Syaikh Sayyed Muhammad Rasyid Ridla

Syaikh Sayyed Muhammad Rasyid Ridla*

Upaya mengembalikan kepada manhaj Salaf

Oleh : Anton H. Sultonan**

A. Pendahuluan

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kepada kita hidayah dan inayah-Nya. Shalawat dan salam kami haturkan kepada Nabi akhir zaman, Nabi Muhammad SAW yang telah mengantarkan umat ini dari alam kesesatan ke alam yang penuh dengan kebenaran, barakah dan petunjuk yang nyata. Juga tak lupa kepada keluarganya, para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in sampai kepada umat yang senantiasa meneruskan risalah-rislah Ilahi.

Berbicara masalah mufassir adalah sejauhmana keuletan dan ketajaman berfikir seorang syaikh (ulama) dalam memahami ayat-ayat al-qur’an dilihat dari berbagai sudut pandang pan ilmu, apakah kefakihan dia dalam menafsirkan al-qur’an fakih dalam ilmu hadits, hukum (syari’ah), literatur (balaghah), mantiq, ushul fikih dan ilmu-ilmu agama lainnya. Maka sosok kali ini mengetengahkan seorang syaikh yang mengedepankan tafsir bil matsur (manqul) daripada ma’qul (akal). Karena beliau begitu murni dalam menggunakan manhaj salafus shaleh dengan banyak membaca dan memahmi gaya literatur mufasir-mufassir yang lain seperti mufassir Ibnu Katsir, al-Qurtubi dan mufassir yang sebelum beliau.

Selintas kita berfikir, bahwa apa yang ada dibenak kita dapat mengatakan begitu berharga dan berartinya seorang syaikh dalam meneruskan risalah-risalah Ilahi melalui dakwah lewat lisan maupun tulisan yang di usahakannya sampai sosok seorang mufassir sekaligus mujaddid kali ini mampu memperjuangkan risalah Ilahi dalam bentuk apapun. Bagaimanpun kondisi dan situasi saat itu dibawah kekuasaan Turki Usmani yaitu Sultan Abdul Hamid Khan dimana pemerintahannya sangat terkenal diktatornya (keras). Dan konteks mufassir kali ini barangkali akan membahas sejauhmana riwayat hidup dan perjalanannya, pemikiran-pemikirannya, karakteristiknya, metode penafsiran, karya-karyanya dan akhir hayat beliau.

Baca lebih lanjut

Iklan

Ibn Katsir & Tafsir

Ibn Katsir dan Tafsir;

Mengkaji Sosok Ibn Kasir dan Metode Tafsir[1]

Oleh Pardan S. Sambas[2]

A. Pendahuluan

secara garis besar, para ulama membagi kepada empat jenis tafsir. Pertama, tafsir tahlîlî, kedua, tafsir ijmâlî. Ketiga, tafsir muqârin. Keempat, tafsir mawdlu’î. Husus untuk jenis tafsir yang pertama, ada beberapa macam yang tercakup di dalamnya. Seperti, tafsir bil ma`tsûr, tafsir bi al-ra`yi, tafsir al-shufi, tafsir alfiqh, tafsir al-falsafi, tafsir al-‘ilm, dan al-adabi alijtima’i. Pembagian ini sebagaimana yang dituturkan prof. dr. abdul hay al-farmâwî, dalam bukunya ‘muqadimah fî ‘ilmi al-tafsîr’.

Dari sekian banyak jenis tafsir, tentu berbeda pula metode dalam penafsiran dan penyusunan karyanya. Hamper semua pengarang Tafsir tahlili, banyak dilakukan oleh para mufassir klasik. Begitu juga untuk jenis ke dua dan ketiga. Sementara untuk jenis yang terakhir, metode tafsir ini baru dilakukan sekitar abad 20-an.

Diantara para pengarang tafsir jenis pertama ialah imam al-hafizh ibn katsir al-qursyi al-damsyiqi. Ia adalah seorang mufassir yang menggunakan metode tafsir tahlili bi al-ma`tsur.

Untuk itu, dalam kesempatan ini penulis mencoba untuk mengetahui lebih jauh mengenai sosok ibn katsir dan metode tafsirnya. Supaya tidak terlalu melebar, penulis mencoba membatasi pembahasan ini dalam beberapa point. Pertama, tentang biografi dan perjalanan hidup beliau dalam mencari ilmu, dengan sedikit menyinggung tentang latar belakang keluarga beliau. Kedua tentang metode tafsirnya. Pembahsan ini mencakup tentang metode yang ia lakukan, referensi serta keistimewaan dalam tafsirnya.

Baca lebih lanjut

Al Imam Al Zarkasyi

AL-IMAM AL-ZARKASYI ( (745 – 794)

Oleh Izatullah Sudarmin Anwar, Lc.

Abad VIII, adalah abad yang sangat menyeramkan untuk diceritakan. Pada abad ini, cobaan banyak menimpa umat Islam, dari langit dan dari bumi, dari luar dan dari dalam tubuh umat Islam itu sendiri. Ketika langit tidak memberikan air hujannya, jutaan hektar ladang dan sawahpun kekeringan. Umat Islam tertimpa kelaparan yang teramat sangat. Demi mempertahankan hidup, setiap negara bagian melakukan pemberontakan yang menjadikan negara Islam yang dulunya agung dan besar menjadi negara-negara kecil. Melihat keadaan yang seperti ini pasukan salibis kembali datang menyerang dan memporak-porandakan kedaulatan negara Islam sampai bisa masuk ke Alexandria. Menyaksikan kenistaan yang menimpa umat Islam pada saat itu langit pun menangis. Tangis nya mengundang tanah longsor, gempa bumi dan wabah penyakit dimana-mana terutama wabah kolera yang banyak merenggut korban jiwa.2

Sejarah mesir mencatat;3pada tahun 702 H. terjadi gempa bumi hebat terutama di Alexandria. Pada tahun 720 H. penyakit mendatangi hampir seluruh orang yang tinggal di Mesir. Pada tahun 721 H. kebakaran besar memporak-porandakan ibu kota Mesir (kairo) dan melumat habis mesjid Ibn Thalun. Tahun 724 H. pemerintah mengeluarkan undang-undang penutupan tempat-tempat hiburan. Keluarnya undang-undang ini menggambarkan betapa rusaknya moral masyarakat pada saat itu.

Pada tahun 744 H gubernur Kairo mengadakan razia ke semua tempat yang diperkirakan di sana tempat penimbunan minuman keras dan lokalisasi gelap. Dan tahun 761 H. segenap tanah daratan Mesir terserang wabah penyakit.

Pada tahun 767 H. kaum salibis menduduki Alexandria yang banyak memakan korban dan tawanan dari kaum muslimin. Tahun 776 H. krisis bahan pangan terjadi, barang hilang dari pasaran, harga melambung tinggi. Begitu juga pada tahun 783 H. penyakit kolera mulai merajalela, dan pada tahun 784 H. krisis bahan pangan dan obat-obatan terulang kembali, dengan demikian hargapun kembali tak terjangkau.

Persatuan dan kesatuan yang menjadi simbol umat sudah tidak dipakai lagi, seperti baju usang yang dijadikan keset dan kain pel. Masyarakat hidup berkasta-kasta, yang miskin semakin miskin dan yang kaya selalu dihantui ketakutan, bimbang dengan harta dan tahta.

Para sejarawan mencatat adanya enam kasta yang tumbuh pada saat itu.4

Baca lebih lanjut

Imam Al Thabary

Imam Al-Thabary*

(Ulasan singkat kisah hidup dan buah karyanya)

Oleh : Yandi Rahmayandi1

Iftitâh

Seorang Orientalis Jerman, Sprenger setelah membaca kitab Ishobah karya Ibnu Hajar, mengatakan,”Tidak pernah ditemui satu umat pun yang pernah hidup dimuka bumi hingga kini memiliki daftar nama tokoh-tokoh yang dapat kita baca kehidupannya, sejumlah 500.000 orang selain umat Islam.”2

Pengakuan tersebut sebetulnya ditujukan atas pembuktian Validitas dan orisinalitas hadits melalui sanad yang merupakan hasil ketelitian para Muhaditsin yang telah membuat kaedah-kaedah kritik sanad yang tiada duanya.

Namun dari ungkapan tersebut kita ambil satu pelajaran atau sekedar mengingatkan, betapa kita umat Islam telah Allah Swt beri keutamaan dalam berbagai hal, sebagai bukti keabadian dan kebenaran risalah Islam yang belum dan tidak akan ternodai kemurniannya sampai kiamat.

Senantiasa muncul dan banyaknya para ulama dan para tokoh Islam merupakan salah satu bukti dari keutamaan tersebut, melalui tangan mereka risalah ini terjaga dan berlanjut ,dari masa ke masa , dari satu generasi ke generasi selanjutnya.

Persoalannya sekarang adalah kadang kita hanya bisa berbangga dengan keluarbiasaan dan kehebatan para pendahulu, tanpa mau berbuat dan mencontoh seperti mereka, apalagi mampu melebihi nya. Padahal kita tahu dan sadar bahwa mereka adalah para manusia pilihan dengan karya-karya besarnya telah membawa umat ini kepada kemajuan.

Baca lebih lanjut

Al Fakhru Al-Razi’

Al-Fakhru Al-Râzî:

Upaya mengenal sosok ulama (mufassir) sekaligus ilmuwan (mutakallim)*

Oleh Arif Rahman Hakim*

“…Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.

Pendahuluan

Sebagai salah satu khazanah ilmu pengetahuan islam, tafsir menduduki posisi yang sangat urgen sekali. Pasalnya, ia memiliki fungsi untuk mempelajari kata demi kata dan susunan kalimat ayat-ayat al-Qur’an guna mengetahui maksud Allah dalam memfirmankan ayat-ayat-Nya.[1] Pemahaman terhadap maksud tersebut berimbas kepada pengaplikasian ayat-ayat al-Qur’an —terutama ayat-ayat tentang hukum. Jika salah dalam memahami maksud dari suatu ayat maka tentu akan mengakibatkan salahnya pengaplikasian dari ayat tersebut, dan tentu saja itu adalah kesalahan yang fatal.

Berdasarkan kepada dasar yang dijadikan patokan dalam menafsirkan al-Qur’an, di dalam istilah ilmu tafsir, tafsir dibagi menjadi dua macam yaitu tafsir bi al-ma’tsur dan tafsir bi al-ra’yi. Tafsir bi al-ma’tsur berdasarkan kepada, pertama, ayat al-Qur’an lainnya yang semakna dan mengandung penjelasan dari ayat yang dimaksud. Kedua, berdasarkan kepada hadits-hadits Nabi Saw., shahabat dan tabi’in (generasi umat islam awal) yang terjamin ke-shahîh-annya.[2]

Sedangkan tafsir bi al-ra’yi, tafsir ini berdasarkan kepada ijtihad seorang mufassir dalam menafsirkan suatu ayat.[3] Dan tentu saja ijtihad tersebut bertopang kepada ilmu-ilmu yang bisa dijadikan pijakan dalam menafsirkan al-Qur’an, seperti ilmu bahasa Arab misalnya yang meliputi nahwu, sharf, balaghah dan lain sebagainya.[4] Selain itu juga mufassir tersebut haruslah memenuhi beberapa syarat tertentu yang membuatnya layak dan pantas untuk menafsirkan al-Qur’an dengan ijtihadnya.[5]

Baca lebih lanjut