IKHLAS; Tanpanya amal hanya sia-sia…

Oleh : Sujang El-Sundawy*

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus” (QS. Al-Bayyinah: 5)

“Hanyasanya segala amal itu tergantung niatnya. Dan seseorang itu akan mendapatkan apa yang dia niatkan…” (HR. Imam Bukhari: 54)

Sahabat Muslim yang Semangat

Tentunya sahabat sudah sangat dekat bahkan sering mendengar kata ikhlas, kita sering mendengar orang menyebut-nyebut kata ikhlas tersebut. Tapi apakah sahabat sudah memahami dengan baik apa itu ikhlas?? So, dalam tulisan sederhana ini saya akan mencoba untuk berbagi pengetahuan mengenai ikhlas.

Sahabat Musalim yang Semangat Baca lebih lanjut

Polemik Seni

Polemik Seni

Oleh: Arif Munandar Riswanto*

BEBERAPA minggu ke belakang, umat Islam dibuat PR baru dengan dua kejadian besar—global dan lokal—yang berlatang belakang seni. Pertama; Pemuatan karikatur Nabi oleh Jyllands Posten dan sejumlah media massa-media massa Barat lainnya. Kedua; Rencana penerbitan majalah Playboy edisi Indonesia. Dua kejadian tersebut membangunkan kembali ingatan kita tentang relasi seni dan agama. Apakah seni bebas nilai (free value) atau tidak?

Berbicara seni ala Barat adalah berbicara batasan di dalam Islam. Dengan demikian, menurut Islam, seni tidak bebas nilai. Di dalam Islam, seni diikat oleh aturan yang telah final. Ikatan tersebut tidak linear dengan falsafah liberalisme yang menjadi landasan epistemologi Barat dalam memandang seni. Liberalisme mengajarkan bahwa manusia adalah pusat, segala-galanya, dan tidak diikat oleh wahyu (antroposentris). Tidak heran, jika ideologi-idelogi modern produk Barat semisal HAM, demokratisasi, gender equality, kebebasan berekspresi, dll. adalah ideologi-ideologi yang berpusat kepada manusia an sich.

Jadi, sebenarnya permasalahannnya telah sangat jelas. Meskipun dengan dalih seni, tetapi aurat yang diekspolitasi untuk mengeruk limpahan materi dan membangunkan syahwat pria tetaplah aurat dan hukumnya haram. Aurat dan penghinaan Nabi tetaplah aurat dan penghinaan. Ia tidak bisa dijustifikasi dengan dalih seni, keindahan, dan kebebasan. Kaidah fiqih mengajarkan bahwa menghukumi sesuatu adalah dengan substansi dan isi, bukan dengan kulit dan nama (al-‘ibrah bil maqashid wa al-musammayyat la mil mazhahir wa al-asma’/al-‘umur bi maqashidiha). Jika Islam melarang sesuatu, wasilah-wasilah yang mendukung pengharaman tersebut pun dilarang (an-nahyu `an syain nahyun bi wasa’ilihi/ ma yufdhi ila al-haram fa huwa al-haram). Hal-hal yang halal telah jelas, dan hal-hal yang haram telah jelas. Allah hanya menghalalkan hal-hal baik saja (thayyibat). Sedangkan hal-hal yang bisa mengakibatkan kehancuran, eksploitasi wanita, zina, dekadensi moral, kerusakan generasi, dll. adala` hal-hal yang diharamkan oleh-Nya (QS 7: 157).

Baca lebih lanjut

Mencari Satu Perubahan

Mencari Satu Perubahan (!)

Krisis multidimensi yang sampai kini belum juga pulih masih menyisakan problem besar bagi bangsa Indonesia: Kemiskinan. Menurut Biro Pusat Statistik, sampai tahun 2000 jumlah penduduk miskin sudah membengkak sampai 37,5 juta orang. Padahal tahun 1990 jumlah mereka hanya 27 juta jiwa dan bahkan sempat menurun pada 1996 menjadi 22 juta. Keadaan krisis ekonomi ini diperparah lagi dengan bencana alam, kekeringan, kebakaran hutan, kerusuhan, konflik sosial, dan penjarahan .

“KEAJAIBAN yang hilang”. Itulah istilah yang paling pantas diberikan bagi perekonomian Indonesia sepanjang tahun 1998. Setelah berpuluh-puluh tahun terbuai oleh pertumbuhan yang begitu mengagumkan, tahun 1998 ekonomi Indonesia mengalami kontraksi begitu hebat. Selama periode sembilan bulan pertama 1998, tak pelak lagi merupakan periode paling hiruk pikuk dalam perekonomian. Krisis yang sudah berjalan enam bulan selama tahun 1997,berkembang semakin buruk dalam tempo cepat. Dampak krisis pun mulai dirasakan secara nyata oleh masyarakat, dunia usaha.

Dana Moneter Internasional (IMF) mulai turun tangan sejak Oktober 1997, namun terbukti tidak bisa segera memperbaiki stabilitas ekonomi dan rupiah. Bahkan situasi seperti lepas kendali, bagai layang-layang yang putus talinya. Krisis ekonomi Indonesia bahkan tercatat sebagai yang terparah di Asia Tenggara.

Baca lebih lanjut

Mensiasati Muqarrar; Kiat-kiat Sukses Belajar

Mensiasati Muqarrar; Kiat-kiat Sukses Belajar[1]

By: Fahmi Salim, Lc.[2]

Prakata

Belajar dan mengecap pendidikan di lembaga Al-Azhar pada umumnya, mulai tingkat menengah sampai perguruan tinggi, bagi kebanyakan Muslim Indonesia dianggap sebagai karunia yang besar. Bukan hanya kebanggaan yang menyelimuti hati para orang tua untuk mengantarkan anaknya belajar di luar negeri, melainkan karena kesohoran Al-Azhar yang telah berhasil mencetak para kader umat; ulama, pemimpin rakyat, pemikir, pejuang kemerdekaan yang telah tersohor namanya di Indonesia dan dunia Islam pada umumnya, selama berabad-abad. Tapi penulis sempat “ngadenge” ada semacam trend baru yang mendorong para orang tua Muslim mengirim anaknya melanjutkan studi di Al-Azhar-Mesir. Trend bahwa kesohoran Azhar yang tak tertandingi universitas manapun di dunia, tidak asing lagi. Itu mah tahshilul hashil kang!, kata barudak Persis yang ngelotok ushul fiqih-nya. Tapi kenyataan biaya kuliah mulai dari SPP hingga akomodasi (sewa kos, makan, ongkos, beli diktat) di Indonesia yang mahal kepalang tanggung membuat para ortu melirik lembaga-lembaga pendidikan alternatif, kalo bisa murah meriah!! Akhirnya setelah timbang sana sini, Al-Azhar nampaknya cukup menggiurkan; biaya murah (tanpa SPP dan akomodasi 50 $ setara Rp.450.000,- per bulan) plus nama Azhar yang sudah bonafid di mana-mana. Bahkan kabarnya sang ortu juga mendengar informasi peluang beasiswa yang ditawarkan lembaga-lemabaga Islam di Mesir dan Negara Teluk. Lengkap sudah, murah-meriah plus peluang cari beasiswa!!

Membludaknya mahasiswa baru asal Indonesia yang katanya mencapai angka 1000 lebih tahun ini, pasti akan menimbulkan dampak-dampak baru secara demografis baik geo-polotik (bertambahnya jumlah anggota organisasi kekeluargaan; artinya tambah jatah TemusJ), sosial-ekonomi (cari rumah sewa yang cukup sulit dan mahal, serta bertambah antrenya thobur di Masyikhah Azhar untuk taqdim minhahJ), hingga miliu akademis dan intelektual. Artinya mau diarahkan ke mana kader umat yang seribu orang jumlahnya itu. Ini bukan qodliyyah sepele, asset yang sangat berharga seperti mutiara itu sudah selayaknya mendapat ri’ayah ijtima’iyah, iqtishadiyah, ilmiyyah hingga ruhiyah/ da’awiyyah. Dahulu pada akhir tahun 1997, ketika pertama kali saya menjinakkan diri di Bumi Kinanah ini, saya juga sempat bertanya kenapa jumlah mahasiswa Indonesia lebih minim dari Malaysia yang populasi Muslim-nya tak sepadat penduduk Jawa Timur tapi mampu mengkaderkan 5000 mahasiswanya di Azhar sementara kita tidak sampai 2000 mahasiswa, saat itu. Ternyata permasalahannya tidak sesederhana yang saya bayangkan. Tahun-tahun depan saya prediksikan jumlah camaba akan lebih besar lagi, hal ini menuntut kita terutama pihak yang di Mesir (KBRI cq. Kantor Dikbud dan Konsuler, DPP PPMI dan Kekeluargaan) dengan Indonesia (DEPLU, DEPAG, hingga PEMDA) perlu melakukan koordinasi intensif. Tanggung jawab pembinaan dan ri’ayah camaba itu tidak hanya dibebankan pada PPMI yang tak lebih seperti “Kuli” tahunan, tapi juga pihak Pemerintah Indonesia turut bertanggungjawab dari proses pendaftaran hingga mereka kelar kuliah dan akan ditempatkan di pos-pos mana saja. Oke lah saya tidak akan menelaah hal itu lebih jauh, dan untuk pemetaan job deskripsi, yang jelas saya akan menyampaikan pandangan tentang ‘Ri’ayah ‘Ilmiyyah Akademiyyah’ tanpa meremehkan aspek ri’ayah yang lain.

Baca lebih lanjut

Aliran Pemikiran Modern Dan Pengaruhnya Terhadap Studi Islam

ALIRAN PEMIKIRAN MODERN

DAN PENGARUHNYA TERHADAP STUDI ISLAM:

Sebuah Pengantar Singkat·

Oleh: Cecep Taufikurrohman

Pendahuluan

Bagi masyarakat Eropa, abad ke 15 Masehi adalah titik kulminasi yang menghantarkan mereka kepada kemajuan serta berlepas diri dari abad kegelapan (the dark age). Sebelum memasuki abad 15, masyarakat Eropa mengalami berbagai guncangan sejarah, dimana peradaban mereka sangat tertinggal dari anak benua lain, terutama jika dibandingkan dengan peradaban Islam yang saat itu sedang berada di titik kejayaannya.

Perubahan nasib masyarakat Eropa tersebut dimulai dengan terjadinya revolusi industri di Inggris dan Parncis, dimana geliat ilmu pengetahuan semakin mulai terlihat, yang ditandai dengan ditemukannya berbagai teknologi terapan yang menjadi cikal bakal kemajuan Eropa dan masyarakat dunia pada umumnya. Oleh sebab itu, tidak heran jika banyak yang menghitung perubahan di Eropa tersebut sebagai titik mula dimulainya abad modern.

Setahap demi setahap, kemajuan ilmu pengetahuan di Eropa tidak dapat dibendung dan sangat deras, karena selain memanfaatkan warisan keilmuan tradisi Yunani, Eropa juga belajar banyak dari peradaban Islam yang baru saja runtuh dan telah banyak menymbangkan perkembangan luar biasa dalam ilmu-ilmu eksakta.

Kemajuan di Eropa tersebut diiringi dengan semakin maraknya gerakan anti-agama (baca: Gereja). Setidaknya ada dua faktor yang telah menyebabkan masyarakat Eropa menjauhi agama: pertama, akibat trauma kemunduran yang sebelumnya dialami masyarakat Eropa, dimana gereja sangat mendominasi seluruh sisi kehidupan masyarakat. Kedua, perkembangan ilmu-ilmu empiris yang sangat pesat, telah banyak mementahkan doktrin-doktrin gereja yang banyak mengandung unsur irasionalitas.

Baca lebih lanjut

Menjadi Jurnalis Dengan Ilmu Hadits

Menjadi Jurnalis dengan Ilmu Hadits

Kita tidak bisa menutup mata, seliweran berita yang sekarang beredar banyak mengandung ketidakvalidan. Zaman sekarang, distorsi seolah-olah telah menjadi konsumsi masyarakat modern. Apalagi di era dunia dot com yang super canggih seperti sekarang, pemutarbalikan fakta adalah hal yang sangat mudah dilakukan. Dengan sangat mudah, setiap orang bisa saja membuat opini publik, terlepas dari benar atau tidaknya opini tersebut. Lihat misalnya setiap kali ada kasus bom, pasti beberapa menit kemudian sebuah situs internet yang berasal dari Jaringan Al-Qaedah langsung mengumunkan diri sebagai orang yang bertanggung jawab. Padahal, di zaman canggih seperti ini, setiap orang pasti bisa membuat pengakuan seperti itu.

Yang lebih naifnya, prilaku yang tidak argumentatif tersebut sering dilakukan oleh media massa-media massa yang mengatasnamakan “Islam”. Hanya karena “hawa nafsu”, tidak sedikit media massa “islami” yang jatuh terperosok ke dalam pemutarbalikan fakta yang sangat manipulatif. Entah hal itu dilakukan atas nama pembaruan, pencerahan, rekonstruksi, kontekstualisasi, dll.

Untuk memberantas distorsi berita seperti di atas, di zaman modern ini jurnalisme Islam harus menghidupkan etika quoting yang ada dalam ilmu hadis. Adalah Yusuf Qaradhawi salah seorang ulama yang dengan keras memandang perlu untuk melakukan hal tersebut di zaman modern ini.

Baca lebih lanjut

NKRI; Kontekstualisasi Khilafah Islamiyah

NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA:

Kontekstualisasi Khilafah Islamiyah

  1. Mukadimah

Kekuasaan Islam mulai ada ketika didirikannya negara Madinah dan diikrarkannya perjanjian Madinah menjadi bagian penting dalam membangun mekanisme hubungan-hubungan antara penduduk Madinah yang menjujung tinggi kedaulatan hukum (Islam) dengan berbagai macam agama dan etnis masyarakat yang ada waktu itu, seperti Yahudi dan Nasrani. Walaupun Piagam tersebut, pada tahap selanjutnya, diingkari oleh kaum Yahudi. Selanjutnya, kekuasaan Islam dipegang oleh para penggantinya (khalifah). Kekhalifahan ini berdiri tegak, walaupun berganti dinasti, dari abad VII – XX (1924). Ketika negera republic Indonesia berdiri, maka Negara yang berbentuk republik ini didirikan oleh tokoh-tokom Muslim waktu itu, dan selanjutnya setalah terpecah menjadi Negara Indonesia Serikat RIS) dikembalikan oleh Dr. M. Natsir, sebagai Perdana Mentri RI dari Masyumi, dengan yang disebut Mosi Natsir. Jadilah NKRI dan sampai sekarang tak mungkin dan tidak boleh diganggu gugat lagi. Inilah Negara Kesatuan sebagai Kontekstualisasi Khilafah karena Khilafah Islamiyah intinya adalah Negara kesatuan.

Khilafah amat berkaitan dengan kekuasaan, kepemimpinan, al-Imam al-A’zham, pemimpin besar. Pada konteks ini, kepemimpinan sesudah Nabi saw. yang fungsinya mengemban tugas-tugas kenabian, khilafat al-nubuwwah, yaitu, hirasat al-din dan siyasat al-dunya, menjaga agama dan mengatur urusan dunia”. Pengemban tugas khalifah sesudah Nabi, ada yang bergelar Khulafa Rasyidun, sebagai pengemban amanah kekuasaan yang dinilai baik oleh para sejarawan, sementara khalifah sesudahnya, walaupun dalam pelaksanaannya banyak mendukung berkembangnya dakwah dan peradaban Islam, tetapi dalam praktek kenegaraan dan ketatanegaraan mengandalkan keturunan, “semi kerajaan”, sebagaimana terjadi sampai kekuasaan Turki Usmani. Sementara itu, gelar kekuasaan berbeda-beda, seperti sultan-sultan dan amir-amir di negara-negara kecil. Masalahnya sekarang bagaimana konsep khilafah dalam Islam dan bagaimana pula keberadaan negara-negara nasional sekarang dikaitkaan dengan konsep khilafah masa silam.

Baca lebih lanjut

Pemberdayaan Zakat

Dr. H. Ahmad Hasan Ridwan, M.Ag.

Salah satu sifat yang melekat pada diri Rasulullah saw. adalah sifat fathonah (cerdas). Kecerdasan rasulullah sudah diakui dan diyakini oleh seluruh umat Islam. Kecerdasan Rasulullah telah membuktikan pencapaian da’wah Islam yang dimaknai sebagai keberhasilan global (rahmatan lil alamin). Kecerdasan Rasulullah patut diteladani dalam konteks sekarang. Kecerdasan dalam mengelola suatu lembaga pengelola ZIS mutlak diperlukan, dan kecerdasan yang diperlukan oleh amil untuk suatu tugas pendayagunaan ZIS menjadi cerita menarik.

Kecerdasan sangat dibutuhkan oleh amil untuk mewujudkan ide-ide segar, ditopang oleh kreativitas dan inovasi. Kedua aspek tersebut diperlukan guna menemukan kekuatan positif. Upaya mendayagunakan dana ZIS merupakan langkah strategis dan menjadi garda depan dalam mengimplementasikan salah satu visi lembaga pengelola ZIS yaitu profesional. Profesional berarti kemampuan (competence) hasil dari akumulasi pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill), bisa melakukan (ability) yang dilengkapi dengan pengalaman (experience).

Kemampuan profesional dalam mendayagunakan dana zis, artinya bagaimana upaya mendayagunakan menjadi suatu kenyataan dalam bentuk amal shalih, “…barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya” (Q.S. al-kahfi:110), sehingga para amil bertindak sebagai orang-orang yang mampu membuat sesuatu menjadi kenyataan (they, who make thing happened). para amil mesti berangkat dari pemikiran outside in (dari luar ke dalam) dari pada pemikiran inside out (dari dalam ke luar). Jadi, langkah strategis yang dapat dilakukan adalah memulai untuk mengidentifikasi problem mendasar (problem root) umat Islam. Penemuan akar masalah paling tidak dapat dicapai melalui kemampuan diri semacam “radar” untuk melihat trend kebutuhan mendasar masyarakat, yang kemudian diartikulasikan menjadi suatu produk yang mampu memenuhi harapan dan menyelesaikan masalah. Dengan demikian, upaya mendayagunakan dana ZIS mesti melahirkan nilai (value) yang bermanfaat yaitu berdaya dan berguna.

Baca lebih lanjut

By Pwk. PP. Persis Mesir Posted in Refleksi Dengan kaitkata

Perbedaan Tingkatan Orang Yang Iman Dalam Amal

Oleh : KH. Ikin Shodikin

Dari Abi Sa’id Al-Khudri r.a. dan Nabi SAW bersabda :”Ahli surga akan masuk surga dan ahli neraka akan masuk neraka. Kemudian Allah Ta’ala berfirman :” Keluarkanlah oleh kamu (Malaikat ) orang yang dalam hatinya ada keimanan seberat biji sawi”. Kemudian mereka dikeluarkan darinya sungguh telah menjadi hitam. Kemudian dilemparkan ke dalam sungai “Al-Hayat” , maka mereka bermunculan darinya seperti munculnya (tumbuh) biji-bijian dipinggir sungai. Apakah kamu tidak melihat bahwasanya dia muncul kekuning-kuningan yang menarik penglihatan (yang melihatnya) “,

Pada hadits ini dijelaskan bahwa pada hari kiamat nanti ketika setiap orang telah masuk ketempatnya masing-masing, di surga dan di neraka. Maka di antara orang beriman ada yang kadar dan nilai imannya tidak memenuhi syarat untuk menjadi ahli surga. Berarti mereka termasuk yang diungkapkan dalam Alquran “Khaffat mawazinuhu“, ringan timbangan amal baiknya. Oleh karenanya adzabunnar ini merupakan kaffarah , penghapus dosa sehingga pada waktunya dia memenuhi syarat ahli surga dan mereka mendapat sebutan “Aljahannaniyyun “.

Hadits ini mengungkapkan perbedaan tingkatan’ahli iman dalam amalnya, juga menunjukkan keutamaan iman, bahwa sekecil dan seberat apapun keimanan itu akan bermanfaat bagi pemiliknya. Hadits ini pun menguatkan penjelasan yang telah lalu. bahwa amal ” Baik ” yang dilakukan oleh seseorang tidaklah dinilai disisi Allah, seandainya amal baik itu tidak ada sandaran pokok yaitu keimanan. Oleh karenanya jelas sekali bahwa pengertian adanya hisaban itu hanya diberlakukan kepada orang yang ada dasar keimanan.

Baca lebih lanjut

Insan Rabbani

Oleh: Drs.H.Dedeng Rosidin.Mag

Kiita diperintah Allah SWT untuk menjadi Insan Rabbani’. Hal ini tertuang dalam firman Allah, Ali Imran ; 79 كونوا ربّانيّين artinya jadilah kamu (Insan-insan) Rabbani..

1. Pengertian bahasa

1). Insan

Kata إنسان ialah bentuk mufrad / untuk tunggal, sama dengan katab إنس bentuk jamaknya: الناس seperti dalam An-Nas; ayat 1, أناس dalam al-Baqarah, 60, إنسيّا dalam surat Maryam; 26 dan أناسيّ dalam surat al-Furqan, 49. Kata إنسان digolongkan kepada jenis laki-laki / mudzakar, dan kadang digolongkan kepada jenis perempuan / muannast yang menunjukan pada arti ‘ taifah’ / kelompok masyarakat’

Baca lebih lanjut

By Pwk. PP. Persis Mesir Posted in Refleksi Dengan kaitkata