Selayang Pandang Tentang Fiqih Islam*

Oleh Arif Rahman Hakim**

Pengertian Fiqih

Fiqih secara etimologi (bahasa Arab) memiliki arti pemahaman (al-fahm). Oleh karena itu orang-orang Arab (sebelum islam) menggunakan kata faqîh untuk seorang cendikiawan yang mempunyai ilmu yang luas.
Selain itu, masih secara bahasa fiqih berarti pengetahuan (al-‘ilm). Hal tersebut bisa kita lihat penggunaannya pada istilah fiqh al-lughah yang mempunyai makna hampir sama dengan ‘ilmu al-lughah karena isinya sama-sama membahas tentang kaidah-kaidah dan aturan bahasa Arab.
Adapun secara terminologi makna fiqih mengalami perubahan dari masa ke masa. Dari maknanya yang begitu luas dan mencakup berbagai objek seiring dengan perubahan zaman maknanya terus menyempit dan menjadi suatu disiplin ilmu yang khusus, tidak ada bedanya dengan filsafat yang pada akhirnya berubah menjadi salah satu disiplin ilmu tertentu. Baca lebih lanjut

Iklan

Kedudukan Waris Beda Agama

A. Pendahuluan

Hubungan nasab pada setiap kehidupan, merupakan mata rantai kelanjutan generasi dan keturunan yang satu terhadap genersi yang akan datang. Kelanjutan generasi dan ketrununan tersebut memerlukan kesiapan dan perbekalan, baik materi maupun immateri, sepertu ilmu pengetahauan dan akhlak mulia, sehingga mampu esksis pada zaman genberasi itu berada. Kemampuan kemauan memiliki harta bekal yang memadai adalah selalu dicita-citakan setiap orang dan hiaszan hidup manusia karena generasi yang cukup memiliki perbekalan hidup lebih baik dari yang meminta-minta, sebagaimana disebutkan Alquran, al-Nisa: 9, “Dan harus takut orang-orang yang seandainya meninggalkan ketuturunan (anak-anak) di belakangnya lemah. Maka bertakwalah kepada Allah dan katakanlah kapada meraka perkataan yang benar.” Dalam hadis disebutkan, ketika S’ad bin Abi Waqash akan mensadaqahkan separo harta dan ditolak oleh Nabi, saw dengan alasan, “Sesungguhnya engkau meninggalkan ahli warsimu dalam keadaan kaya, lebih baik daripada engkau tinggalkan mereka dalam keadaan pada, meminta-minta pada manusia. “ (HR. Bukhari dan Muslim).

Namun, kepemilikan atau pindahnya hak milik dalam Islam sudah diatur sedemikain rupa, mungkin dengan melalui kewarisan, jual-beli, hadiyah, hibbah, wakaf, sadaqh, jariah, wasiat, dan cara-cara lain yang halal, seperti pinjaman dan gadai, walaupun yang terakhir ini bersifat sementara. Di luar itu, akan menjadi pertanyaan besar. Karena itu, pencurian, ghasab, dan risywah dilarang. Kepemilikan atau pindah hak milik lewwat warisan merupakan bagian penting. Hubungan kewarisan antar keturununan ternyata tidak mudah dan tidak begitu saja dapat dilakukan, baik yang berdasarkan kebudayaan tertntu maupun agama. Di kalangan Hindu, (Mazhab Bali khususnya) anak perempuan tidak menerima warisan, sebagaimana masyarakat Barat (Inggris) beberapa waktu lalu, sementara di masyarakat “Padang- Muslim”, justru laki-laki tidak menerimanya. Masyarakat Jawa, lain lagi. Ahli waris dibagi rata, gono-gini, dengan tidak membedakan anak laki-laki dan perempuan. Demikianlah kewarisan dengan standar kebudayaan dan paradigma antroposentris (manusia sdebsagai pusat segalanya).

Baca lebih lanjut

By Pwk. PP. Persis Mesir Posted in Fiqh Dengan kaitkata

Mashalihul Mursalah; Implementasi Maqashid Syari’ah

Mashalihul Mursalah; Implementasi Maqâshid Syarî’ah*

Oleh: Agnan Nasution**

Muqaddimah

Sesuai dengan karakteristiknya, Islam merupakan agama yang komprehensif dan universal. Legitimasi tersebut lahir karena ajaran Islam mencakup berbagai aspek, baik itu aspek ketuhanan (theology) maupun aspek kemanusiaan (humanism). Islam bukan merupakan agama arogan/egosentris yang hanya mengharuskan setiap pemeluknya untuk mengagung-agungkan penciptanya saja, tetapi lebih jauh lagi justru Islam hadir untuk mengangkat harkat dan martabat manusia. Sebagai studi kasus, bagaimana sosio-kultural pada zaman jahiliyah yang memperlakukan orang-orang Islam dengan berbagai siksaan karena tidak mau mengikuti ajaran mereka, memenjarakan hak-haknya dan tidak memberikan sedikitpun ruang kepada mereka untuk melaksanakan keyakinannya serta keadilan pada waktu itu merupakan harga yang sangat mahal. Maka setelah Allah mengutus rosulullah sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan terhadap manusia, keadaanpun menjadi berbeda karena Islam memberikan solusi terhadap realitas empirik pada waktu itu yang penuh dengan berbagai ketidak adilan.

Berbagai solusi itu bisa kita terjemahkan melalui syari’atnya yang sarat dengan nilai-nilai kemanusiaan, karena agama Islam merupakan agama yang mengakomodir pelbagai kebutuhan manusia serta tidak memberikan kesulitan bagi semua pengikutnya dalam melarapkan hukum-hukmnya sebagaimana disinyalir dalam Al-Qur’an وماجعل عليكم في الدين من حرج (dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama kesempitan)[1]. Dengan kata lain, Islam menghendaki terciptanya kemaslahatan seluruh umat manusia tak terkecuali hanya yang membedakan mungkin dari sisi konsekuensi (balasan) dan perlakuan terhadap orang-orang di luar Islam.

Baca lebih lanjut