.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. (Al Ahzab : 21).

Berusaha untuk mengikuti Rasulullah saw secara keseluruhan merupakan dambaan bagi seorang muslim. Selain hal tersebut sebagai wujud cinta kepada Rasulullah saw. Juga karena Rasulullah saw (baca sunah) salah satu mashadir syariat Islam.

Hal ini menyangkut segala aspek dalam kehidupan, diantaranya termasuk tata cara berpakaian Rasulullah saw. Sebut saja masalah isbal, atau menjulurkan kain hingga menutupi mata kaki. Karena hal yang demikian termasuk ranah fiqih, maka tidak akan lepas dari niza (perdebatan) dikalangan umat.

Kedapannya penulis akan mencoba mengupas lebih lanjut dengan ringkas akan permasalah isbal ini. Apakah ia jatuh hukumnya haram bagi musbil, misalnya. Atau makruh maupun mubah.

Disini penulis hanya akan mengkajinya secara ringkas. Mencoba mengupas apa yang melandasi perbedaan para ulama dalam melihat masalah ini. Kemudian me-rajih-kannya setelah melakukan nadzhar pada dalil-dalil yang ada.

Baca lebih lanjut

Ketika Akal Berpikir Imanpun Bertambah

Ketika Akal Berpikir Imanpun Bertambah

Oleh : A Barri Mukhlis

“Fenomena alam adalah fakta, kenyataan, yang tunduk pada hukum hukum yang menyebabkan fenomena itu muncul, kemudian ada keterlibatan siapa di balik fenomena tersebut?”

Salah satu ciri makhluk dikatakan hidup adalah bergerak, manusia disibukan oleh rutinitas masing masing. Secara visuil kita bisa membedakan keadaan manusia yang diam dan yang disibukan dengan kegiatan kegiatan. Kita ambil contoh orang yang duduk di rumah sambil berpikir dengan seorang pekerja lapangan atau olahragawan yang senantiasa melatih tubuhnya. Secara spontan, maka yang kita pikirkan adalah hasil dari usaha kedua orang tersebut. Lalu pernahkah anda berpikir mereka adalah dua makhluk hidup yang bergerak? lalu kenapa mereka bisa bergerak?

Secara ilmu hayat, tubuh manusia terdiri dari miliaran sel sel yang membentuk jaringan sel-sel, otot otot, tulang, organ tubuh dan sebagainya. Kalau ditinjau lebih seksama, maka ia memiliki karakter frekwensi getaran tersendiri, frekwensi dari tubuh seseorang merupakan kumpulan dari semua frekwensi sel sel pembentuk tubuhnya, sehingga orang yang bersangkutanpun ditentukan oleh keadaan sel-sel tubuhnya, selanjutnya di dalam setiap sel terdapat satu “unit pikiran” (mind stuff) yang secara kolektif akan membentuk pikiran orang tersebut. Jadi, pikiran seseorang dipengaruhi langsung oleh keadaan sel sel ini. Sel-sel pembentuk tubuh ini terbuat sebagian besar oleh makanan yang kita makan. Begitupun ia juga tumbuh dan berkembang dari makan, udara dan air yang kita peroleh dari lingkungan kita, sel-sel dalam tubuh berusia 21-28 hari, sel yang mati diganti dengan sel yang baru terbentuk. Disini jelas dapat kita lihat bahwa makanan sangat mempengaruhi kondisi sel dalam tubuh kita yang berarti menentukan tingkat kesehatan tubuh dan pikiran.

Baca lebih lanjut

Thank’s Allah

Thanks’ Allah

Oleh: Putra Damas

Pernahkah kita berpikir bahwa Allah tidak sayang sama kita karena telah menimpakan sebuah bencana terhadap kita? Pernahkah kita merasa bahwa Allah tidak adil karena tidak selalu memenuhi kebutuhan kita? Pernah juga kah kita berpikir bahwa Allah tidak bijaksana karena memberikan sesuatu tetapi bukan yang kita inginkan? Mungkin saja kebanyakan dari kita akan menjawab pernah. Itu wajar. Tapi, mengapa demikian? Itu karena ‘prasangka buruk’ kita terhadap Allah. Mari kita renungkan! Seringkali kita menganggap bahwa apa yang kita inginkan itulah yang terbaik menurut kita, itulah yang terbaik bagi kita. Padahal tidak selalu demikian, seringkali kita menginginkan sesuatu padahal itu bukanlah yang terbaik bagi kita, atau bahkan sebaliknya, seringkali kita tidak menginginkan sesuatu padahal itu adalah yang terbaik bagi kita menurut Allah (QS. 2:216).

Baca lebih lanjut

Membumikan Dzikir

Membumikan Dzikir

Oleh : Rashid Satari*

Suatu sore, dalam perbincangan ringan bersama Pak Slamet Soleh. Beliau sempat berbagi pengalamannya selama berada di tanah air tempo hari. “Kala itu saya dalam perjalanan dengan kereta api menuju Malang”. Beliau menuturkan bahwa dirinya sempat membeli beberapa bungkus wingko untuk cemilan di tengah perjalanan.

Wingko terbungkus rapi. Dengan dus manis yang tersegel balutan plastik. Karena maksudnya memang untuk cemilan, maka beliau pun langsung membukanya. Deretan wingko nampak manis berjejer begitu tutup kemasan terbuka. Namun tak disangka ternyata seperempat bagian bawah dari tumpukan wingko dalam dus tersebut adalah tumpukan kertas belaka. Jumlah wingko tidak seperti yang tertulis dalam kemasannya.

Beralih ke ceritanya yang lain. Suatu hari, beliau diajak seorang kawannya bermain golf di kawasan Kedaton. Tempat golf ini memang menjadi langganannya ketika berada di Jakarta. Dalam kesekian kali kunjungannya ke tempat ini, beliau menyaksikan suatu perubahan. Dulu, bila bermain golf di tempat ini, kita akan disambut dan didampingi dengan baik oleh petugas-petugas lapangan yang rata-rata adalah pria. Ketika terakhir kali beliau mengunjungi tempat ini kembali, petugas-petugas lapangan tersebut berganti dengan perempuan. Setelah ditelusuri mengapa jadi seperti ini, pemilik lapangan golf berkata “ini untuk mempertahankan dan meningkatkan daya tarik kepada pengunjung”.

Baca lebih lanjut