Humanisme Islam

da perbedaan problematika yang melilit negara maju dengan negara berkembang. Problematika krusial yang melilit masyarakat maju adalah kehilangan nilai-nilai spiritual. Sedangkan, problematika yang melilit negara berkembang adalah kehilangan nilai-nilai kemanusiaan.
Pada negara maju, agama telah dipinggirkan karena dianggap sebagai ajaran yang skeptis. Namun, meskipun begitu, pada masyarakat maju, buta huruf, putus sekolah, kemiskinan, pengangguran, korupsi, kolusi, nepotisme, suap, baku hantam lalu lintas, dan pencemaran lingkungan memiliki kadar tingkat yang sangat rendah. Baca lebih lanjut

Iklan

Redefinisi Fiqih; Catatan Pribadi tentang Warna Fiqih kita

Yadi Saeful hidayat

Seperti tak pernah selesai, ide untuk menggagas fiqih baru seolah menjadi semangat beragama para pemikir muslim saat ini. Dalam beberapa hari terakhir, berbagai konsepsi menyangkut ruang lingkup pembahasan fiqih selalu menjadi wacana yang terus-menerus dipenuhi oleh aksi perdebatan dan lintas pemikiran yang cukup alot. Semua ini terkesan ingin menunjukkan bahwa fiqih memerlukan sebuah inovasi baru, metodologi baru dan wajah yang baru pula. Term fiqih yang selama ini hanya bersifat partisan, tidak elektik, dan terkesan kaku sudah saatnya diganti dengan format yang lebih modern, prosperous, adil dan aman dalam kehidupan yang plural di tengah-tengah era globalisasi. Bukan karena memiliki penyakit latah, tapi hemat penulis, saat ini fiqih memang memerlukan usaha pembaruan dari para pewarisnya. Kita tidak ingin menjadikan karya fiqih ulama terdahulu sebagai “doktrin” dan bahkan juga “dogma” agama.
Namun begitu, kita harus tetap mengakui karya mereka sebagai karya yang luar biasa pada zamannya, sehingga wajar jika saat ini kita memberikan apresiasi atas jerih payah mereka. Hanya mungkin, kondisi semacam ini jangan lantas melahirkan kebekuan pada sikap beragama kita. Penulis sering bertanya, kenapa dewasa ini fiqih sering mengalami stagnasi dalam aplikasinya? Menurut penulis, penyebab utamanya adalah pemahaman mengenai fiqih yang Baca lebih lanjut

Pers; Antara Otoritas Dan Distorsi Opini

Pers; Antara Otoritas dan Distorsi Opini

– Secarik refleksi atas fenomena Jyllands Posten dan Playboy

Oleh : Rashid Satari*

“Satu ujung pena lebih kutakuti daripada seribu bayonet”

(Napoleon Bonaparte)

Khusus untuk Indonesia, kran liberalisasi jurnalistik belum lama dibuka. Reformasi 1998 menjadi gerbang utama multi kebebasan yang terjadi ditengah-tengah masyarakat Indonesia. Amien Rais dalam sebuah antologi berjudul “Reformasi Dalam Stagnasi” mengatakan bahwa dari enam agenda reformasi, salah satunya berbunyi tentang kebebasan warga negara (dalam hal pers, bicara, ekspresi, religi dan lain sebagainya). Artinya harus diakui bahwa atmosfer bangsa kita pada pra-reformasi memang memandulkan sebagian segmentasi potensi anak bangsa. Hegemoni Orde Baru telah menginvestasikan “bom waktu” yang akhirnya meledak pada titik kulminasi tertinggi dengan kemasan reformasi.

Untung tak dapat diraih, reformasi pun mengalami stagnasi. Menurut Amien Rais, juga dalam antologi yang sama, stagnasi ini terjadi karena penyakit mental yang masih menggerogoti bangsa kita. Penyakit mental tersebut diantaranya adalah mental attitude bangsa. Mental Attitude ini berdampak pada terciptanya budaya Public Dishonesty (ketidakjujuran publik) dan Publiclies (kebohongan publik). Akhirnya bisa kita lihat bersama, kran kebebasan berekspresi yang dibuka ternyata malah mereduksi, mengalami ambivalensi dan absurditas arti. Kebebasan diartikulasikan sebagai era kebebasan yang membabi buta.

Pers atau dunia jurnalistik sejatinya adalah media informasi yang berposisi sebagai abdi publik. Menyajikan hidangan informasi yang objektif dan transparan merupakan lambang tanggung jawab moral pers terhadap publik. Mengutip Jalaluddin Rakhmat, The American Society of Newspaper Editors tahun 1923 meresmikan kode etik Jurnalistik yang kemudian terkenal sebagai Canons of Journalism. Kode etik itu diantaranya adalah (1) Tanggungjawab (2) Kebebasan Pers; kebebasan pers harus selalu dijaga sebagai hak vital manusia dan pers bebas membicarakan apa saja yang tidak dilarang hukum atau perundang-undangan. (3) Independensi; pers harus membebaskan diri dari segala kewajiban kecuali kepada kepentingan umum. (4) Ketulusan; kesetiaan kepada kebenaran, dan akurasi (Sincerity, truthfulness, and accuracy). (5) Kejujuran dalam menyampaikan informasi (impartiality). (6) Berlaku adil (fair play); pers harus memberikan kesempatan kepada semua pihak untuk memberikan penjelasan bandingan dari apa yang disampaikan. (7) Kesopanan (Decency). pers harus menyampaikan informasi, betapa pun terperincinya, sesuai dengan standar moral dan kesusilaan masyarakat.

Baca lebih lanjut

By Pwk. PP. Persis Mesir Posted in Opini Dengan kaitkata

Radiasi Pornografi

Radiasi Pornografi

(Bias Bayang Gelap Indonesia; Terbitnya Playboy Versi Indonesia)

Saat ini, berbagai opini mulai beredar, menyusul isu penerbitan majalah “Playboy Indonesia”. Merupakan isu hebat dan cukup fantastis memang, karena selain mendapat ranking pertama sebagai negara terkorup di Asia, Indonesia telah ‘berhasil’ menjadi negeri kedua di Asia setelah Jepang yang mendapat kepercayaan dari manajemen Playboy pusat untuk menerbitkannya dalam bahasa lokal. Sementara, di sisi lain Indonesia harus tetap puas di peringkat akhir mengenai investasi dan pengembangan sumber daya manusia (human developement).

Majalah dengan logo kelinci bertuksedo ini merupakan alternatif objek pelampiasan para pria berlibido tinggi dan haus akan seks. Bagaimana tidak, gambar-gambar yang disuguhkan didalamnya cukup membuat mata terbelalak. Perlu diketahui, logo kelinci tersebut didesain oleh Art Paul. Yang memiliki pesan konotasi humor seksual yang dinggi, berkesan periang dan suka bermain-main, sesuai dengan tabiat kebinatangan kelinci. Jika direnungkan, maka dapat diambil kesimpulan bahwa imej dan atributnya tidak bisa dilepaskan dari erotisme, seksualitas, eksploitasi perempuan, dan lain-lain. Adakah pesan moral yang akan disampaikan Playboy untuk para penggemarnya, selain hal-hal yang negatif?

Baca lebih lanjut

By Pwk. PP. Persis Mesir Posted in Opini Dengan kaitkata

Bunda Maria versus Maryam

BUNDA MARIA versus MARYAM

(Studi Komparatif antara al-Qur’an dan Injil)

Ika Yunia Fauzia*

Dalam Bidayah wa al-Nihayah disebutkan bahwa Maryam binti ‘Imrân masih keturunan Daud ‘alaihi salâm. ‘Imrân, ayahnya, adalah seorang yang berpengaruh pada Bani Isrâ’il pada waktu itu. Diceritakan seperti dalam Q.S. Ali ‘Imrân bahwa Istri ‘Imrân adalah seorang yang belum dikaruniai anak, sampailah pada suatu hari ia berdoa dan bernazar bahwa anak yang dikandungnya akan menjadi hamba yang akan berkhidmat di Baitul Maqdis. Setelah selesai masa penyusuan Maryam, ibunya menyerahkan pada Zakaria. Seorang nabi sekaligus suami saudara perempuan ibunya; untuk berkhidmat di Baitul Maqdis. Diriwayatkan oleh ahli tafsir, bahwa Maryam diberikan tempat khusus di dalam Baitul Maqdis (Mihrâb); yang tidak dimasuki seorangpun kecuali Zakariya. Di sana ia menghabiskan siang dan malamnya untuk beribadah kepada Allah, sampai tersiarlah kabar diantara Bani Isrâil akan kemuliaan Maryam. Kelebihan Maryam adalah setiap Zakariya memasuki mihrâb untuk menemui Maryam, maka ia selalu mendapati makanan disisinya yang diturunkan dari Allah. Menurut ahli tafsir, makanan itu seperti buah-buahan musim panas, yang ditemukan ketika musim dingin. Pun buah-buahan musim dingin yang ditemukan pada musim panas. (Abu al-Fidâ al-Hâfidz Ibnu Katsîr, Al-Bidâyah wa al-Nihâyah, Dar al-Hadist-Kairo, 2002, Jild.1)

Baca lebih lanjut

By Pwk. PP. Persis Mesir Posted in Opini Dengan kaitkata

Menelaah Dialog Interaktif Antar Agama

MENELAAH DIALOG INTERAKTIF ANTAR AGAMA

Upaya Menuju Transformasi Nilai-nilai

AA. Arsyul Munir, Lc.*

Gaung modernitas yang pada aktualnya sering diidentikkan dengan pencapaian kemajuan teknologi mutakhir, yang memprasyaratkan akal-ilmiah sebagai satu-satunya piranti kontemporer yang paling rasional ternyata, tak bisa terlepas dari proposisi-proposisi monologis yang sepenuhnya —setidaknya, bagi penulis— berbau mitos. Jika kita menyepakati bahwa suatu mitos adalah, sebuah keyakinan-radikal (artinya ialah sesuatu yang mengakar ke dalam) yang diakui keabsahannya secara “begitu saja,” maka proposisi bahwa “perolehan modernitas tanpa menentukan posisi identitas Aku, Kamu, Kita, atau Mereka akan berujung pada suatu kegagalan tragis yang sia-sia,” adalah tak ayal lagi merupakan sebuah mitos (!) —meskipun adakalanya, mitos sesuatu terkadang memiliki nilai kebenaran juga, semisal “mitos” tentang suatu realitas suci yang transenden. Pengalaman dunia empiris, membuktikan hal tersebut. Ini terlihat dari bagaimana peta pemikiran kontemporer saat ini semakin diwarnai oleh segregasi afirmatif yang menekankan urgensi identitas yang khas, yang disadari atau tidak, sebenarnya lebih bersifat anti-pluralis daripada demokratis. Pertanyaan-pertanyaan “siapakah Mereka?” menjadi begitu penting dideskripsikan untuk mendefenisikan pernyataan “siapakah Aku?” sehingga bagian dari “mereka” adalah musuh bersama (a common enemy) bagi keseluruhan “aku.” Terminologi “kita” tak lagi mengimplikasikan suatu sistem kebersamaan jagat-raya yang utuh, tetapi semata hanyalah akumulasi kepentingan “bersama” yang seringkali ambigu.

Baca lebih lanjut

By Pwk. PP. Persis Mesir Posted in Opini Dengan kaitkata

Ingat, Dan Ber-‘azzamlah Dengan Niat Awal

Ingat, dan Ber-‘azzamlah dengan Niat Awal!!*

Oleh: Udo Yamin Efendi Majdi**

Iftitâh

Niat merupakan visi, penglihatan, tujuan, dan sasaran yang menjadi sumber motivasi seseorang dalam melakukan sesuatu. Begitu juga dengan kehadiran kita di Negeri Para Nabi ini, berawal dari sebuah niat. Siapapun yang memutuskan ingin kuliah di Al-Azhar pasti memiliki niat yang baik. Lalu, setelah berada di Mesir, mengapa banyak yang ‘tergelincir’ dari niat semula? Untuk menjawab pertanyaan ini, pertanyaan yang serupa harus kita ajukan, mengapa nabi Adam as. dan bunda Hawa tergelincir dalam perbuatan dosa?

Yang paling tahu jawabannya adalah Allah SWT. Tak seorang manusiapun yang menyaksikan kejadian itu, ketika itu manusia hanya mereka berdua. Nah, mari kita perhatikan jawaban Allah dalam Al-Quran: “Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu), dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat.” (QS. 20:115)

Pada ayat di atas, Allah menjelaskan kepada kita bahwa dua faktor penyebab Nabi Adam melanggar perintah Allah – juga diikuti oleh Siti Hawa, adalah lupa dan tak ada ‘azam (kemauan keras). Kita sering mendengar atau membaca langsung dalam Al-Quran tentang kisah tergelincirnya Nabi Adam dan Hawa oleh syetan la’natullah ‘alaihi. Untuk lebih jelasnya, silahkan Anda tela’ah lagi kisah ini dalam al-Quran surat Thâha ayat 116-127. Dari tragedi orang tua manusia itu, saya punya asumsi sekaligus sebagai jawaban perrtanyaan di atas, bahwa banyak mahasiswa Indonesia Mesir (Masisir) yang ‘tergelincir’ dari niat semula, karena lupa dan tak ada ‘azzam (kemauan keras) untuk meraih niat tersebut.

Baca lebih lanjut

Membangun Benteng Moral Pelajar

Membangun Benteng Moral Pelajar

Oleh :

Rashid Satari
Mahasiswa S1 Jurusan Dakwah dan Wawasan Keislaman Universitas Al Azhar Cairo

Dunia pendidikan Indonesia masih kelabu. Dulu siswa sering tawuran. Sekarang sering terdengar kebocoran soal-soal ujian nasional. Kasus-kasus rekaman video amoral pun sering terjadi. Padahal, mereka aset bangsa yang sangat potensial dan mahal harganya.

Pada pundak merekalah masa depan keberlangsungan republik ini diamanahkan. Oleh karena itu, pembinaan melalui jalur pendidikan menjadi sangat penting sebagai usaha persiapan mereka menjadi generasi penerus yang kompetitif di masa depan.

Namun, kasus-kasus seperti di atas tadi seakan menegasikan hal itu. Kalangan pelajar justru semakin jauh dari aktivitasnya sebagai anak didik. Pelajar lebih sibuk mempersiapkan diri menghadapi tawuran atau minimal berpikir agar selamat dari tawuran.

Mereka juga sibuk dengan perang pergaulan. Mode menjadi perhatian, lagu-lagu terbaru menjadi lebih menarik ketimbang sastra, fisika, atau matematika. Malah lebih parah lagi kini pelajar diracuni dengan pornografi dan pornoaksi yang terselip rapi di ponselnya masing-masing. Baca lebih lanjut

By Pwk. PP. Persis Mesir Posted in Opini Dengan kaitkata

Ahmadiyyah & Dekonstruksi Agama

Ahmadiyyah dan Dekonstruksi Agama

Oleh Arif Rahman Hakim*

Tidak ayal lagi, ketika keyakinan sebuah bangsa berdialektika dengan keyakinan bangsa pendatang yang dianggap baru, maka akan melahirkan tiga sikap sebagai respon. Menerima, menolak, atau mengasimilasi kedua keyakinan tersebut. Seperti yang dilakukan oleh kaum Syu’ubiyyah (bangsa Persia yang masuk Islam di zaman pemerintahan Dinasti Abbasiyyah), walaupun mereka telah menganut agama Islam tetapi mereka tidak meninggalkan kepercayaan nenek moyang mereka (yang di antaranya mempercayai bahwa Kisra itu adalah titisan Tuhan yang tidak akan pernah salah). Bukan itu saja, mereka pun berusaha untuk menyebarkan paham mereka itu dengan menyebarkan hadits-hadits palsu di kalangan umat Islam ketika itu. Terlepas dari motif mereka dalam mesinkretisasi ajaran Islam dan Majusi, apakah hanya sekedar menganut paham pluralisme atau untuk menghancurkan umat Islam sebagai balas dendam kekalahan mereka? Yang jelas itu adalah sebagai contoh respon sikap dari sebuah bangsa ketika keyakinan yang mereka anut bergesekan dengan keyakinan pendatang.

Seperti itu juga yang terjadi di India, ketika masyarakat India yang telah menganut agama paganisme Hindu dan Budha berdialektika dengan ajaran Islam yang masuk melalui ekspansi Islam di bawah kekuasaan Sultan Mahmud Al-Ghaznawi. Ada yang menerimanya dengan masuk Islam, ada yang menolak karena toh Islam memberikan toleransi yang seluas-luasnya dalam beragama, dan ada pula yang mesinkretisasi ajaran Islam dengan Hindu sehingga menjadi ajaran baru. Seperti aliran Sikh contohnya, yang didirikan oleh Karunanak pada abad ke-15. Ia menggabungkan ajaran Tauhid dari Islam dan ajaran Hindu (yang di antaranya ialah keyakinan mengenai reinkarnasi dan pantheisme). Dan di abad ke-19 sinkretisasi ajaran Islam dan Hindu ini masih berlanjut sebagaimana yang dilakukan oleh Tanak, karena kesamaan ajaran tersebut banyak di antara pemeluk aliran Sikh yang memeluk agama baru ini.

Baca lebih lanjut

Kriminalitas Aliran Ahmadiyah

Kriminalitas Aliran Ahmadiyah
Arif Munandar Riswanto

Alumnus Universitas Al-Azhar Mesir dan Aktivis Muda PERSIS

Sebagai bangsa mayoritas Muslim, kita patut bahagia karena pemerintah akhirnya telah bertindak tegas terhadap Ahmadiyah. Rapat Bakorpakem (Badan Koordinasi Pengamat Aliran Kepercayaan Masyarakat) Kejaksaan Agung resmi mengeluarkan pernyataan bahwa Ahmadiyah adalah aliran terlarang di Indonesia. Ini artinya Ahmadiyah secara legal formal tidak boleh menjalankan aktivitas di Indonesia. Meskipun demikian, masih banyak cendekiawan yang pintar berbicara Islam justru mati-matian membela Ahmadiyah. Atas nama HAM, demokrasi, dan kebebasan beragama mereka membuat justifikasi ilmiyah untuk melindungi aliran tersebut. Padahal, yang mereka bela bukan pahlawan, tetapi pemberontak, pembuat kudeta, dan perusak kedaulatan masyarakat Muslim. Logika demokrasi pun mengajarkan bahwa hak mayoritas harus didahulukan dari hak minoritas. Jika hak mayoritas dan minoritas bertentangan, hak minoritas yang harus mengalah. Jika tidak demikian, berarti minoritas telah berbuat zalim terhadap mayoritas. Tentu saja itu tidak bisa diterima oleh logika demokrasi yang selalu mengedepankan suara mayoritas. Kita tidak perlu susah-payah memutar otak untuk mengetahui kekeliruan Ahmadiyah.

Teks-teks Alquran, As-Sunnah, serta Konsensus universal (ijma) umat Islam selama empat belas abad cukup menjadi argument kuat bahwa tidak ada nabi setelah Muhammad. Bahkan, setelah Nabi Muhammad wafat pun Abu Bakar dan para sahabat lainnya memerangi orang-orang yang mengaku sebagai nabi baru, seperti Musailimah, Sujjah, Al-Asadi, dan Al-‘Unsi. Dengan demikian, tidaklah salah jika Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa sesat bagi aliran apa pun yang mengaku ada nabi baru setelah Nabi Muhammad.

Baca lebih lanjut

By Pwk. PP. Persis Mesir Posted in Opini Dengan kaitkata